Krisis Iran: Teheran Tuding Israel Dalang Rusuh, Siap Nego dengan AS

- Araghchi menuding Israel menunggangi kerusuhan di Iran dan siap bernegosiasi dengan AS.
- Iran menutup wilayah udaranya untuk sementara waktu di tengah meningkatnya ketegangan regional dan domestik.
- Trump menyatakan dukungan terhadap para demonstran di Iran, sementara G7 mengutuk penggunaan kekerasan terhadap mereka.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, agar tidak mengulangi kesalahan konfrontasi militer sebelumnya. Pernyataan tersebut merujuk pada serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran, sebagai bagian dari perang Iran-Israel selama 12 hari yang berlangsung pada Juni 2025.
"Pesan saya adalah jangan ulangi kesalahan yang anda buat pada Juni. Anda tahu, jika anda mencoba pengalaman yang gagal, anda akan mendapatkan hasil yang sama," kata Araghchi dalam sebuah wawancara dengan media berita Fox News.
"Anda tahu, anda menghancurkan fasilitas, tetapi teknologi tidak dapat dibom, tekad juga tidak dapat dibom," sambungnya, dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (15/1/2026).
1. Araghchi menuding Israel menunggangi kerusuhan yang terjadi di Iran
Menanggapi ketegangan baru-baru ini dan sikap Washington terhadap Teheran, Araghchi mengatakan bahwa negaranya belum memiliki pengalaman positif dengan AS. Meski begitu, ia menekankan bahwa Teheran siap untuk bernegosiasi dan diplomasi, daripada perang. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam 20 tahun terakhir, setiap kali Iran-AS bersitegang, pihak Washington selalu menghindari diplomasi.
Sementara itu saat ditanya mengenai kerusuhan baru-baru ini di negaranya, Araghchi mengklaim bahwa pemerintahnya telah melakukan pengekangan maksimal. Ia menegaskan protes tersebut telah dibajak oleh aktor-aktor yang melakukan kekerasan, dan selama tiga hari ini, negaranya sedang berperang melawan teroris, bukan dengan para demonstran.
Dalam pernyataan terpisah, Araghchi menuding aksi tersebut didorong oleh konspirasi Israel, dengan menyeret Presiden AS ke dalam konflik tersebut.
"Israel selalu berusaha menarik AS untuk ikut berperang atas namanya. Namun, yang mengejutkan, kali ini mereka secara terbuka mengakui hal yang biasanya disembunyikan," kata Araghchi di X.
"Dengan darah di jalan-jalan kami, Israel secara terang-terangan membanggakan diri telah memberikan senjata api kepada para demonstran dan inilah alasan ratusan orang tewas. Trump sekarang harus tahu persis ke mana harus pergi untuk menghentikan pembunuhan," sambungnya.
2. Iran menutup wilayah udaranya untuk sementara waktu
Otoritas Penerbangan Sipil Iran mengumumkan pada 15 Januari 2026 bahwa negaranya telah menutup sementara wilayah udara Iran untuk semua penerbangan, kecuali kedatangan dan keberangkatan sipil internasional yang mendapatkan izin terlebih dahulu.
"Wilayah udara Iran akan tetap ditutup hingga 15 Januari. Pembatasan tersebut berlaku untuk penerbangan yang masuk atau keluar Iran. Sementara, semua lalu lintas udara lainnya ditangguhkan," demikian bunyi pemberitahuan tersebut.
Tindakan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan regional dan domestik, termasuk protes anti-pemerintah di Iran dan meningkatnya pengawasan internasional.
3. Trump menyatakan dukungan terhadap para demonstran di Iran

Washington telah meningkatkan retorika terhadap Teheran, di tengah protes yang melanda negara itu sejak akhir Desember tahun lalu. Protes di Iran meletus karena memburuknya kondisi ekonomi.
Trump telah berulang kali menyatakan dukungannya kepada para demonstran dan mengatakan AS akan mengambil tindakan yang sangat tegas, jika Iran melakukan eksekusi terhadap para demonstran.
Sementara itu, para menteri luar negeri G7 juga mengutuk penggunaan kekerasan yang disengaja terhadap para demonstran. Mereka mendesak pihak berwenang untuk menghormati hak asasi manusia.
Merespons hal itu, para pejabat Iran menuduh Washington dan Tel Aviv mendukung kerusuhan dan terorisme yang terkait dengan protes tersebut. Namun, klaim itu dibantah oleh Barat.
Pihak berwenang Iran belum merilis angka resmi mengenai korban jiwa atau tahanan. Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), sebuah kelompok yang berbasis di AS, memperkirakan demonstrasi tersebut memakan sekitar 2.500 korban jiwa dan lebih dari 1.100 orang terluka. Jumlah tersebut termasuk demonstran dan personel keamanan.
HRANA juga mengatakan lebih dari 18 ribu orang telah ditahan. Namun, angka-angka yang disebutkan tersebut belum diverifikasi secara independen dan berbeda dari perkiraan lainnya.


















