Israel Serang Beirut, Tewaskan Komandan Radwan Hizbullah

- Israel melancarkan serangan udara di pinggiran selatan Beirut, menargetkan komandan Pasukan Radwan Hizbullah bernama Malek Ballout, yang disebut tewas dalam gempuran tersebut.
- Serangan berlanjut di berbagai wilayah Lebanon, menewaskan lebih dari 2.700 orang dan memaksa jutaan warga mengungsi, sementara bentrokan juga menelan korban di pihak militer Israel.
- Pemerintah Lebanon menolak pertemuan tingkat tinggi dengan Israel dan menuntut penarikan pasukan Israel sebagai syarat minimum untuk melanjutkan pembicaraan damai.
Jakarta, IDN Times - Pasukan Israel membombardir wilayah pinggiran selatan Beirut pada Rabu (6/5/2026). Serangan ini diklaim menargetkan komandan dari kesatuan elite Pasukan Radwan milik Hizbullah.
Insiden ini menandai gempuran pertama di kawasan ibu kota sejak gencatan senjata berlaku pada pertengahan April. Merespon serangan Israel, Hizbullah juga meluncurkan rentetan roket dan drone ke arah tentara Israel di perbatasan.
1. Targetkan petinggi pasukan elite Radwan

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz mengeluarkan pernyataan resmi terkait operasi militer tersebut. Mereka mengonfirmasi telah menginstruksikan tentaranya untuk melancarkan serangan.
Sebuah sumber yang dekat dengan Hizbullah menyebut operasi tersebut menewaskan komandan operasi Pasukan Radwan bernama Malek Ballout. Gempuran ini menghantam sebuah apartemen di Ghobeiri tempat para petinggi kelompok itu sedang menggelar pertemuan.
"Teroris Radwan bertanggung jawab atas penembakan ke permukiman Israel dan melukai tentara kami. Tidak ada teroris yang kebal, karena tangan panjang Israel akan menangkap setiap musuh dan pembunuh," ujar Netanyahu, dilansir Al Jazeera.
Pihak Hizbullah sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi mengenai klaim militer Israel. Namun, sejumlah sumber internal dari kelompok bersenjata itu membantah kabar tewasnya komandan mereka.
2. Korban tewas terus bertambah di tengah gencatan senjata

Bentrokan terus berlanjut di luar ibu kota dengan menyasar wilayah selatan dan timur Lebanon. Serangan terbaru Israel di kawasan tersebut setidaknya menewaskan 11 warga, termasuk perempuan dan anak-anak.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 2.700 orang telah terbunuh akibat rentetan serangan Israel. Lebih dari satu juta warga juga terpaksa mengungsi mencari tempat aman, sementara puluhan fasilitas kesehatan hancur lebur.
Israel kini masih mempertahankan keberadaan tentaranya di wilayah selatan Sungai Litani untuk mengamankan kawasan utara mereka. Mereka turut mendesak penduduk di belasan desa setempat untuk segera mengungsi.
Pertempuran juga membawa kerugian bagi kubu Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Mereka melaporkan 17 tentaranya tewas di wilayah selatan Lebanon usai menerima serangan balasan dari milisi Hizbullah.
3. Lebanon tolak pertemuan tingkat tinggi dengan Israel

Negosiasi perdamaian antara kedua negara masih mandek di diskusi tingkat duta besar yang difasilitasi oleh Amerika Serikat (AS). PM Lebanon Nawaf Salam menegaskan saat ini bukan momen yang tepat bagi pemerintahnya untuk menggelar dialog tingkat tinggi dengan Israel.
"Tuntutan minimum kami adalah jadwal yang jelas untuk penarikan mundur pasukan Israel. Kami juga akan mengembangkan rencana pembatasan senjata agar sepenuhnya berada di bawah kendali negara," kata Salam, dilansir CBC.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump masih optimis dapat menyelesaikan konflik. Ia meyakini masih ada peluang besar bagi kedua negara untuk merumuskan kesepakatan damai pada tahun ini.


















