Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Listrik Mati, Sebagian Besar Wilayah Kuba Gelap Gulita

Listrik Mati, Sebagian Besar Wilayah Kuba Gelap Gulita
potret bendera Kuba (pexels.com/Matthias Oben)
Intinya Sih
  • Dua pertiga wilayah Kuba, termasuk Havana, mengalami pemadaman listrik besar akibat gangguan di beberapa pembangkit, membuat aktivitas warga terganggu dan menyoroti rapuhnya sistem energi negara itu.
  • Sistem kelistrikan Kuba sudah usang dan diperparah oleh embargo minyak Amerika Serikat sejak 1960-an, menyebabkan krisis energi berkepanjangan dengan durasi pemadaman hingga puluhan jam per hari.
  • Pemerintah AS kini melonggarkan embargo minyak terhadap Kuba, mengizinkan Venezuela mengekspor minyak untuk sektor swasta sambil menuntut reformasi ekonomi dan tata kelola yang lebih baik dari pemerintah Kuba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sebagian besar wilayah di Kuba mengalami mati listrik pada Rabu (4/3/2026). Hal ini terjadi karena masalah pada sistem jaringan kelistrikan yang ada di beberapa pembangkit listrik.

Menurut keterangan Perusahaan Listrik Nasional Kuba (UNE), masalah mulanya terjadi di Pembangkit Listrik Antonio Guiteras sekitar siang hari waktu setempat. Kemudian, masalah serupa dialami oleh pembangkit listrik lainnya yang ada di Kuba.

UNE menambahkan, dua per tiga wilayah Kuba, termasuk ibu kota Havana, mengalami mati listrik imbas masalah ini. Peristiwa ini mengganggu aktivitas warga setempat, terutama untuk aktivitas yang memerlukan pasokan listrik.

1. Sistem jaringan kelistrikan di Kuba sudah usang

Saluran tegangan ekstra tinggi.
ilustrasi energi listrik (unsplash.com/Dominik Ferl)

Sistem jaringan kelistrikan yang ada di pembangkit listrik di Kuba memang sudah usang. Banyak komponen di pembangkit listrik yang semestinya sudah harus diganti karena sudah tua.

Di samping krisis energi akibat embargo minyak dari Amerika Serikat, inilah yang menyebabkan Kuba sering mengalami mati listrik. Bahkan durasi pemadaman listrik bisa sampai 20 jam dalam sehari.

“Semua yang ada di kulkas, seperti daging, susu bayi, dan semuanya akan membusuk,” kata ayah dari seorang bayi berusia 6 bulan, Damian Salvador, mengeluhkan pemadaman listrik yang sering terjadi di Kuba.

2. AS sudah mengembargo Kuba sejak 1960-an

Bendera Amerika Serikat sedang berkibar.
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrew Patrick Photo)

Peristiwa mati listrik pada Rabu merupakan pemadaman listrik terbaru di Kuba selain yang terjadi imbas krisis energi karena embargo minyak dari AS. Sebab, peristiwa mati listrik sebelumnya kebanyakan disebabkan oleh krisis energi akibat embargo tersebut.

Sebetulnya, embargo ekonomi yang diberikan AS kepada Kuba sudah berjalan sejak 1960-an. Namun, sejak Donald Trump menjabat lagi sebagai presiden pada Januari 2025, AS makin gencar mengembargo Kuba, terutama untuk produk minyak.

Pada Januari 2026 lalu, Negeri Paman Sam bahkan melarang negara-negara penghasil minyak dunia untuk menjual minyaknya ke Kuba. Jika melanggar, Trump mengancam akan memberi tarif dagang tinggi kepada negara-negara tersebut.

3. AS sudah melonggarkan embargo minyak untuk Kuba

Tambang minyak.
ilustrasi tambang minyak (unsplash.com/Zbynek Burival)

Meski begitu, saat ini, AS sudah melonggarkan embargo ekonomi terhadap Kuba, terutama untuk produk minyak. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pernyataannya pada Februari 2026 lalu mengatakan, langkah ini diambil karena dampak krisis energi yang terjadi di Kuba imbas embargo minyak dari AS sudah memprihatinkan. Bahkan, sampai memengaruhi roda perekonomian.

Sebagai tindak lanjut dari kelonggaran ini, Kementerian Keuangan AS mengizinkan Venezuela untuk kembali mengekspor minyak ke Kuba setelah sebelumnya berhenti mengekspor sejak Desember 2025. Namun, Venezuela hanya diizinkan menjual minyak untuk sektor swasta yang ada di Kuba saja. Tidak boleh untuk sektor pemerintah. 

Sebagai timbal balik atas kelonggaran ini, Marco meminta Kuba untuk membenahi pemerintahannya, terutama dalam aspek ekonomi. Sebab, menurutnya, masalah di Kuba tidak hanya disebabkan oleh embargo ekonomi dari AS saja, tetapi juga oleh manajemen dan tata kelola ekonomi yang buruk.

“Namun, Kuba perlu berubah. Kuba perlu berubah secara drastis karena ini satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya,” kata Rubio dilansir France 24.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More