Krisis HIV di Pakistan: Ratusan Anak Terinfeksi Akibat Jarum Suntik Bekas

- Ratusan anak di Punjab dan Sindh terinfeksi HIV akibat penggunaan ulang jarum suntik bekas serta lemahnya pengawasan fasilitas kesehatan dan pengelolaan limbah medis.
- Di Islamabad, lonjakan kasus HIV didominasi laki-laki muda yang tertular melalui penggunaan narkoba jenis Ice dan perilaku seksual berisiko di bawah pengaruh obat tersebut.
- Krisis makin parah dengan munculnya klaster baru di Karachi serta kelangkaan obat antiretroviral setelah pendanaan USAID dihentikan, memperburuk angka kematian terkait AIDS di Pakistan.
Jakarta, IDN Times - Dunia kesehatan internasional sedang diguncang oleh kabar pilu dari Pakistan. Ratusan anak-anak dilaporkan terinfeksi HIV dalam setahun terakhir. Yang bikin miris, penularan ini bukan terjadi karena faktor keturunan, melainkan akibat kelalaian fatal tenaga medis yang menggunakan kembali jarum suntik bekas.
Krisis ini menyebar di beberapa wilayah besar seperti Punjab, Sindh, hingga ibu kota Islamabad dengan pola penularan yang sangat mengkhawatirkan.
1. Praktik penggunaan ulang jarum suntik di Punjab

Investigasi mendalam yang dilakukan oleh BBC Eye mengungkap praktik mengerikan di Rumah Sakit THQ Taunsa, Provinsi Punjab. Selama 32 jam penyamaran, terekam setidaknya 10 kali momen staf medis menggunakan kembali jarum suntik yang sama untuk mengambil obat dari botol multi-dose.
Botol obat yang sudah terkontaminasi itu kemudian digunakan untuk menyuntik pasien anak-anak lainnya. Akibatnya, antara November 2024 hingga Oktober 2025, sebanyak 331 anak di wilayah tersebut dinyatakan positif HIV. Para ahli menyebutkan bahwa meskipun jarum diganti, virus tetap tertinggal di badan alat suntik (syringe body) dan akan mencemari seluruh isi botol obat saat dimasukkan kembali.
2. Ratusan kasus anak di Sindh yang disebut fenomena gunung es
Kondisi yang nggak kalah parah terjadi di Provinsi Sindh. Pakistan Medical Association (PMA) melaporkan ada 329 kasus anak yang terinfeksi HIV hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2026. Angka ini diyakini cuma fenomena gunung es karena terbatasnya fasilitas skrining di wilayah pedesaan.
Masalah utama di Sindh adalah lemahnya pengawasan dari Sindh Health Care Commission (SHCC) yang nggak berdaya menindak klinik ilegal karena masalah birokrasi internal. Selain itu, limbah medis yang seharusnya dihancurkan justru sering dikumpulkan dan dijual kembali ke klinik-klinik tidak resmi.
3. Lonjakan infeksi pada laki-laki muda di Islamabad
Bergeser ke ibu kota, pola penularan HIV menunjukkan tren yang berbeda namun tetap mengkhawatirkan. Di Islamabad, tercatat ada 618 kasus baru dalam 15 bulan terakhir, di mana mayoritas penderitanya adalah laki-laki dewasa.
Pejabat kesehatan di Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS) mengungkapkan bahwa lebih dari separuh penderita adalah laki-laki muda. Mereka terinfeksi bukan karena prosedur medis, melainkan akibat penggunaan narkoba jenis metamfetamin (Ice) dan perilaku seksual berisiko di bawah pengaruh obat tersebut atau yang dikenal dengan istilah chemsex.
4. Klaster karachi dan krisis obat-obatan yang mengintai

Di Karachi, sebuah klaster baru di Site Town mencatat 15 anak terinfeksi HIV, dan dua di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia. Data dari Indus Hospital menunjukkan fakta mengejutkan: dari 72 anak penderita HIV, 66 di antaranya lahir dari ibu yang negatif HIV. Ini membuktikan bahwa penularan murni terjadi karena prosedur medis yang kotor, seperti jarum suntik bekas dan transfusi darah yang tidak aman.
Situasi makin genting karena Pakistan sedang menghadapi kelangkaan obat antiretroviral (ARV) setelah penghentian pendanaan dari USAID. Tanpa pasokan obat yang stabil, angka kematian terkait AIDS di Pakistan yang sudah melonjak 6,4 kali lipat sejak 2010 diprediksi akan terus meningkat.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi dunia kesehatan tentang betapa pentingnya kontrol infeksi dan pengawasan ketat terhadap penggunaan alat medis sekali pakai. Krisis HIV di Pakistan kini menunjukkan dua wajah yang sama-sama mengerikan: malapraktik medis yang mengorbankan anak-anak di pedesaan Punjab, serta gaya hidup berisiko yang mengancam pemuda di pusat kota seperti Islamabad.
Fenomena ini membuktikan bahwa virus HIV tidak lagi hanya bersembunyi di kelompok berisiko tinggi, tapi sudah mulai merembes masuk ke populasi umum melalui celah-celah sistem kesehatan yang bocor.

















