KTT SCO: Presiden Putin dan Xi Jinping Pertegas Aliansi Rusia-China

- Putin dan Xi menegaskan aliansi strategis Rusia-China dalam pertemuan KTT SCO di Bishkek, dengan Xi menyebut hubungan kedua negara makin kokoh di tengah ketidakpastian global.
- Kremlin menyatakan pembicaraan Putin-Xi terutama membahas ekonomi, sementara isu Ukraina hanya disinggung singkat; ekonomi Rusia semakin bergantung pada China akibat sanksi Barat.
- KTT SCO mempertemukan lebih dari sepuluh pemimpin negara untuk membahas konflik kawasan; Iran mendorong jalur kesepakatan, sedangkan organisasi ini memiliki 10 anggota dan mengklaim mewakili 40 persen populasi dunia.
Jakarta, IDN Times - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali aliansi strategis antara Moskow dan Beijing di tengah ketidakpastian situasi global yang kian meningkat. Pertemuan bilateral kedua pemimpin negara tersebut berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organisation (KTT SCO) di Bishkek, Kirgizstan, Senin (31/8/2026).
Pertemuan ini menjadi momen tatap muka pertama bagi Xi Jinping dan Vladimir Putin sejak Mei 2026. Di tengah situasi dunia yang dinamis, kedua negara sepakat untuk terus mempererat hubungan kerja sama di berbagai sektor.
1. Xi Jinping sebut hubungan Rusia dan China semakin solid

potret Presiden China, Xi Jinping (government.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Dilansir Al Jazeera, Presiden Xi Jinping menyampaikan rasa bahagianya dapat bertemu kembali dengan Vladimir Putin. Xi menilai hubungan bilateral antara Beijing dan Moskow saat ini berkembang semakin kokoh dibandingkan sebelumnya.
Prospek hubungan kedua negara dinilai Xi akan semakin cerah di masa mendatang. Hal tersebut disampaikan Xi meski ia mengakui adanya lonjakan dinamika dunia. "Ketidakpastian dan ketidakterdugaan dalam tatanan internasional jelas telah meningkat," ujar Xi kepada Putin.
Menanggapi pernyataan tersebut, Presiden Vladimir Putin menyetujui pandangan mitra lamanya itu. Putin menegaskan bahwa kolaborasi kedua negara terus berjalan positif. "Kerja sama berkembang dengan sukses di semua lini," kata Putin.
Pertemuan ini terjadi saat perang di Ukraina memasuki tahun kelima. Akibat sanksi Barat terkait invasi ke Ukraina, ekonomi Rusia kini semakin bergantung pada China, yang membuat negara-negara Barat terus mendesak Beijing untuk menekan Moskow agar menghentikan serangannya. Meski demikian, Pemerintah China secara konsisten membantah tuduhan pemberian bantuan material bagi operasi militer Rusia di negara tetangganya tersebut.
2. Isu ekonomi dan konflik kawasan jadi pembahasan di KTT SCO

potret Presiden Rusia, Vladimir Putin (kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan kepada media Rusia bahwa Putin dan Xi sebagian besar berdiskusi mengenai hubungan ekonomi. Peskov menyebutkan bahwa isu perang di Ukraina hanya dibicarakan sepintas oleh kedua pemimpin.
Gelaran KTT SCO dua hari di Kirgizstan ini bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya organisasi keamanan dan ekonomi regional tersebut. Lebih dari sepuluh kepala negara hadir dalam pertemuan itu, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai mitra dialog.
Selain bertemu Xi, Putin juga menggelar pembicaraan dengan Perdana Menteri Narendra Modi setelah tiba di lokasi menggunakan mobil yang sama. Modi menyatakan kesiapan India untuk membantu mengakhiri konflik di Ukraina, sementara Putin menyebut Moskow sedang mengikuti jalur menuju penyelesaian.
Negosiasi perdamaian yang diprakarsai Amerika Serikat saat ini masih menemui jalan buntu. Namun, Direktur CIA John Ratcliffe dikabarkan sempat mengunjungi Moskow. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Moskow dan Beijing agar tidak menyokong persenjataan Iran.
Media AS berspekulasi bahwa selain isu Ukraina, kunjungan Ratcliffe bertujuan menyampaikan peringatan agar Moskow tidak memasok senjata ke Teheran, di tengah makin eratnya aliansi militer kedua negara yang mencakup pasokan drone Iran untuk invasi Rusia di Ukraina.
3. Sikap Iran dan peta kekuatan Shanghai Cooperation Organisation

potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap negaranya terkait konflik yang melibatkan kawasan Timur Tengah. Pezeshkian menyampaikan bahwa kelanjutan pertempuran tidak menguntungkan pihak mana pun.
"Kami terus berusaha menuju jalur kesepakatan dan pemahaman, dan kami percaya bahwa melanjutkan perang tidak sejalan dengan kepentingan kami maupun kepentingan kawasan," kata Pezeshkian saat berbicara dengan Modi. Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian setelah terjadi kontak senjata pertama antara pasukan Amerika Serikat dan Iran dalam sebulan terakhir, di tengah konflik kedua negara yang telah berlangsung selama enam bulan.
Putin, Xi, Pezeshkian, Modi, dan Sharif dijadwalkan menghadiri sesi pleno yang dipimpin oleh Presiden Kirgizstan Sadyr Japarov. Blok regional ini kini memiliki 10 negara anggota, 15 mitra dialog seperti Turki, Arab Saudi, dan Qatar, serta dua negara pengamat yaitu Afganistan dan Mongolia.
Aliansi ini mengklaim mewakili sekitar 40 persen populasi dunia dan 25 persen produk domestik bruto (PDB) global. Meski demikian, SCO tetap menjadi organisasi yang sangat beragam dengan berbagai perbedaan pandangan di antara para anggotanya.





















