Jepang-AS Pamerkan Rudal Jarak Jauh di Latihan Militer Keen Sword 2026

- Jepang dan AS menggelar Keen Sword 2026 selama 19-29 Oktober di 33 prefektur, melibatkan 57 ribu personel serta tujuh negara mitra untuk latihan darat, laut, udara, dan pertahanan rudal.
- SDF untuk pertama kalinya menampilkan peluncur rudal antikapal Tipe-25 berjangkauan sekitar 1.000 kilometer, dengan simulasi prosedur operasional dan integrasi data penargetan bersama militer AS.
- Pengerahan rudal mencerminkan kemampuan serangan balasan Jepang menghadapi China dan Korea Utara, sementara latihan juga dibayangi sensitivitas sosial di Okinawa terkait insiden personel marinir AS.
Jakarta, IDN Times - Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang dan militer Amerika Serikat (AS) resmi menggelar latihan lapangan berskala besar bertajuk 'Keen Sword 2026' di 33 prefektur di seluruh Jepang. Latihan juga memanfaatkan fasilitas militer, 7 bandara, dan 12 pelabuhan. Kegiatan ini berlangsung selama 11 hari, mulai 19-29 Oktober 2026.
Keen Sword melibatkan sekitar 57 ribu personel gabungan yang terdiri dari 45 ribu personel Jepang dan 12 ribu tentara AS. Tujuh negara mitra, termasuk Australia, Kanada, Prancis, dan Jerman, turut berpartisipasi dalam latihan tersebut.
Agenda pertahanan besar-besaran ini mencakup operasi pertempuran darat, laut, udara, pertahanan rudal, hingga simulasi pendaratan untuk memperkuat strategi pencegahan regional. Dalam latihan ini, Jepang juga mengerahkan rudal jarak jauh baru buatan dalam negeri. Langkah ini mencerminkan upaya negara tersebut untuk memperkuat kemampuan serangan balasan di tengah meningkatnya tantangan keamanan di kawasan Asia Timur.
1. Rudal Tipe-25 dikerahkan untuk pertama kalinya

Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Maciej Ruminkiewicz) NHK News melaporkan, untuk pertama kalinya dalam latihan gabungan pada Minggu (25/10/2026), SDF menampilkan peluncur rudal berpemandu permukaan-ke-kapal jarak jauh Tipe-25 ke publik. Kendaraan pembawa rudal tersebut dipindahkan dari Kamp Kengun di Prefektur Kumamoto ke Area Latihan Onohara yang terletak di perbatasan Prefektur Nagasaki dan Saga.
Rudal buatan domestik ini memiliki jangkauan terbang sekitar 1.000 kilometer dan dirancang untuk ditembakkan dari peluncur berbasis kendaraan. Walaupun tidak ada penembakan langsung yang dilakukan, simulasi di lapangan berhasil mengonfirmasi prosedur operasional, serta integrasi data penargetan antara pasukan Jepang dan militer AS. Dilaporkan, kemampuannya menjangkau sejumlah wilayah pesisir daratan China menjadikan sistem tersebut bagian penting dari penguatan pertahanan Jepang.
2. Perubahan doktrin pertahanan Jepang dan kemampuan serangan balasan

Ilustrasi latihan militer. (pexels.com/Art Guzman) Dilansir Kyodo News, pengerahan rudal Tipe-25 menandai pergeseran drastis kebijakan keamanan pascaperang Jepang, yang sebelumnya berorientasi pada pertahanan diri di bawah konstitusi pasifis. Langkah ini direalisasikan menyusul pembaruan dokumen pertahanan tahun 2022 yang memberikan wewenang bagi Tokyo untuk memiliki kapabilitas serangan balik.
Pemerintah Jepang menyatakan bahwa rudal jarak jauh ini dapat digunakan, jika terdeteksi indikasi bahwa pihak musuh telah memulai serangan, bahkan sebelum kerusakan terjadi di wilayah Jepang. Kendati demikian, kebijakan ini menuai perdebatan karena kekhawatiran bahwa kesalahan analisis intelijen dapat memicu eskalasi militer dan menimbulkan persoalan hukum internasional.
3. Strategi regional menghadapi eskalasi militer China dan Korea Utara
Presiden China Xi Jinping (kanan) saat menyambut Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, di Beijing pada 4 September 2025. (x.com/SpoxCHN_MaoNing) Latihan Keen Sword diselenggarakan sebagai respons langsung atas meningkatnya agresivitas militer China, serta ancaman nuklir dan rudal yang terus berkembang dari Korea Utara. Upacara pembukaan latihan bahkan dilangsungkan di Pulau Ishigaki, wilayah strategis yang berjarak sekitar 270 kilometer dari Taiwan.
Melalui komando Operasi Gabungan SDF, para petinggi militer menegaskan pentingnya kolaborasi proaktif antarnegara sekutu demi mencegah krisis sejak dini. Penggunaan informasi dari milier AS juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan koordinasi pengoperasian sistem persenjataan jarak jauh Jepang. Integrasi sistem pertahanan ini sekaligus mempererat kerja sama strategis Tokyo-Washington dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
4. Tantangan sosial dan sensitivitas pihak lokal di Okinawa

Potret pasukan marinir AS yang berada di Camp Kinser, Okinawa, Jepang. (x.com/OkinawaMarines) Di balik suksesnya koordinasi militer tingkat tinggi, pelaksanaan latihan ini dibayangi oleh ketegangan sosial menyusul insiden kriminalitas yang melibatkan personel marinir AS di Okinawa. Situasi tersebut memicu kekhawatiran kembalinya gelombang sentimen anti-pangkalan militer asing di kalangan warga setempat.
Sebagai langkah antisipasi guna meredam reaksi publik, Kementerian Pertahanan Jepang memutuskan untuk menutup akses media pada upacara pembukaan resmi. Pemerintah berupaya menyeimbangkan kebutuhan aliansi pertahanan strategis internasional dengan penjagaan stabilitas sosial di tengah masyarakat lokal, dikutip dari Mainichi.























