Pada 7 April 2026, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan bahwa di rute Mediterania Tengah saja, sekitar 765 orang telah meninggal sejak awal 2026. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana lebih dari 460 orang tewas.
Perahu Migran Rusak di Laut Mediterania, 17 Orang Tewas

- Sedikitnya 17 migran tewas dan sembilan hilang setelah perahu mereka rusak selama delapan hari di Laut Mediterania, sementara tujuh orang berhasil diselamatkan di dekat Tobruk, Libya timur.
- Pengadilan Kriminal Tripoli menjatuhkan hukuman hingga 22 tahun penjara kepada empat anggota geng perdagangan manusia di Zuwara, serta memerintahkan penangkapan kelompok lain yang memberangkatkan migran ilegal.
- Laporan PBB mengungkap para migran di Libya sering menjadi korban penculikan dan kekerasan seksual oleh jaringan perdagangan manusia, dengan banyak yang ditahan hingga keluarga membayar uang tebusan.
Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang Libya melaporkan sedikitnya 17 migran tewas setelah perahu yang mereka tumpangi rusak dan terombang-ambing selama 8 hari di Laut Mediterania. Sembilan orang lainnya yang hilang juga diperkirakan tewas
Dilansir dari The Straits Times, Bulan Sabit Merah Libya mengatakan bahwa para relawan, bekerja sama dengan angkatan laut dan penjaga pantai Tentara Nasional Libya, berhasil menyelamatkan tujuh orang dalam operasi pencarian dan penyelamatan di kota Tobruk di Libya timur, dekat perbatasan dengan Mesir. Pejabat keamanan mengatakan bahwa jenazah sembilan migran yang hilang kemungkinan akan terdampar di pantai dalam beberapa hari ke depan.
Dalam foto yang diunggah oleh Bulan Sabit Merah, tampak para relawan memasukkan jenazah ke dalam kantong plastik hitam dan menempatkannya di bagian belakang kendaraan pick-up.
1. Libya hukum anggota geng perdagangan manusia

Pada Selasa (28/4/2026), jaksa agung Libya mengatakan bahwa Pengadilan Kriminal Tripoli menjatuhkan hukuman hingga 22 tahun penjara kepada empat anggota geng kriminal di Zuwara, Libya barat. Mereka terlibat dalam perdagangan manusia, penculikan demi mendapatkan uang tebusan dan penyiksaan.
Dalam kasus terpisah, Kantor Jaksa Penuntut Umum, pada Senin (27/4/2026), juga memerintahkan penangkapan geng lainnya yang diduga memberangkatkan migran dari Tobruk dengan perahu yang tidak layak. Perahu tersebut kemudian terbalik, menewaskan 38 warga negara Sudan, Mesir dan Ethiopia.

Sejak lengsernya Muammar Gaddafi dalam pemberontakan yang didukung NATO pada 2011, Libya telah menjadi titik transit utama bagi para migran yang ingin melarikan diri dari perang dan kemiskinan menuju Eropa. Mereka menempuh perjalanan berbahaya melintasi Laut Mediterania dengan kapal yang tidak layak dan penuh penumpang.
“Di seluruh kawasan Mediterania, setidaknya 990 kematian telah tercatat sepanjang 2026,” kata IOM dalam pernyataannya, dikutip dari Al Jazeera.
3. Para migran kerap jadi sasaran penculikan di Libya

Menurut laporan Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR), para migran, pencari suaka, dan pengungsi di Libya juga kerap menjadi sasaran penculikan oleh jaringan perdagangan manusia. Mereka ditahan dalam jangka waktu lama sampai mereka dijual atau para penculik menerima uang tebusan.
Salah satu korban, seorang perempuan Eritrea yang tidak disebutkan namanya, mengaku ditahan selama 6 pekan di sebuah rumah perdagangan manusia di Tobruk.
"Saya berharap saya mati. Ini merupakan perjalanan seperti neraka. Laki-laki yang berbeda memperkosa saya berkali-kali. Gadis-gadis berusia 14 tahun diperkosa setiap hari," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya baru dibebaskan setelah keluarganya membayar uang tebusan.

















