Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Pekerja Nepal yang Selamat usai 9 Hari Terjebak di Terowongan

Kisah Pekerja Nepal yang Selamat usai 9 Hari Terjebak di Terowongan
terowongan (unsplash.com/Casey Horner)
  • Mandor PLTA Nepal, Sanjay Shah, selamat setelah sembilan hari terjebak 170 meter di terowongan Upper Trishuli 3 bersama supervisor Kabir Maharjan, pascabanjir 26 Agustus 2026.
  • Saat banjir terjadi, Shah menyusuri terowongan untuk menyuruh 40-45 pekerja berlari menyelamatkan diri. Ia tertinggal dan bertahan di kegelapan dengan melafalkan mantra.
  • Shah stabil, Maharjan kritis di ICU. Banjir menewaskan sedikitnya 1.331 orang di Nepal, sementara sekitar 900 pekerja PLTA masih hilang, termasuk 500 yang diyakini terjebak di terowongan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Terjebak di dalam terowongan gelap selama 9 hari tentu menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan bagi Sanjay Shah, salah satu pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Nepal yang berhasil diselamatkan pada Jumat (4/9/2026). Ia mengaku menghabiskan hari-harinya dengan melafalkan mantra demi menjaga dirinya tetap tenang.

Shah, yang bekerja sebagai mandor, ditarik keluar dari kedalaman 170 meter di dalam terowongan PLTA Upper Trishuli 3 bersama rekannya, Kabir Maharjan, seorang supervisor. Keduanya termasuk di antara ratusan pekerja PLTA yang hilang sejak banjir dashyat menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus lalu.

Foto yang diunggah militer Nepal menunjukkan Shah ditarik keluar dari mulut terowongan yang kecil dan gelap dalam kondisi berlumuran lumpur. Pria tersebut, yang tampak masih sadar, kemudian dibawa meninggalkan lokasi dengan dipanggul oleh seorang petugas penyelamat.

"Hari apa ini?" kata Shah kepada para pejabat militer usai diselamatkan.

  1. 1. Shah perintahkan orang-orang untuk berlari saat menyadari adanya bencana

    ilustrasi banjir
    ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)

    Dilansir The Guardian, Shah menceritakan bahwa saat terjadi banjir, ia berada di ruang kontrol terowongan bersama sekitar 40 hingga 45 orang lainnya.

    “Karena saya berada di ruang kontrol, tanggung jawab saya adalah menyelamatkan nyawa semua orang. Setelah kecelakaan seperti itu terjadi, saya tidak mungkin pergi begitu saja sendirian. Saya harus menyelamatkan semua orang," ujarnya.

    Ia pun bergegas menyusuri terowongan sambil memberi tahu orang-orang agar segera berlari menyelamatkan diri. Namun, tindakan tersebut membuatnya kehilangan waktu hingga akhirnya tidak sempat keluar dari terowongan.

    Agar tetap tenang di tengah kegelapan, Shah menghabiskan waktunya dengan melafalkan mantra-mantra. Selama terjebak, ia mengaku sempat mendengar suara tiga atau empat orang lainnya.

    “Kami berkomunikasi dengan saling berteriak dari tempat yang berdekatan. Mungkin juga ada orang-orang di dalam pembangkit listrik. Beberapa dari mereka mungkin tidak berhasil menyelamatkan diri,” tambahnya.

  2. 2. Keluarga bersyukur keduanya mendapatkan kesempatan hidup kedua

    ilustrasi tim penyelamat
    ilustrasi tim penyelamat (unsplash.com/Maël BALLAND)

    Shah dan Maharjan langsung diterbangkan ke sebuah rumah sakit di ibu kota, Kathmandu, setelah berhasil diselamatkan. Kondisi Shah dilaporkan stabil, sementara Maharjan berada dalam kondisi kritis dan telah dipindahkan ke unit perawatan intensif.

    Istri Maharjan, Hirashova, mengatakan bahwa suaminya awalnya masih syok dan tidak berbicara, tapi kini sudah dapat mengucapkan beberapa kata. Maharjan disebut mengalami cedera pada kaki dan menderita penyakit kuning yang cukup parah.

    "Awalnya dia bahkan tidak mengenali saya. Dia hanya berkata: 'Di mana saya? Apa yang terjadi pada saya?' Dia tidak mengatakan hal lain. Kondisinya sekarang sudah lebih baik. Dia bilang ingin minum air, jadi saya memberinya air. Lalu saya bertanya apakah dia mengenali saya, dan dia menjawab ya. Dia menganggukkan kepalanya," jelas Hirashova.

    Sementara itu, keponakan Shah, Rishi, mengatakan bahwa kedua penyintas tersebut seolah mendapatkan kesempatan hidup kedua. Keselamatan mereka menjadi secercah harapan bagi ratusan keluarga yang masih menunggu kabar tentang orang-orang terkasih mereka, dilansir NDTV.

  3. 3. Sekitar 900 pekerja PLTA masih belum diketahui nasibnya

    ilustrasi operasi penyelamatan
    ilustrasi operasi penyelamatan (pexels.com/Long Bà Mùi)

    Dilansir Al Jazeera, seorang pekerja asal China juga berhasil ditarik keluar dari kedalaman 225 meter di dalam terowongan proyek PLTA Upper Trishuli-1 pada Sabtu (5/9/2026). Pria bernama Lu Haitao itu dievakuasi oleh tim gabungan yang terdiri dari tentara Nepal dan pakar bencana dari Korea Selatan. Kondisinya tampak stabil meski mengalami hipotermia ringan saat diterbangkan ke rumah sakit di Kathmandu.

    Secara terpisah, seorang perempuan berusia 64 tahun, Chandika Kumari Shrestha, juga berhasil diselamatkan dari reruntuhan rumahnya yang hancur akibat banjir di distrik Nuwakot.

    Menurut otoritas penanggulangan bencana Nepal, banjir bandang pekan lalu telah menewaskan sedikitnya 1.331 orang dan menyebabkan sekitar 5 ribu lainnya hilang, termasuk 589 warga negara asing. Di Tibet, pihak berwenang mencatat 31 kematian dan 531 orang hilang.

    Sementara itu, keberadaan sekitar 900 pekerja di 12 lokasi proyek PLTA Nepal masih belum diketahui. Sekitar 500 di antaranya diyakini terjebak di dalam terowongan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More