Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Ebola di Kongo Meluas, 11 Pasien Kabur dan Tim Pemakaman Diserang

Kasus Ebola di Kongo Meluas, 11 Pasien Kabur dan Tim Pemakaman Diserang
Bendera Republik Demokratik Kongo (magnific.com/www.slon.pics)
Intinya Sih
  • Tim pemakaman di Katana diserang warga saat memakamkan korban Ebola, membuat jenazah ditangani tanpa alat pelindung diri dan meningkatkan risiko penularan virus.
  • Sebanyak 11 pasien Ebola kabur dari ruang isolasi di Ituri akibat situasi keamanan tidak stabil dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap tenaga medis.
  • Wabah Ebola terus meluas hingga zona kesehatan Rimba dengan 363 kasus positif dan 62 kematian, sementara WHO menyoroti pentingnya kepercayaan publik untuk mengendalikan penyebaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Upaya penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menghadapi tantangan baru di lapangan. Sebuah tim pemakaman dilaporkan diserang oleh sekelompok warga, sementara 11 pasien yang sedang menjalani isolasi melarikan diri dari fasilitas kesehatan.

Insiden ini terjadi saat penyebaran virus terus meluas, khususnya di wilayah timur Kongo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat menjadi penentu utama untuk bisa mengendalikan wabah ini secara menyeluruh.

1. Warga serang petugas pemakaman di Katana

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Tim pemakaman diserang warga saat bertugas memakamkan jenazah korban Ebola di Katana, Kivu Selatan. Petugas akhirnya terpaksa meninggalkan peti jenazah di lokasi kejadian. Warga setempat kemudian mengurus jenazah tersebut tanpa menggunakan alat pelindung diri standar.

Tindakan ini sangat berisiko karena jenazah pasien Ebola masih aktif menularkan virus.

"Siapa saja yang menyentuh jenazah, baik saat membawa, memandikan, mengafani, atau memindahkannya, berisiko sangat tinggi tertular virus ini," kata Pemimpin Layanan Klinis dan Kesehatan Masyarakat Darurat IFRC, Laura Archer.

"Saya mengerti rasa sedih kehilangan orang terdekat dan pentingnya memakamkan mereka dengan layak. Namun, kita harus berbuat semaksimal mungkin agar tidak ada lagi korban tambahan karena penularan ini," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir The Japan Times.

2. Belasan pasien kabur dari ruang isolasi

Wabah Ebola.
ilustrasi wabah Ebola (pexels.com/CDC)

Pada saat yang sama, 11 pasien Ebola dilaporkan melarikan diri dari ruang isolasi di wilayah timur Kongo. Pelarian ini dipicu oleh kondisi keamanan di Ituri yang belum stabil. Selain itu, terdapat kelompok bersenjata yang membatasi akses tim kesehatan ke beberapa daerah.

Di sisi lain, petugas medis juga mendapat penolakan dari sebagian warga yang tidak percaya bahwa penyakit Ebola itu nyata.

"Masih banyak masyarakat yang tidak percaya adanya penyakit ini, bahkan ada warga yang berusaha mengambil paksa jenazah pasien yang diduga atau terbukti positif Ebola," kata Direktur Medis Rumah Sakit Rujukan Umum Mongbwalu, Dr. Richard Lokodu.

Penolakan ini menghambat proses pelacakan warga yang pernah kontak langsung dengan pasien. WHO mencatat saat ini baru sekitar 45 persen warga yang berhasil dipantau. Angka tersebut harus ditingkatkan hingga di atas 90 persen untuk mencegah penularan lebih lanjut.

3. Wabah menyebar cepat di tengah krisis kepercayaan

ilustrasi Kongo
ilustrasi Kongo (pixnio.com/Ken Wiegand, USAID)

Wilayah penyebaran kini mencapai zona kesehatan Rimba, yang menjadi daerah ke-17 di Ituri dan ke-25 secara nasional. Meluasnya wabah ke wilayah Rimba mengindikasikan bahwa virus sedang menyebar aktif di tengah masyarakat.

Institut Nasional Kesehatan Masyarakat Kongo mencatat 363 kasus positif Ebola dengan 62 pasien meninggal dunia akibat varian Bundibugyo. Pada 2 Juni, pemerintah juga mengumumkan tambahan 19 kasus positif baru.

"Penularan wabah ini bergerak sangat cepat, tetapi di bawah arahan Pemerintah Kongo, kami terus berupaya mengendalikan penyebarannya," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Sementara itu, organisasi medis MSF menilai langkah penanganan di lapangan masih tertinggal dibandingkan dengan kecepatan penyebaran virus.

"Belum pernah ada wabah Ebola yang jumlah kasusnya melonjak secepat ini sejak pertama kali diumumkan," kata Wakil Direktur Operasi MSF, Dr. Alan Gonzalez.

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kongo menegaskan bahwa pengalaman masa lalu menjadi modal penting bagi para tenaga medis.

"Kami punya pengalaman menangani wabah penyakit. Kami berhasil mengatasi Ebola tahun lalu. Percayalah kepada kami, kami tahu langkah apa yang harus diambil," kata Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More