Kapal Selam Rusia Terdeteksi di ZEE, Inggris Siagakan 500 Personel

- Pemerintah Inggris mengerahkan operasi militer besar setelah mendeteksi kapal selam Rusia di ZEE yang diduga memetakan kabel data dan pipa gas vital negara tersebut.
- Royal Navy bersama Norwegia menurunkan lebih dari 500 personel, kapal fregat, helikopter, dan pesawat patroli untuk melacak serta menggagalkan manuver bawah laut Rusia.
- Kementerian Pertahanan Inggris menetapkan perlindungan infrastruktur bawah laut sebagai prioritas utama, memperkuat kerja sama sekutu menghadapi ancaman sabotase dan spionase maritim Rusia.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Inggris melalui Kementerian Pertahanan mengumumkan pengerahan kekuatan militer skala besar untuk mencegat aktivitas kapal selam Rusia di wilayah perairan strategis pada Kamis (9/4/2026). Operasi pertahanan ini diaktifkan guna menjamin keamanan jaringan energi dan kabel data bawah laut dari ancaman sabotase atau spionase asing.
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menjelaskan bahwa misi ini merespons peningkatan aktivitas armada militer Rusia yang mencurigakan selama satu bulan terakhir. Langkah pencegatan ini sengaja dipublikasikan secara terbuka untuk menegaskan kedaulatan wilayah Inggris, sekaligus mengirimkan peringatan tegas bahwa setiap pergerakan asing di perairan mereka selalu berada dalam jangkauan radar militer.
1. Deteksi manuver mencurigakan di ZEE

Operasi intelijen maritim Inggris sebelumnya berhasil mendeteksi keberadaan satu kapal selam nuklir kelas Akula dan dua kapal khusus dari Direktorat Utama Riset Bawah Laut Rusia (GUGI). Armada tersebut kedapatan melakukan manuver mencurigakan di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Inggris hingga jarak 200 mil laut.
Kehadiran armada Rusia ini dinilai berisiko tinggi. Mereka terdeteksi sedang memetakan sekitar 60 kabel bawah laut yang menopang lebih dari 90 persen lalu lintas internet harian Inggris, serta beberapa jaringan pipa gas utama. Para pakar keamanan menilai tindakan ini merupakan bentuk persiapan sistematis untuk melumpuhkan infrastruktur vital jika terjadi konflik terbuka di masa depan.
Merespons situasi tersebut, Healey melayangkan peringatan diplomatik dan militer yang sangat keras. Ia menegaskan bahwa setiap upaya yang mengganggu aset strategis negaranya akan memicu balasan yang setimpal.
"Kepada Presiden Putin, saya katakan, kami memantau Anda. Kami melihat aktivitas Anda di atas kabel dan pipa kami. Ketahuilah bahwa setiap upaya untuk merusak infrastruktur tersebut tidak akan kami toleransi dan akan membawa konsekuensi yang sangat berat," kata Healey dalam konferensi pers di London, dilansir The Straits Times.
2. Operasi gabungan Royal Navy dan Norwegia

Sebagai langkah taktis, Royal Navy langsung menerjunkan gugus tugas laut yang terdiri dari kapal fregat Type 23 HMS St Albans, kapal tanker RFA Tidespring, dan armada helikopter Merlin. Operasi ini juga didukung penuh oleh pesawat patroli maritim P-8 Poseidon milik Royal Air Force untuk melacak pergerakan bawah laut Rusia selama 24 jam nonstop.
Lebih dari 500 personel militer Inggris dikerahkan dan bersiaga penuh, bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata Norwegia. Sinergi kedua negara ini memastikan jalur manuver kapal selam Rusia di Atlantik Utara tetap terkunci oleh pantauan sonar dan pengawasan ketat sekutu NATO.
Pemerintah Inggris menyatakan operasi senyap Rusia tersebut berhasil digagalkan. Sistem pemantauan yang berlapis memaksa armada Rusia mundur dan kembali ke perairan utara.
"Angkatan bersenjata kami memberi sinyal jelas bahwa mereka terus diawasi. Pergerakan mereka tidak rahasia seperti yang direncanakan Presiden Putin, dan upaya operasi gelap mereka sudah terbongkar," ujar Healey mengapresiasi kinerja pasukannya, dilansir The Guardian.
3. Perlindungan infrastruktur vital nasional

Pengamanan kabel serat optik dan pipa energi bawah laut kini menjadi prioritas tertinggi dalam postur pertahanan Inggris. Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat adanya ancaman asimetris yang menggunakan kapal selam riset laut dalam, yang secara teori mampu melumpuhkan ekonomi negara-negara Barat tanpa memicu kontak senjata secara langsung.
Kementerian Pertahanan Inggris mencatat adanya lonjakan kehadiran kapal militer Rusia hingga 30 persen di sekitar perairan Inggris dalam dua tahun terakhir. Situasi yang memanas ini memaksa London untuk mempercepat kerja sama pertahanan dengan negara-negara sekutu demi membangun perisai pelindung yang lebih tangguh menghadapi taktik peperangan laut dalam.
Rusia diyakini secara proaktif mengembangkan kapabilitas teknis untuk memetakan titik-titik lemah infrastruktur digital dan energi global di masa damai, sebagai kartu as apabila terjadi eskalasi perang di kemudian hari.
"Kapal-kapal selam ini memang dibuat untuk memantau infrastruktur bawah laut di masa damai, lalu merusaknya saat terjadi peperangan," tutup Healey.


















