Media Israel Beritakan Mojtaba Khamenei Tak Sadarkan Diri di RS

- Media Israel melaporkan Mojtaba Khamenei dalam kondisi tidak sadar dan dirawat di Qom setelah luka serius akibat serangan udara yang juga menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
- Memo intelijen AS-Israel menyebut lokasi Mojtaba di Qom dan menegaskan ia belum muncul di publik sejak menjabat, memicu spekulasi soal kondisinya meski Iran mengklaim ia masih memimpin.
- Mojtaba menghadapi tantangan besar menjaga stabilitas politik dan ekonomi Iran, sementara publik menunggu bukti nyata kepemimpinannya di tengah persepsi sistem pemerintahan yang makin turun-temurun.
Jakarta, IDN Times - Laporan media Israel, Times of Israel melaporkan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam keadaan tidak sadar dan saat ini sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di kota Qom, Iran.
Mengutip masukan dari memo diplomatik yang dibagikan oleh sumber intelijen AS-Israel dengan sekutu-sekutu Teluknya, laporan tersebut menambahkan Khamenei mengalami luka serius dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari. Akibatnya, ia tidak dapat menjalankan negara dan sedang menjalani perawatan di Qom.
"Mojtaba Khamenei sedang dirawat di Qom dalam kondisi kritis, tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim," demikian bunyi memo yang dilaporkan Times of Israel, Selasa (7/4/2026).
1. Memo AS-Israel klaim tahu lokasi Mojtaba Khamenei

Memo tersebut juga mengungkapkan lokasi Pemimpin Tertinggi untuk pertama kalinya sejak ia diangkat menjadi kepala negara. Ia saat ini tinggal di kota pusat dan dianggap suci menurut pemahaman Islam Syiah.
Seperti yang disebutkan dalam memo tersebut, badan intelijen Amerika Serikat dan Israel telah mengetahui lokasi Pemimpin Tertinggi, namun tak diungkapkan.
2. Mojtaba Khamenei belum terlihat di muka publik

Sejak berkuasa, Khamenei belum terlihat di depan umum hingga saat ini, yang menimbulkan pertanyaan tentang kehidupannya. Rumor beredar ulama Syiah berusia 56 tahun itu meninggal dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya.
Namun, para pejabat Iran beberapa kali menyebutkan Khamenei saat ini memimpin Iran dan berperan dalam menentukan arah tindakan negara dalam konflik Asia Barat yang sedang berlangsung, meskipun telah mengkonfirmasi berita tentang dirinya yang terluka dalam serangan 28 Februari.
Sebelumnya, Khamenei menyampaikan dua pernyataan, namun, pernyataannya dibacakan oleh penyiar di televisi pemerintah Iran. Sebuah video yang menunjukkan pemimpin tersebut berjalan ke ruang perang dan menganalisis peta pembangkit listrik tenaga nuklir Israel di Dimona juga dirilis beberapa hari yang lalu.
3. Kepemimpinan Mojtaba masih ditunggu

Sekarang, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru terpilih, banyak yang memperkirakan Mojtaba akan melanjutkan kebijakan garis keras ayahnya. Beberapa juga percaya seorang pria yang telah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan AS-Israel itu tidak mungkin tunduk pada tekanan Barat.
Tetapi ia juga menghadapi tugas berat untuk memastikan kelangsungan hidup Republik Islam dan meyakinkan publik, ia adalah orang yang tepat untuk memimpin negara keluar dari kehancuran politik dan ekonomi.
Rekam jejak kepemimpinannya sebagian besar belum teruji, dan persepsi bahwa republik tersebut berubah menjadi sistem turun-temurun dapat semakin memperdalam ketidakpuasan publik.


















