Italia Desak Israel Bebaskan 5 Aktivis Perempuan di Tepi Barat
- Italia mendesak Israel segera membebaskan dan memulangkan lima aktivis kemanusiaan perempuan Italia yang ditahan di Tepi Barat saat mendampingi petani Palestina memanen zaitun.
- Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menyatakan para relawan tidak melakukan kejahatan; diplomat Italia berkoordinasi dengan Israel untuk memastikan keselamatan dan mempercepat kepulangan mereka.
- Israel menyebut aktivis memasuki zona militer tertutup, sementara insiden ini menyoroti risiko yang dihadapi petani Palestina dan relawan selama panen zaitun di Area C.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Italia pada Jumat (23/10/2026), resmi mendesak pembebasan segera lima aktivis kemanusiaan perempuan asal negaranya yang ditahan aparat keamanan Israel di Tepi Barat. Penahanan tersebut terjadi saat para relawan internasional itu tengah mendampingi petani Palestina memanen buah zaitun.
Kementerian Luar Negeri Italia langsung meminta penjelasan resmi dan menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah Israel. Langkah ini ditempuh untuk memastikan keselamatan kelima aktivis tersebut sekaligus mempercepat proses pemulangan mereka ke negara asal.
1. Desakan Menteri Luar Negeri Italia untuk memulangkan para relawan
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menyatakan bahwa kelima aktivis perempuan itu tidak melanggar hukum saat melakukan kegiatan sukarela di wilayah pendudukan. Pernyataan tersebut disampaikan Tajani kepada awak media di sela pertemuan tingkat tinggi internasional di Istanbul, Turki.
"Penahanan ini tidak dapat diterima karena mereka sama sekali tidak melakukan kejahatan. Kami berharap mereka dapat segera dipulangkan ke Italia dalam beberapa jam ke depan," tegas Tajani, dilansir The Hindu.
Ia menambahkan bahwa perwakilan diplomatik Italia terus berkoordinasi di lapangan. Upaya ini dilakukan agar proses pemulangan warga negaranya dapat segera rampung tanpa terhambat urusan administrasi.
2. Kronologi penangkapan lima aktivis Italia di dekat Kota Hebron
Penahanan tersebut bermula pada Kamis (22/10/2026) ketika kelompok aktivis mendampingi keluarga petani memetik buah zaitun di Desa al-Bweib, sebelah selatan Kota Hebron. Sumber dari Kementerian Luar Negeri Italia menyebutkan bahwa polisi dan tentara Israel menangkap kelima perempuan tersebut bersama sejumlah relawan internasional lainnya di kebun warga, lalu membawa mereka ke pos polisi di permukiman Kiryat Arba untuk diperiksa.
Kepolisian Israel beralasan bahwa para relawan tersebut memasuki kawasan yang ditetapkan sebagai zona militer tertutup dan mengabaikan perintah tentara. Petugas sempat menyita telepon genggam para aktivis sebelum menyerahkan berkas mereka ke pihak imigrasi untuk dideportasi, sementara Kedutaan Besar Italia di Tel Aviv dan Konsulat Jenderal di Yerusalem terus memberikan pendampingan guna memastikan kondisi kesehatan mereka menjelang penerbangan pulang.
3. Kerentanan petani Palestina selama musim panen zaitun di Tepi Barat
Insiden penangkapan ini turut menyoroti risiko keamanan yang dihadapi petani Palestina di Tepi Barat selama musim panen raya zaitun, yang merupakan sumber penghasilan utama bagi puluhan ribu keluarga. Kegiatan panen di kawasan Area C kerap terkendala oleh penutupan akses lahan oleh militer Israel serta aksi perusakan dari kelompok pemukim.
Berdasarkan catatan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA), kehadiran relawan internasional bertujuan mendampingi warga sipil di tengah meningkatnya serangan fisik, penebangan, hingga pembakaran pohon zaitun sepanjang musim panen tahun ini. Penangkapan dan pemulangan paksa para relawan asing ini pun dikhawatirkan makin membatasi pemantauan independen terhadap keselamatan warga serta hak petani di wilayah pendudukan.























