Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Ancam Kurangi Jumlah Tentara AS di Jerman

Trump Ancam Kurangi Jumlah Tentara AS di Jerman
tentara AS di pangkalan militer Ramstein, Jerman (U.S. Air Force photo by Airman 1st Class Norman Enriquez, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump mengancam akan mengurangi jumlah pasukan AS di Jerman setelah Kanselir Friedrich Merz mengkritik strategi Washington dalam perang melawan Iran.
  • Jerman menampung sekitar 38 ribu tentara AS dan menjadi markas penting bagi operasi militer Amerika di Eropa serta Timur Tengah, termasuk pangkalan Ramstein dan Landstuhl.
  • Trump pernah memerintahkan penarikan pasukan serupa pada 2020 sebagai protes terhadap pendanaan NATO, namun rencana itu dibatalkan saat Joe Biden menjabat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Rabu (29/4/2026), mengancam akan mengurangi jumlah pasukannya yang bermarkas di Jerman. Opsi pengurangan tersebut sedang dikaji oleh pemerintahannya dan keputusan akan diambil dalam waktu dekat.

Peringatan Trump muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik strategi Washington dalam perang melawan Iran. Hubungan keduanya semakin tegang di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

1. Trump dan Merz berselisih soal perang di Iran

Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz
Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perseteruan bermula ketika Merz berbicara di depan para pelajar di Marsberg pada awal pekan ini. Ia menyebut AS tidak memiliki strategi yang jelas dan sedang dipermalukan oleh negosiator Iran.

"Orang-orang Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya terampil dalam tidak bernegosiasi. Mereka membiarkan delegasi Amerika bepergian jauh ke Islamabad lalu pulang dengan tangan kosong," ujar Merz, dilansir BBC.

Trump merespons komentar Merz melalui akun Truth Social miliknya. Ia menilai Merz meremehkan program senjata nuklir Iran dan tidak mengerti apa pun soal situasi perang.

"Kanselir Jerman Friedrich Merz berpikir bahwa tidak masalah bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan!" tulis Trump, dilansir The New York Times.

2. Jerman tampung 38 ribu pasukan AS

bendera Jerman. (unsplash.com/Mark König)
bendera Jerman. (unsplash.com/Mark König)

Jerman saat ini menjadi pusat kehadiran militer AS di benua Eropa. Terdapat sekitar 35 ribu hingga 38 ribu personel militer aktif AS yang ditempatkan di negara tersebut.

Negara ini juga menjadi markas bagi Komando Eropa AS (EUCOM) dan Komando Afrika AS (AFRICOM). Selain itu, Jerman menampung fasilitas penting seperti Pangkalan Udara Ramstein dan Pusat Medis Regional Landstuhl.

Pangkalan militer ini sangat penting bagi berbagai operasi pertahanan AS di seluruh wilayah. Lokasi tersebut sering digunakan sebagai titik transit bagi pesawat maupun pasukan yang menuju Timur Tengah.

Penarikan pasukan secara mendadak dinilai akan menghadapi berbagai tantangan logistik. Pentagon diprediksi akan kesulitan mencari pangkalan lain di Eropa yang cukup besar untuk menampung seluruh pasukan tersebut.

3. Trump pernah perintahkan penarikan serupa pada 2020

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Gagasan untuk menarik pasukan dari wilayah Jerman sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi Trump. Pada tahun terakhir masa jabatan pertamanya di 2020, ia pernah memerintahkan kepulangan 12 ribu tentara AS.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk protes karena Jerman dianggap terlalu pelit dalam mendanai NATO. Namun, proses penarikan itu berjalan lambat dan akhirnya dibatalkan ketika Joe Biden mengambil alih kepresidenan.

Peluang Trump untuk merealisasikan ancamannya kali ini dinilai akan kembali mendapat hadangan dari parlemen. Parlemen AS sebelumnya telah mengesahkan undang-undang untuk mencegah presiden mengambil keputusan sepihak terkait NATO.

Namun, para ahli menilai Gedung Putih tetap memiliki celah untuk melemahkan aliansi tersebut tanpa harus keluar secara resmi. Salah satu caranya adalah dengan menarik pasukan AS dari Eropa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More