Lula Terpilih Lagi Jadi Presiden Brasil, Prabowo Ucapkan Selamat

Prabowo Subianto menyampaikan selamat kepada Luiz Inácio Lula da Silva atas kemenangan bersejarahnya sebagai Presiden Brasil.
Prabowo berharap Indonesia dan Brasil memperkuat kemitraan strategis serta persahabatan kedua negara.
Lula membalikkan hasil putaran pertama dan menang dengan 51,75 persen suara setelah angka abstain menurun.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada Luiz Inácio Lula da Silva, yang terpilih kembali sebagai Presiden Brasil.
Ucapan itu disampaikan melalui akun X Prabowo. Ia mengungkapkannya menggunakan bahasa Inggris dan Brasil.
“Selamat kepada sahabat sekaligus rekan seperjuangan saya, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva (@LulaOficial), atas kemenangan bersejarahnya untuk keempat kalinya sebagai Presiden Republik Federasi Brasil,” ujar Prabowo dalam unggahannya, Rabu (28/10/2026).
1. Lula dipercaya rakyat Brasil

Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Planalto, Brasilia, Brasil, Rabu (9/7/2025) (dok. BPMI Sekretariat Presiden) Prabowo mengatakan, kemenangan Lula merupakan kepercayaan rakyat Brasil kepadanya. Prabowo mendoakan agar Lula diberikan kekuatan dan kemampuan dalam memimpin Brasil.
“Saya berharap beliau senantiasa dianugerahi kekuatan dan kesehatan untuk memimpin kemajuan rakyat Brasil di masa depan,” ucap dia.
2. Prabowo harap Brasil dan Indonesia terus perkuat mitra

Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Planalto, Brasilia, Brasil, Rabu (9/7/2025) (dok. BPMI Sekretariat Presiden) Dalam kesempatan itu, prabowo berharap, Indonesia dan Brasil memperkuat kerja sama.
“Di tengah berbagai tantangan besar yang kita hadapi saat ini, mari kita memperkuat kemitraan strategis dan mewujudkan persahabatan antara kedua bangsa kita,” kata dia.
3. Kemenangan Lula

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Republik Federasi Brasil Luiz Inácio Lula da Silva. (YouTube/Sekretariat Presiden) Diketahui, Lula berhasil membalikkan keadaan dalam pemilihan presiden dan mengalahkan rivalnya dari sayap kanan, Flavio Bolsonaro.
Dengan hampir 99 persen suara telah dihitung, Lula memperoleh 51,75 persen suara, sementara Flavio yang berusia 45 tahun meraih 48,25 persen. Kemenangan tersebut mengantarkan Lula ke masa jabatan keempatnya sebagai presiden Brasil.
Suasana kemenangan terlihat di Sao Paulo, tempat Lula mengikuti penghitungan suara. Perayaan juga berlangsung di hotel tempat dia memantau hasil pemilihan.
Kemenangan ini menjadi kebangkitan politik yang dramatis bagi Lula. Pada putaran pertama pemilihan presiden yang berlangsung pada awal Oktober, ia justru kalah tipis dari Flavio Bolsonaro. Hasil tersebut sempat membuat masa depan politik Lula diragukan dan memicu kegelisahan di kalangan pendukung progresif Brasil selama tiga pekan.
Kemenangan Lula mencetak sejarah baru dalam politik Brasil. Sejak negara tersebut kembali menjadi demokrasi pada 1980-an, belum pernah kandidat yang menempati posisi kedua pada putaran pertama berhasil memenangkan putaran kedua pemilihan presiden.
Lula berhasil membalikkan keadaan setelah selisih suara pada putaran pertama mencapai 2,2 juta suara. Dalam pemungutan suara kali ini, ia justru unggul 4,3 juta suara dari Flavio Bolsonaro.
Salah satu faktor yang membantu Lula adalah meningkatnya partisipasi pemilih. Pada putaran pertama, angka abstain mencapai rekor 21,08 persen. Kondisi tersebut dinilai lebih banyak memengaruhi pemilih Lula karena mereka cenderung tinggal lebih jauh dari tempat pemungutan suara.
Pada putaran kedua, angka abstain turun menjadi 19,21 persen. Penurunan tersebut membantu Lula memperbesar dukungan dan mengamankan kemenangan.
Reginaldo Lopes, salah satu sekutu utama Lula, menyambut hasil tersebut dengan penuh sukacita. Ia mengatakan, kemenangan itu merupakan pesan Brasil kepada dunia mengenai penolakan terhadap kelompok ekstrem kanan.
“Saya merasa luar biasa. Ini adalah Brasil yang memberi tahu dunia bahwa ekstrem kanan bersifat fasis, bahwa ekstrem kanan menentang orang kulit hitam, orang miskin, negara, dan kaum gay,” kata Lopes kepada The Guardian, Senin (26/10/2026).






















