Kejar Piala Adipura, Pemkot Bogor Fokus Atasi Limbah Popok di Ciliwung

- Pemkot Bogor menyoroti dominasi limbah popok bayi di Sungai Ciliwung yang mencemari air dan mengancam ekosistem, menjadi perhatian utama dalam menjaga kebersihan lingkungan kota.
- Pemerintah akan gencar melakukan edukasi lewat media sosial dan portal digital agar warga memahami bahaya limbah rumah tangga serta pentingnya memilah sampah dari sumbernya.
- Upaya penguatan TPS3R dan pemilahan sampah di hulu dilakukan untuk mempertahankan predikat Adipura, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan Kota Bogor secara berkelanjutan.
Bogor, IDN Times – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menaruh perhatian serius terhadap temuan dominasi limbah popok bayi di aliran sungai Ciliwung.
Temuan ini menjadi alarm bagi ekosistem air di Kota Hujan, mengingat popok mengandung material plastik yang sulit terurai serta limbah feses yang mencemari kualitas air.
Langkah ini diambil bukan sekadar untuk menjaga kebersihan lingkungan, melainkan menjadi strategi krusial dalam mempertahankan predikat Adipura dengan meningkatkan poin penilaian pada sektor pengolahan sampah di hulu secara konsisten.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Denni Wismanto, menyatakan bahwa edukasi masif akan dilakukan agar masyarakat tidak lagi membuang popok dalam keadaan utuh ke aliran sungai.
"Temuan dominasi popok bayi di aliran sungai menjadi atensi serius. Kami akan mensosialisasikan bahwa popok mengandung plastik dan limbah yang mencemari air. Masyarakat dihimbau untuk tidak membuang popok dalam keadaan utuh ke sungai," ujar Denni, Kamis (30/4/2026).
1. Temuan limbah popok yang mendominasi jadi perhatian

Kondisi di lapangan menunjukkan pergeseran jenis sampah yang dibuang masyarakat. Sebelumnya Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengungkapkan rasa prihatinnya saat menemukan tumpukan sampah yang didominasi limbah residu saat meninjau langsung lokasi beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan dalam waktu dua jam, terkumpul sekitar 1,2 ton sampah yang tidak hanya berisi plastik kemasan, tetapi juga baju bekas, kasur, hingga popok bayi yang menumpuk di ekosistem sungai.
"Saya tadi mendapatkan banyak sekali jenis sampah, bukan hanya plastik. Ada popok bayi, sisa baju bekas, bahkan kasur. Ini bukti rendahnya kesadaran masyarakat menjaga ekosistem sungai," tegas Dedie, Sabtu (25/4/2026).
2. Edukasi pengelolaan limbah melalui medsos dan portal digital

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Denni Wismanto menjelaskan bahwa untuk menekan angka pembuangan residu ke sungai, Pemkot Bogor akan memanfaatkan media sosial dan portal digital pemerintah guna memberikan panduan pengelolaan limbah yang benar di tingkat rumah tangga.
Edukasi ini penting agar masyarakat memahami bahaya jangka panjang dari limbah rumah tangga dan mulai mengubah kebiasaan membuang sampah tanpa dipilah. Selain itu Denni menekankan bahwa pemilahan dari sumber adalah kunci utama agar beban sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat diminimalisir.
"Kami memperkuat peran Bank Sampah dan TPS3R di wilayah agar residu yang dibuang ke TPA bisa diminimalisir," jelas Denni Wismanto.
3. Ambisi pertahankan Adipura melalui konsistensi pengolahan hulu

Langkah penanganan limbah melalui pemilihan jenis limbah di lingkup rumah tangga dan penguatan TPS3R ini menjadi bagian dari peta jalan Pemkot Bogor untuk mempertahankan supremasi di bidang kebersihan.
Denni menegaskan, target besar tahun ini adalah meningkatkan poin penilaian melalui pengolahan sampah di hulu yang konsisten setiap tahunnya. Dengan sistem pemilahan yang berjalan di tingkat wilayah, Kota Bogor optimistis mampu meraih predikat Adipura kembali dengan kualitas lingkungan yang jauh lebih sehat.
"Target kami adalah mempertahankan predikat yang sudah diraih dan meningkatkan poin penilaian pada pengolahan sampah di hulu secara konsisten setiap tahunnya," katanya.

















