Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Media Israel Beritakan Mojtaba Khamenei Tak Sadarkan Diri di RS

Media Israel Beritakan Mojtaba Khamenei Tak Sadarkan Diri di RS
potret Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei (commons.wikimedia.org/Mostafa Tehrani)
Intinya Sih
  • Media Israel melaporkan Mojtaba Khamenei dalam kondisi tidak sadar dan dirawat di Qom setelah luka serius akibat serangan udara yang juga menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
  • Memo intelijen AS-Israel menyebut lokasi Mojtaba di Qom dan menegaskan ia belum muncul di publik sejak menjabat, memicu spekulasi soal kondisinya meski Iran mengklaim ia masih memimpin.
  • Mojtaba menghadapi tantangan besar menjaga stabilitas politik dan ekonomi Iran, sementara publik menunggu bukti nyata kepemimpinannya di tengah persepsi sistem pemerintahan yang makin turun-temurun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Laporan media Israel, Times of Israel melaporkan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam keadaan tidak sadar dan saat ini sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di kota Qom, Iran.

Mengutip masukan dari memo diplomatik yang dibagikan oleh sumber intelijen AS-Israel dengan sekutu-sekutu Teluknya, laporan tersebut menambahkan Khamenei mengalami luka serius dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari. Akibatnya, ia tidak dapat menjalankan negara dan sedang menjalani perawatan di Qom.

"Mojtaba Khamenei sedang dirawat di Qom dalam kondisi kritis, tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim," demikian bunyi memo yang dilaporkan Times of Israel, Selasa (7/4/2026).

1. Memo AS-Israel klaim tahu lokasi Mojtaba Khamenei

Media Israel Beritakan Mojtaba Khamenei Tak Sadarkan Diri di RS
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sedang berjalan menggandeng kedua anaknya. (commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)

Memo tersebut juga mengungkapkan lokasi Pemimpin Tertinggi untuk pertama kalinya sejak ia diangkat menjadi kepala negara. Ia saat ini tinggal di kota pusat dan dianggap suci menurut pemahaman Islam Syiah.

Seperti yang disebutkan dalam memo tersebut, badan intelijen Amerika Serikat dan Israel telah mengetahui lokasi Pemimpin Tertinggi, namun tak diungkapkan.

2. Mojtaba Khamenei belum terlihat di muka publik

Media Israel Beritakan Mojtaba Khamenei Tak Sadarkan Diri di RS
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (AFP / Khamenei.ir)

Sejak berkuasa, Khamenei belum terlihat di depan umum hingga saat ini, yang menimbulkan pertanyaan tentang kehidupannya. Rumor beredar ulama Syiah berusia 56 tahun itu meninggal dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya.

Namun, para pejabat Iran beberapa kali menyebutkan Khamenei saat ini memimpin Iran dan berperan dalam menentukan arah tindakan negara dalam konflik Asia Barat yang sedang berlangsung, meskipun telah mengkonfirmasi berita tentang dirinya yang terluka dalam serangan 28 Februari.

Sebelumnya, Khamenei menyampaikan dua pernyataan, namun, pernyataannya dibacakan oleh penyiar di televisi pemerintah Iran. Sebuah video yang menunjukkan pemimpin tersebut berjalan ke ruang perang dan menganalisis peta pembangkit listrik tenaga nuklir Israel di Dimona juga dirilis beberapa hari yang lalu.

3. Kepemimpinan Mojtaba masih ditunggu

Media Israel Beritakan Mojtaba Khamenei Tak Sadarkan Diri di RS
Hojjat-ol-Islam Sayyed Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Republik Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Sekarang, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru terpilih, banyak yang memperkirakan Mojtaba akan melanjutkan kebijakan garis keras ayahnya. Beberapa juga percaya seorang pria yang telah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan AS-Israel itu tidak mungkin tunduk pada tekanan Barat.

Tetapi ia juga menghadapi tugas berat untuk memastikan kelangsungan hidup Republik Islam dan meyakinkan publik, ia adalah orang yang tepat untuk memimpin negara keluar dari kehancuran politik dan ekonomi.

Rekam jejak kepemimpinannya sebagian besar belum teruji, dan persepsi bahwa republik tersebut berubah menjadi sistem turun-temurun dapat semakin memperdalam ketidakpuasan publik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More