Jet Nigeria yang Tewaskan 100 Orang di Pasar Ternyata Incar Teroris

- Sedikitnya 100 warga sipil tewas dan puluhan luka setelah jet tempur Nigeria salah sasaran, menghantam pasar Jilli saat operasi melawan Boko Haram di negara bagian Yobe.
- Pemerintah daerah mengakui adanya korban sipil dan mengerahkan tim tanggap darurat, sementara Amnesty International memverifikasi laporan melalui saksi, tenaga medis, dan penyintas di lokasi.
- Militer Nigeria membantah kesalahan target, menyebut serangan berhasil mengenai basis teroris, namun Amnesty mengecam tindakan itu dan menuntut penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran hak asasi.
Jakarta, IDN Times – Sedikitnya 100 warga sipil meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka setelah serangan udara Angkatan Udara Nigeria menghantam pasar mingguan di desa Jilli, negara bagian Yobe, wilayah timur laut, menurut laporan Amnesty International pada Minggu (12/4/2026). Serangan tersebut terjadi saat aktivitas jual beli tengah berlangsung di lokasi.
Lokasi kejadian berada di dekat perbatasan negara bagian Borno yang dikenal sebagai area operasi kelompok jihadi. Target militer sebenarnya mengarah pada kelompok pemberontak Boko Haram, namun serangan justru mengenai warga sipil yang sedang berada di pasar.
1. Laporan korban jiwa dikonfirmasi berbagai pihak

Dilansir Al Jazeera, Amnesty International menyatakan telah memeriksa keterangan langsung dari para penyintas dan memastikan lebih dari 100 orang tewas serta 35 lainnya mengalami luka. Kepala Desa Jilli, Lawan Zanna Nur Geidam, menyebut total korban tewas dan luka mencapai sekitar 200 orang.
Sementara itu, seorang petugas di Rumah Sakit Umum Geidam melaporkan bahwa setidaknya 23 korban luka tengah mendapatkan perawatan di fasilitas tersebut, seperti dikutip Associated Press. Informasi ini menunjukkan sebagian korban telah dirujuk ke layanan medis terdekat.
Pasar yang berada di wilayah perbatasan Borno-Yobe diketahui kerap didatangi anggota Boko Haram untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Abdulmumin Bulama, anggota kelompok keamanan sipil yang bekerja sama dengan militer Nigeria di timur laut, menjelaskan bahwa intelijen mendapati kelompok tersebut berkumpul sangat dekat dengan pasar dan diduga sedang menyiapkan serangan ke komunitas sekitar.
Ia menggambarkan dasar keputusan militer dalam melancarkan serangan tersebut.
“Intel tersebut dibagikan dan jet Angkatan Udara bertindak berdasarkan informasi yang kredibel itu,” kata Bulama, dikutip NBC News.
2. Pemerintah daerah jelaskan operasi militer di wilayah konflik

Pemerintah negara bagian Yobe menyatakan bahwa militer sedang menjalankan operasi terhadap basis kuat Boko Haram di kawasan tersebut. Dalam penjelasannya, pemerintah mengakui bahwa sejumlah warga yang tengah berbelanja di pasar Jilli ikut terdampak serangan.
Pernyataan serupa juga disampaikan Brigadir Jenderal Dahiru Abdulsalam yang bertindak sebagai penasihat militer pemerintah negara bagian Yobe. Ia menegaskan bahwa operasi memang menyasar kelompok militan di area tersebut.
Badan Penanggulangan Darurat Negara Bagian Yobe (SEMA) menerima laporan awal terkait korban di kalangan pedagang pasar Jilli. Lembaga itu kemudian mengerahkan tim tanggap darurat ke lokasi, meminta warga tetap tenang, serta mencatat banyak korban luka dibawa ke rumah sakit di Geidam dan Maiduguri.
Direktur Amnesty International Nigeria, Isa Sanusi, menyebut timnya telah berbicara langsung dengan saksi di lokasi, tenaga medis, petugas penanganan korban, serta para korban yang selamat. Informasi tersebut menjadi dasar verifikasi lapangan yang dilakukan organisasi tersebut.
3. Militer bantah kesalahan target serangan udara

Militer Nigeria menyatakan operasi tersebut berhasil menghantam basis teroris sekaligus pusat logistik Boko Haram. Mereka mengklaim puluhan jihadis yang menggunakan sepeda motor telah tewas, tanpa menyebut adanya korban sipil maupun kesalahan sasaran.
Selain itu, militer menegaskan bahwa penggunaan sepeda motor tetap dilarang di wilayah konflik. Setiap aktivitas semacam itu di area terlarang disebut akan ditindak secara serius oleh aparat keamanan.
Amnesty International mengecam keras insiden tersebut dan menilai serangan udara bukan metode penegakan hukum yang sah. Organisasi itu menyatakan penggunaan kekuatan mematikan secara ceroboh dianggap tidak sah, berlebihan, serta mencerminkan sikap militer yang mengabaikan perlindungan terhadap warga sipil.
Amnesty International juga mendesak otoritas Nigeria untuk melakukan penyelidikan independen dan imparsial. Mereka meminta agar pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini dimintai pertanggungjawaban.
Kesalahan sasaran dalam operasi udara disebut bukan kejadian baru di Nigeria. Catatan Associated Press menunjukkan sedikitnya 500 warga sipil tewas akibat operasi militer serupa sejak 2017.
Sejumlah analis keamanan menyoroti adanya kelemahan dalam pengumpulan intelijen serta kurangnya koordinasi antara pasukan darat dan udara. Kondisi ini dinilai berkontribusi terhadap insiden salah sasaran.
Nigeria yang merupakan negara dengan populasi terbesar di Afrika masih menghadapi tantangan keamanan di wilayah utara. Konflik panjang melibatkan Boko Haram dan pecahannya, Islamic State West Africa Province, serta kelompok lain seperti Lakurawa di barat laut dekat perbatasan Niger.
Konflik berkepanjangan tersebut telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.


















