"Di wilayah Surabaya, pelaksanaan seleksi tertulis Mental Ideologi (MI) digelar di Stadion Gelora Bung Tomo. Selain itu, pelaksanaan seleksi dipusatkan di wilayah Kodam V/Brawijaya," ujar Kepala Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, dalam keterangan tertulis yang dikutip, Jumat (22/5/2026).
Calon Manajer Kopdes-Kampung Nelayan Tes Ideologi, Ada Pertanyaan soal Demo

- Sebanyak 101.158 peserta muda mengikuti tes tertulis mental ideologi calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih di 40 lokasi seluruh Indonesia, dengan soal terbuka bertanda rahasia.
- Pakar hukum Bhatara Ibnu Reza menilai pertanyaan dalam tes merupakan bentuk profiling oleh TNI serta mengkritik keterlibatan militer dalam pengelolaan koperasi sebagai langkah yang tidak profesional.
- Kemhan menjelaskan peserta yang lolos akan menjadi pegawai BUMN di bawah BP BUMN, dengan total 35 ribu posisi untuk Koperasi Desa dan 5.476 posisi untuk Kampung Nelayan Merah Putih.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 101.158 anak muda mengikuti seleksi tes tertulis mental ideologi sebagai calon manajer Koperasi Desa Marah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Tes tersebut dilakukan secara serentak di 40 titik di seluruh Indonesia pada 20 Mei 2026, salah satunya di Gelora Bung Tomo, Jawa Timur.
Pelaksanaan tes tertulis di Jawa Timur dipantau langsung Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemhan), Letjen TNI Tri Budi Utomo, yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana unsur Kemhan dalam panitia seleksi nasional pengadaan sumber daya manusia Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Jenderal bintang satu itu menjelaskan peserta seleksi manajer Koperasi Merah Putih mencapai 12.491 orang. Sedangkan, tes pemeriksaan kesehatan dilaksanakan bertahap mulai 21 hingga 31 Mei 2026 di sejumlah fasilitas kesehatan, serta lokasi seleksi yang telah ditentukan.
Rico mengatakan Kemhan berkomitmen untuk menjaga integritas dan kualitas pelaksanaan seleksi, agar mampu menghasilkan sumber daya manusia terbaik bagi Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
1. Peserta diminta memberikan pendapat soal demonstrasi mahasiswa yang sering terjadi

Pada momen seleksi tes tulis mental ideologi itu, para peserta hadir mengenakan pakaian kemeja putih dan bawahan hitam. Mereka terlihat membawa papan sebagai alas untuk menulis dan map berwarna jingga.
Dalam satu dokumentasi yang dibagikan Kemhan, terpampang halaman depan seleksi tertulis yang diisi peserta. Seleksi tertulis itu berisi pertanyaan terbuka dan membutuhkan uraian panjang. Tanda 'rahasia' juga tertulis di bagian atas dokumen yang berisi soal-soal itu.
Di halaman depan setidaknya ada enam pertanyaan terbuka, mulai dari riwayat hidup, keluarga, dan organisasi yang pernah diikuti selama di perguruan tinggi, hingga permasalahan yang pernah dialami. Sedangkan pertanyaan kedua, berisi pandangan peserta terhadap aksi unjuk rasa mahasiswa yang marak terjadi akhir-akhir ini.
"Kegiatan di luar kampus menjadi bagian penting, dalam proses pendidikan di perguruan tinggi di mana mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang lebih matang untuk menghadapi tantangan di masa depan. Kegiatan di luar kampus juga memberi kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat, instansi, atau lingkungan baru agar dapat memperluas cara pandang mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang ada di sekitar mereka. Bagaimana pendapat atau tanggapan saudara terhadap aksi unjuk rasa mahasiswa? Sebutkan aksi penyampaian aspirasi atau unjuk rasa atau demonstrasi yang pernah diikuti. Jabatan Saudara di dalam aksi tersebut apa? Dan tema apa yang diperjuangkan? Jelaskan!"
Pertanyaan ketiga menanyakan apakah peserta pernah mengalami masalah pendidikan, keluarga maupun pergaulan. Pertanyaan keempat, berisi pertanyaan siapa yang mendorong peserta untuk ikut melamar sebagai calon manajer Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
1. TNI menggali profil peserta seleksi

Direktur Democratic Judicial Reform (De Jure), Bhatara Ibnu Reza, mengatakan pertanyaan-pertanyaan tersebut bagian dari upaya TNI melakukan penggalian profil terhadap peserta seleksi1. manajer Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
"Iya, pertanyaan itu memang profiling. Kemudian mereka (TNI) coba mengetahui apakah calon pegawai tunduk atau tidak, atau istilahnya mereka punya satu visi yang sama gak dengan pemberi kerja. Sehingga para peserta akan dinilai apakah masih bisa di bawah kontrol mereka," ujar Bhatara kepada IDN Times melalui telepon, Jumat (22/5/2026).
2. TNI dianggap tidak profesional ikut cawe-cawe pengelolaan koperasi

Bhatara mempertanyakan alasan TNI ikut terlibat pengelolaan Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Sebab, tidak pernah ada preseden di negara manapun militer ikut dalam pengelolaan manajemen koperasi. Maka, kata dia, praktik ini adalah contoh lain TNI cawe-cawe di ranah sipil.
"Mana ada angkatan bersenjata di dunia ini ikut ngurusin koperasi? Kan ini adalah praktik dari apa yang disebut remiliterisasi dalam kehidupan sosial politik Indonesia. Makanya, semua (keterlibatan TNI di berbagai bidang) berlangsung massif," kata pengajar hukum Universitas Trisakti itu.
Padahal, kata Bhatara, sesuai undang-undang, tugas utama TNI adalah mengurus isu pertahanan dari ancaman luar Indonesia. "Dengan melibatkan TNI dalam seleksi manajer Koperasi Merah Putih, menjadikan tentara kita tidak profesional. Kita kembali ke era Orde Baru, di mana tentara bisa masuk ke ruang-ruang sipil di mana saja," tutur dia.
Bhatara pun mewanti-wanti, berdasarkan contoh nyata yang ada, tidak pernah ada satu pun negara yang pemerintahannya berhasil di bidang sosial, politik hingga ekonomi, bila dipimpin tentara.
3. Kemhan sebut manajer yang terpilih akan jadi pegawai BUMN

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan setiap peserta yang lolos akan menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Mereka akan menjadi pegawai BUMN di bawah BP BUMN," kata dia, kepada IDN Times melalui pesan pendek, Jumat (22/5/2026).
Penjelasan serupa juga pernah disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Peserta yang terpilih menjadi manajer Koperasi Desa Merah Putih, berstatus sebagai pegawai PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), yang mengelola proyek ini selama tahap piloting selama dua tahun. Sedangkan, pengelola Kampung Nelayan Merah Putih akan menjadi pegawai PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero).
"Sama, semuanya itu perjanjian kerja waktu tertentu," ujar Zulkifli di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.
Pemerintah, kata Zulkifli, membuka 35 ribu lowongan kerja untuk posisi manajer Koperasi Desa Merah Putih; dan 5.476 lowongan sebagai pegawai Kampung Nelayan Merah Putih.

















