Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kapal Prancis Berhasil Lewat Selat Hormuz

Kapal Prancis Berhasil Lewat Selat Hormuz
ilustrasi kapal kontainer (pexels.com/Victor Puente)
Intinya Sih
  • Kapal kontainer Prancis Kribi berhasil melintasi Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak penutupan oleh Iran, menggunakan rute dekat wilayah Iran dan menandai kepemilikan Prancis sebelum memasuki perairan tersebut.
  • Penutupan Selat Hormuz membatasi aktivitas pelayaran global, hanya sekitar 150 kapal yang melintas, memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran terhadap distribusi minyak, gas, serta pupuk dunia.
  • Pemimpin dunia berbeda pandangan soal solusi; Trump menekankan kekuatan militer AS sementara Macron dorong diplomasi bersama Eropa dan PBB untuk membuka kembali selat serta menjaga jalur perdagangan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Sebuah kapal kontainer milik Prancis tercatat berhasil melewati Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak Iran menutup jalur strategis tersebut. Momen ini berlangsung di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang pecah pada akhir Februari.

Kapal bernama Kribi itu berlayar dengan bendera Malta dan dimiliki oleh perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM. Berdasarkan data Marine Traffic, kapal itu melintas pada Kamis (2/4/2026) sambil membawa kargo dan bergerak ke selatan mengikuti garis pantai Oman.

1. Kapal Kribi gunakan rute khusus dekat Iran

ilustrasi kapal kontainer
ilustrasi kapal kontainer (pexels.com/Georg Wietschorke)

Sebelum memasuki Selat Hormuz, Kribi mengaktifkan transponder di sekitar pantai Dubai pada 28 Maret 2026. Kapal tersebut lalu mengambil jalur memutari Pulau Larak yang berada di dekat wilayah Iran, rute yang kini mulai sering dipilih kapal lain.

Dilansir dari Al Jazeera, data LSEG menunjukkan bahwa pada Kamis (2/4/2026), tujuan kapal sempat diubah menjadi “Owner France” sebelum memasuki perairan Iran. Perubahan ini dinilai sebagai penanda kepemilikan Prancis kepada otoritas setempat, meski rencana awal pelayaran adalah menuju Pointe-Noire di Republik Kongo.

CMA CGM hingga kini belum menyampaikan pernyataan resmi terkait pelayaran tersebut. Selain Kribi, sejumlah kapal lain juga tercatat berhasil melintas dengan menghindari jalur utara di dekat pulau Iran.

Dilansir dari The Guardian, tiga kapal tanker yang berkaitan dengan Oman termasuk di antaranya, dengan salah satu kapal gas alam cair Sohar yang dimiliki bersama perusahaan Jepang Mitsui OSK Lines. Perusahaan itu belum mengungkap waktu pelayaran maupun kemungkinan adanya komunikasi khusus selama proses melintas.

2. Aktivitas pelayaran terbatas picu dampak global

ilustrasi kapal pengangkut minyak
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Data Lloyd’s List Intelligence mencatat hanya sekitar 150 kapal tanker dan kontainer yang melintasi Selat Hormuz sejak awal bulan. Mayoritas kapal tersebut terkait dengan Iran atau negara seperti China, India, dan Pakistan.

China bahkan menyampaikan apresiasi setelah tiga kapalnya berhasil melalui jalur tersebut, termasuk dua kapal kontainer milik perusahaan negara Cosco.

Penutupan selat memicu tekanan energi global karena jalur ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Kondisi ini mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara serta memunculkan kekhawatiran terhadap distribusi pupuk yang biasanya mencapai sepertiga perdagangan global.

3. Pernyataan pemimpin dunia soroti solusi berbeda

ilustrasi beberapa bendera negara di dunia (pexels.com/Paresh Patil)
ilustrasi beberapa bendera negara di dunia (pexels.com/Paresh Patil)

Presiden AS Donald Trump menyebut harga bensin akan turun setelah konflik berakhir, meski tak merinci langkah pembukaan kembali selat. Ia justru meminta sekutu yang ragu untuk mengambil tindakan sendiri dan menilai konflik tersebut sepadan dengan risikonya.

Ia juga menyatakan bahwa AS mampu membuka jalur tersebut dengan relatif mudah meski membutuhkan tambahan waktu. Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai operasi militer bukan pilihan realistis dan menekankan pendekatan diplomatik sebagai jalan keluar.

Macron diketahui bekerja sama dengan negara-negara Eropa dan pihak lain untuk membentuk koalisi demi menjamin kebebasan pelayaran setelah konflik usai. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan dorongan internasional agar jalur tersebut kembali dibuka.

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyampaikan perlunya langkah bersama untuk menekan Iran membuka kembali selat tersebut. Pernyataan itu muncul setelah pertemuan virtual yang diikuti lebih dari 40 negara, sekaligus menegaskan penolakan Inggris terhadap pungutan jutaan dolar bagi kapal yang melintas.

Para pemimpin dunia diperkirakan akan bertemu untuk membahas pembersihan ranjau laut dan evakuasi kapal yang masih tertahan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mempertimbangkan pembentukan koridor pelayaran kemanusiaan guna menjaga distribusi pupuk dan mencegah krisis pangan global.

Dalam artikel di jurnal AS Foreign Affairs, eks Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai Teheran perlu mempertimbangkan kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri konflik. Ia menyebut Iran dapat mengumumkan kemenangan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan pelonggaran sanksi melalui pembatasan program nuklirnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More