Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Thailand Tangguhkan Izin Kepemilikan Senpi, Buntut Penembakan Massal

Thailand Tangguhkan Izin Kepemilikan Senpi, Buntut Penembakan Massal
bendera Thailand. (pexels.com/Markus Winkler)
  • Thailand menangguhkan penerbitan izin senjata api, melarang pemilik membawa senjata ke ruang publik, dan akan meninjau izin lama usai penembakan massal yang menewaskan sembilan orang.
  • Pemerintah memperketat pengawasan senjata melalui audit pedagang, pemeriksaan amunisi, pencatatan transaksi elektronik real-time, serta periode penyerahan senjata ilegal atau warisan tanpa sanksi.
  • Penyidik masih mendalami motif remaja 14 tahun yang menggunakan senjata kakeknya; pelaku diduga belajar memakai senjata dari media sosial dan pernah menghadapi tekanan akademik serta perundungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Pemerintah Thailand menghentikan sementara penerbitan izin kepemilikan senjata api menyusul penembakan massal yang menewaskan sembilan orang, termasuk pelaku berusia 14 tahun pada pekan lalu. Pemerintah juga akan meninjau izin yang telah diterbitkan.

Pemilik senjata yang telah memiliki izin juga dilarang membawa senjata ke tempat umum. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan kebijakan tersebut akan diterapkan hingga aturan baru dengan pengawasan lebih ketat serta hukuman yang lebih berat diberlakukan, dikutip dari Bangkok Post.

Pada Jumat lalu, seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun menembak mati kakek-neneknya di Nonthaburi, di sebelah utara Bangkok. Pelaku kemudian menewaskan enam orang lainnya di sekolahnya sebelum akhirnya mengarahkan senjata tersebut ke dirinya sendiri. Penembakan itu menjadi pembunuhan massal paling mematikan di Thailand dalam hampir empat tahun terakhir.

  1. 1. Thailand memiliki jutaan senjata api yang tidak terdaftar

    ilustrasi pistol (unsplash.com/Tom Def)
    ilustrasi pistol (unsplash.com/Tom Def)

    Berdasarkan data Small Arms Survey pada 2017, terdapat lebih dari 10 juta senjata api milik warga sipil di Thailand. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, dengan rasio lebih dari satu senjata untuk setiap tujuh penduduk. Dari total tersebut, lebih dari 4 juta senjata disebut tidak terdaftar.

    Komisaris Jenderal Kepolisian Kerajaan Thailand, Kitrat Phanphet, memerintahkan pengawasan yang lebih ketat terhadap senjata api yang dikeluarkan pemerintah untuk kepolisian. Salah satu program yang mendapat sorotan adalah skema welfare gun yang memungkinkan pejabat publik tertentu memperoleh senjata dengan harga diskon besar. Banyak senjata dari skema tersebut dijual kembali.

    Pemerintah juga berencana memberikan periode khusus bagi masyarakat untuk menyerahkan senjata ilegal atau senjata warisan yang tidak dapat dialihkan secara legal. Selama periode tersebut, pemilik senjata yang menyerahkannya dapat dibebaskan dari sanksi, mengutip The Guardian.

  2. 2. Pemerintah Thailand perketat pengawasan penjualan senjata

    bendera Thailand. (pexels.com/Markus Winkler)
    bendera Thailand. (pexels.com/Markus Winkler)

    Thailand menyetujui sejumlah langkah darurat untuk memperketat pengawasan senjata api. Pemerintah akan mengaudit penjualan oleh pedagang senjata dengan mencocokkannya dengan data izin dan catatan pajak. Pemeriksaan terhadap amunisi di lapangan tembak juga akan diperketat.

    Dalam jangka panjang, pemerintah berencana menerapkan sistem perizinan, serta pencatatan transaksi secara elektronik dan real-time. Sistem tersebut akan terhubung dengan Departemen Bea Cukai dan Perpajakan serta mencatat identitas setiap senjata. Pemerintah meminta agar pengadilan menjatuhkan hukuman berat atas pelanggaran terkait senjata api.

    Dilansir BBC, sejumlah kelompok yang mendorong pengendalian senjata turut meminta pemeriksaan kesehatan mental dimasukkan sebagai bagian dari proses penerbitan izin. Mereka juga mendorong agar izin kepemilikan senjata dievaluasi kembali secara berkala.

  3. 3. Penyidik masih dalami motif pelaku penembakan

    ilustrasi penembakan (unsplash.com/Max Kleinen)
    ilustrasi penembakan (unsplash.com/Max Kleinen)

    Penyidik hingga kini masih mendalami motif penembakan yang dilakukan oleh remaja berusia 14 tahun tersebut. Otoritas setempat sebelumnya menyebut pelaku menghadapi tekanan terkait akademik. Salah seorang teman sekelasnya juga mengatakan bahwa pelaku pernah mengalami perundungan.

    Polisi menduga pelaku mempelajari cara menggunakan senjata secara otodidak melalui media sosial. Penyidik mengatakan terdapat bukti bahwa remaja tersebut menonton konten kekerasan secara daring dan menunjukkan ketertarikan kuat untuk mempelajari cara menggunakan senjata api.

    Pelaku menggunakan senjata milik kakeknya untuk melakukan penembakan. Ayah pelaku mengaku masih tidak memahami alasan anaknya melakukan penembakan tersebut. Dia mengatakan bahwa dirinya harus menghadapi kehilangan anak sekaligus kedua orang tuanya secara bersamaan akibat peristiwa tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More