Menlu Singapura: Komunikasi Prabowo-PM Wong Jadi Komitmen Politik

Komunikasi tingkat tinggi Prabowo dan Lawrence Wong menjadi penanda komitmen politik Indonesia-Singapura menangani persoalan bilateral.
Indonesia dan Singapura membentuk gugus tugas bersama untuk bertukar informasi dan berkoordinasi menangani kabut asap lintas batas.
Singapura menekankan komunikasi terbuka serta kemitraan kedua negara yang saling bergantung, termasuk menjelang keketuaan ASEAN pada 2027.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura Vivian Balakrishnan mengonfirmasi komunikasi tingkat tinggi antara Perdana Menteri (PM) Lawrence Wong dan Presiden Prabowo Subianto di tengah sejumlah persoalan bilateral, termasuk kabut asap lintas batas dan pemangkasan ekspor gas.
Vivian mengatakan, komunikasi antara kedua pemimpin menjadi penanda komitmen politik Indonesia dan Singapura untuk menangani persoalan yang dihadapi bersama. Namun, menurut dia, komitmen tersebut perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan rencana yang telah disusun.
“Komunikasi telah berlangsung di tingkat tertinggi antara Perdana Menteri saya dan Presiden Prabowo. Ini menetapkan komitmen politik kedua pihak untuk melakukan hal-hal yang diperlukan. Sekarang, kami harus melaksanakan rencana tersebut dan mewujudkan komitmen itu,” kata Vivian dalam keterangan pers dengan media Singapura di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Vivian melakukan kunjungan ke Indonesia dan bertemu dengan sejumlah pejabat, termasuk Prabowo. Dalam kunjungan itu, penanganan kabut asap menjadi salah satu pembahasan, seiring upaya kedua negara mencari solusi bersama atas persoalan lintas batas.
1. Singapura tekankan pentingnya komunikasi langsung

Menlu Singapura Vivian Balakrishnan (kiri) dan Menlu Arrmanatha Nasir (kanan) dalam pertemuan bilateral RI-Singapura. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Vivian mengatakan, persoalan lintas batas membutuhkan komunikasi langsung di tingkat tinggi antara pemerintah. Menurut dia, diplomasi tidak cukup hanya dilakukan melalui telepon atau media, terutama ketika kedua negara perlu menyampaikan kekhawatiran dan mencari jalan keluar.
“Diplomasi tidak bisa dilakukan hanya melalui telepon atau media, dengan segala hormat. Diperlukan penjelasan langsung secara tatap muka, penyampaian kekhawatiran, serta upaya mencari solusi,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima IDN Times tersebut.
Dia mengakui, perbedaan prioritas dan pendekatan merupakan hal yang dapat terjadi ketika negara menghadapi masalah bersama. Bahkan, menurut Vivian, persoalan seperti ini terkadang memunculkan pernyataan politik yang polemis.
Meski demikian, dia menilai kedua negara perlu menjaga komunikasi yang terbuka, jujur, dan konstruktif. Vivian meminta semua pihak tetap berkepala dingin agar perbedaan yang muncul tidak menghalangi upaya mencari solusi bersama.
2. Indonesia-Singapura bentuk gugus tugas kabut asap

Menlu Singapura Vivian Balakrishnan saat bertemu Menlu RI di Kemenlu RI, Jakarta, Selasa (27/10/2026). (IDN Times/) Salah satu bentuk kerja sama yang disampaikan dalam kunjungan Vivian adalah pembentukan Joint Task Force atau gugus tugas bersama untuk menangani persoalan kabut asap. Menurut dia, masalah tersebut merupakan persoalan lintas batas yang membutuhkan respons kolektif dari Indonesia dan Singapura.
Gugus tugas itu akan memfasilitasi pertukaran informasi dan koordinasi agar masing-masing otoritas dapat menjalankan tugasnya di wilayah yurisdiksi masing-masing. Kerja sama tersebut juga ditujukan untuk membantu mengidentifikasi dan mencegah tindakan perusahaan yang menyebabkan dampak berbahaya.
Vivian mengatakan, gugus tugas itu diharapkan dapat membantu kedua negara mencegah kejadian serupa berulang. Dia menyebut, persoalan kabut asap di Asia Tenggara telah berlangsung hampir tiga dekade dan perlu segera dicarikan solusi.
Meski demikian, Vivian belum memerinci komposisi maupun susunan personel gugus tugas tersebut. Dia mengatakan, kedua negara akan segera menindaklanjuti komitmen yang telah disampaikan pada tingkat pimpinan.
3. Hubungan bilateral kedua negara tetap saling bergantung

Menlu Singapura Vivian Balakrishnan (kiri) dan Menlu Arrmanatha Nasir (kanan) dalam pertemuan bilateral RI-Singapura. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Vivian menegaskan, Indonesia dan Singapura akan selalu saling bergantung sebagai negara bertetangga. Ketergantungan tersebut juga berarti keduanya menghadapi sejumlah tantangan bersama, mulai dari kabut asap hingga pandemik.
Menurut dia, persoalan yang muncul tidak seharusnya membuat kedua negara mengabaikan kebutuhan untuk bekerja sama. Sebaliknya, perbedaan kepentingan perlu dibicarakan secara terbuka agar kedua pihak dapat menentukan pendekatan yang bisa dijalankan bersama.
“Penting bagi kita untuk tetap berkepala dingin, melakukan percakapan yang langsung, jujur, terbuka, dan konstruktif, serta mencari pendekatan kolektif,” kata Vivian.
Dia menambahkan, Singapura akan berupaya memperdalam integrasi dan memperkuat kemitraan di kawasan ketika memegang keketuaan ASEAN pada 2027. Menurut Vivian, membangun ketahanan di dalam negeri perlu diikuti dengan penguatan kerja sama bersama negara tetangga dan mitra internasional.




















