Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menlu AS Isyaratkan Kabar Baik dari Negosiasi dengan Iran Malam Ini

Menlu AS Isyaratkan Kabar Baik dari Negosiasi dengan Iran Malam Ini
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Menlu AS Marco Rubio menyebut negosiasi dengan Iran menunjukkan kemajuan signifikan, dengan peluang tercapainya kesepakatan yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata 60 hari.
  • Isi rancangan kesepakatan masih menyisakan isu besar seperti pencabutan sanksi, pembatasan program nuklir Iran, serta penyerahan uranium yang diperkaya tinggi untuk menjamin transparansi internasional.
  • Rencana kesepakatan memicu perpecahan di Partai Republik; beberapa senator menilai proposal terlalu lunak terhadap Teheran, sementara Trump tetap yakin hasilnya akan menguntungkan Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) menyebut peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran semakin terbuka setelah kedua negara disebut telah memiliki proposal yang cukup solid dalam negosiasi terbaru. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di tengah meningkatnya harapan dunia terhadap meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Rubio mengatakan pembicaraan antara Washington dan Teheran masih berlangsung dan belum sepenuhnya selesai. Namun, ia memberi sinyal pengumuman penting dapat terjadi dalam waktu dekat.

“Kami masih dalam proses. Seperti yang saya katakan, kami pikir mungkin ada kabar tadi malam. Mungkin hari ini (Senin),” kata Rubio saat berkunjung ke New Delhi, India, dilansir dari BBC, Senin (25/5/2026).

Pernyataan Rubio muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya telah meminta tim negosiator untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan, meski sebelumnya ia sempat menyebut kesepakatan sudah dekat.

Menurut sejumlah laporan media AS, rancangan kesepakatan itu mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta kelanjutan negosiasi terkait program nuklir Iran. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia turun tajam, sementara bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin.

1. Selat Hormuz jadi fokus utama negosiasi

ilustrasi Selat Hormuz
ilustrasi Selat Hormuz (pixabay.com/Bergadder)

Dalam keterangannya, Rubio menyebut salah satu poin penting dalam pembicaraan adalah kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz oleh Iran. Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi dunia.

“Kami memiliki sesuatu yang menurut saya cukup solid di atas meja terkait kemampuan mereka membuka kembali selat itu,” ujar Rubio merujuk pada Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Iran sebelumnya memblokade wilayah itu setelah konflik dengan AS dan Israel memanas.

Meski demikian, Rubio meminta publik tidak terlalu cepat menyimpulkan arah negosiasi. “Saya tidak akan membaca terlalu jauh soal ini. Butuh waktu untuk mendengar kembali respons dari Iran,” katanya.

Laporan CBS News menyebut intelijen AS meyakini Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei saat ini berada di lokasi rahasia setelah mengalami luka dalam serangan Israel pada hari pertama perang yang menewaskan ayah sekaligus pendahulunya. Situasi itu disebut membuat komunikasi dengan para utusan Iran menjadi lebih sulit dan memperlambat negosiasi.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan kedua pihak saat ini berada dalam posisi “sangat dekat dan sangat jauh” dari tercapainya kesepakatan.

2. Isi kesepakatan masih sisakan banyak persoalan

Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Sejumlah media AS melaporkan bahwa proposal yang sedang dibahas bukan merupakan penyelesaian akhir. Kesepakatan itu disebut masih menyisakan sejumlah isu besar untuk dinegosiasikan lebih lanjut. Beberapa persoalan yang belum tuntas antara lain terkait pencabutan sanksi terhadap Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, hingga tuntutan Washington agar Teheran membatasi program nuklirnya.

Laporan media AS juga menyebut Iran kemungkinan akan menyerahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi sebagai bagian dari kesepakatan. Pada awal konflik, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen.

Tingkat pengayaan tersebut dinilai hanya selangkah lagi menuju level 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir. Namun Iran terus membantah tuduhan bahwa program nuklirnya bertujuan militer.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya siap memberikan jaminan kepada dunia internasional. “Kami siap meyakinkan dunia bahwa kami tidak mengejar senjata nuklir,” ujarnya kepada televisi pemerintah Iran.

Sementara itu, Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis bahwa Iran “harus memahami” larangan tersebut.

3. Trump hadapi kritik dari internal Partai Republik

Donald Trump sedang berpidato.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di acara Rose Garden Club dinner yang digelar di Gedung Puting, Washington D.C., pada 11 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Rencana kesepakatan dengan Iran justru memicu perpecahan di internal Partai Republik. Sejumlah senator dari partai Trump menilai proposal tersebut terlalu lunak terhadap Teheran. Senator Ted Cruz menyebut kesepakatan itu akan menjadi kesalahan yang membawa bencana. Kritik serupa disampaikan Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker.

Menurut Wicker, gencatan senjata 60 hari akan membuat semua yang dicapai melalui Operasi Epic Fury menjadi sia-sia. Senator Lindsey Graham, yang dikenal sebagai sekutu dekat Trump, juga mempertanyakan arah kebijakan tersebut jika Iran nantinya tetap dipandang dominan di kawasan Timur Tengah.

“Itu membuat orang bertanya-tanya mengapa perang ini dimulai sejak awal,” kata Graham.

Trump membalas kritik tersebut dengan keras. “Saya tidak mendengarkan para pecundang yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka pahami,” tulisnya di Truth Social.

Trump juga menegaskan bahwa jika kesepakatan dengan Iran tercapai, maka itu akan menjadi kesepakatan yang baik dan tepat.

Meski optimisme mulai muncul, para pelaku industri pelayaran global menilai dampak kesepakatan tidak akan langsung terasa. Kepala Eksekutif Vespucci Maritime, Lars Jensen, mengatakan rantai pasok dunia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal seperti sebelum krisis.

Menurut Jensen, bahkan jika kesepakatan diumumkan dalam beberapa hari ke depan, industri pelayaran masih akan tetap berhati-hati dan ragu melakukan perubahan operasional besar.

Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More