Kebakaran Gudang Petasan di India Tewaskan 8 Orang

- Kebakaran di gudang petasan Thrissur, Kerala, menewaskan delapan orang dan melukai 15 lainnya saat persiapan festival keagamaan berlangsung.
- Tim forensik melakukan identifikasi jenazah korban melalui tes DNA serta menyelidiki kepatuhan izin operasi dan standar keamanan bahan peledak.
- Ledakan ini memicu evaluasi nasional terhadap keselamatan industri petasan India, dengan pemerintah memperketat izin dan mendorong modernisasi fasilitas produksi.
Jakarta, IDN Times - Kebakaran melanda sebuah fasilitas penyimpanan petasan di Kerala, India selatan, pada Selasa (21/4/2026). Insiden ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di tengah persiapan festival keagamaan di daerah tersebut.
Kepolisian setempat segera dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api serta mengevakuasi pekerja dan warga sekitar. Ledakan dari stok bahan baku petasan yang tersimpan di dalam bangunan menyebabkan kerusakan fisik yang signifikan di area kejadian.
1. Api membakar bahan kimia penyusun petasan dan memicu ledakan

Ledakan di gudang petasan yang berada di distrik Thrissur, negara bagian Kerala, terjadi pada Selasa siang saat jam operasional sedang berlangsung. Berdasarkan laporan pemerintah setempat, api membakar bahan kimia penyusun petasan dan memicu rentetan ledakan yang meruntuhkan sebagian bangunan. Suara ledakan yang terdengar hingga beberapa kilometer memicu evakuasi warga di sekitar lokasi.
Kepala Polisi Distrik Thrissur, Nakul Rajendra Deshmukh, memastikan ada delapan orang tewas dalam kejadian tersebut. Selain korban jiwa, 15 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk dua orang yang saat ini dalam kondisi kritis di ruang perawatan intensif (ICU). Tim medis segera memberikan pertolongan pertama di lokasi sebelum merujuk para korban ke rumah sakit pemerintah terdekat.
Tim gabungan dari pemadam kebakaran dan kepolisian melakukan pencarian selama beberapa jam untuk memastikan tidak ada korban yang tertimbun reruntuhan.
"Operasi penyelamatan sudah selesai dilakukan setelah seluruh area diperiksa oleh tim penolong," kata Kepala Polisi Distrik Thrissur, Nakul Rajendra Deshmukh, dilansir Nampa.
Penyebab awal munculnya api kini masih diselidiki oleh tim ahli forensik kepolisian Kerala. Polisi turut memeriksa kepatuhan pengelola gudang terhadap aturan keselamatan bahan peledak, terutama terkait standar suhu ruangan dan alat pencegah kebakaran.
"Kami masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran ini untuk mengetahui apakah ada kelalaian teknis atau pelanggaran hukum," ujar Deshmukh.
Laporan dari media lokal menyebutkan bahwa gudang tersebut digunakan untuk menampung pasokan petasan persiapan festival Thrissur Pooram. Festival tahunan ini rutin menampilkan pertunjukan kembang api skala besar. Peningkatan permintaan menjelang perayaan sering membuat gudang beroperasi melampaui kapasitas keamanan yang diizinkan.
Cuaca yang sangat panas di India selatan pada bulan April turut memengaruhi tingkat sensitivitas bahan kimia tersebut. Tim investigasi telah mengumpulkan sisa material dari lokasi kejadian untuk dilakukan pemeriksaan uji laboratorium forensik.
2. Identifikasi delapan jenazah korban membutuhkan waktu

Proses pengenalan identitas terhadap delapan jenazah korban membutuhkan waktu akibat kondisi fisik yang terdampak ledakan. Tim forensik dikerahkan untuk mencocokkan data agar jenazah dapat segera diserahkan kepada keluarga sesuai prosedur hukum.
"Butuh waktu untuk mengenali korban karena kami harus menunggu hasil tes DNA," kata Pejabat Otoritas Manajemen Bencana Negara Bagian Kerala, Shekhar Kuriakose, dilansir The News.
Fokus penyelidikan kepolisian meliputi peninjauan dokumen izin operasi gudang dan kepatuhan terhadap Undang-Undang Bahan Peledak India. Polisi mengumpulkan bukti kelengkapan surat izin dan daftar jumlah barang yang masuk ke gudang untuk melacak sumber kesalahan operasional.
Polisi mewawancarai saksi yang selamat dan pemilik gudang guna merekonstruksi kejadian sesaat sebelum ledakan. Selain itu, tim forensik menganalisis kandungan zat kimia di lokasi untuk mengecek potensi penggunaan bahan baku di bawah standar keamanan. Hasil analisis laboratorium ini akan menjadi dasar hukum laporan akhir pihak kepolisian.
Selain fokus di lokasi, polisi menelusuri asal-usul bahan baku petasan. Pembelian bahan baku dari pihak yang tidak memiliki sertifikasi keamanan dapat memicu peningkatan risiko kecelakaan industri.
3. Evaluasi aturan keselamatan industri petasan di India

Insiden di gudang Thrissur ini merupakan ledakan kedua di industri petasan India dalam kurun waktu tiga hari. Sebelumnya, pada Minggu (19/4/2026), sebuah ledakan di pabrik petasan negara bagian Tamil Nadu telah menewaskan 20 pekerja.
Rentetan kecelakaan ini memicu kembali diskusi publik mengenai pentingnya perbaikan pengawasan keselamatan kerja. Sebagian besar fasilitas pembuat petasan di India beroperasi terlalu dekat dengan kawasan permukiman warga, yang memperbesar persentase korban jika terjadi kecelakaan.
Lemahnya implementasi aturan dan kurangnya jumlah pengawas dinilai menjadi penyebab utama banyak pabrik luput dari inspeksi standar keamanan. Merespons hal tersebut, kepolisian di Kerala kini memperketat syarat pengajuan izin penyimpanan bahan peledak baru. Pengecekan difokuskan pada sirkulasi udara gudang, fasilitas pemadam, serta kesiapan tanggap darurat karyawan.
Organisasi pekerja setempat mendesak pemerintah untuk mewajibkan asuransi jiwa bagi setiap pekerja di pabrik berisiko tinggi. Pemerintah juga didorong untuk mulai memodernisasi industri petasan dengan standar keamanan dan bahan kimia yang jauh lebih stabil agar kecelakaan fatal serupa tidak lagi terulang di masa mendatang.


















