Fakta-Fakta Pemakzulan Presiden Peru Imbas Skandal Perusahaan China

- Skandal Chifagate memicu pemecatan Presiden Peru.
- Kongres akan memilih presiden interim baru.
- Pemakzulan Jeri menambah daftar pemimpin Peru yang gagal menyelesaikan masa jabatan resminya.
Jakarta, IDN Times - Kongres Peru melengserkan Presiden interim Jose Jeri pada Selasa (17/2/2026). Keputusan diambil melalui pemungutan suara dengan hasil telak, yakni 75 suara setuju, 24 menolak, dan tiga abstain. Pemecatan terjadi hanya empat bulan setelah Jeri menjabat, dipicu oleh skandal Chifagate, yaitu pertemuan tidak resmi dengan eksekutif perusahaan asal China.
Jeri kini menghadapi penyelidikan awal oleh Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi dan jual beli pengaruh. Pemakzulan ini kembali memicu ketidakstabilan politik di negara Andes menjelang pemilihan umum pada April.
1. Dipicu pertemuan rahasia dengan pengusaha China

Kontroversi bermula dari bocornya rekaman video Jeri mendatangi restoran dan toko barang China pada larut malam. Sang presiden interim terekam mengenakan jaket bertudung dan kacamata hitam yang diduga untuk menyembunyikan identitas. Pertemuan terjadi pada Desember dan Januari melibatkan Zhihua Yang, pengusaha China yang memegang konsesi proyek energi pemerintah.
Menurut CNN, agenda pertemuan tersebut tidak tercatat dalam log resmi kepresidenan maupun catatan transparansi publik. Salah satu peserta pertemuan bahkan tengah diselidiki aparat atas dugaan keterlibatan dalam operasi pembalakan liar. Jaksa Agung Peru langsung merespons laporan dengan membuka penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi.
Jeri membantah tuduhan korupsi dan mengklaim pertemuan hanya bertujuan membahas perayaan budaya Peru-China. Politisi berusia 39 tahun itu mengakui kesalahannya karena tidak transparan dan mengenakan pakaian yang menimbulkan kecurigaan saat menghadiri pertemuan.
"Kami meminta agar penderitaan ini diakhiri sehingga kami benar-benar dapat menciptakan transisi yang diharapkan warga. Bukan transisi dengan kepentingan tersembunyi, praktik suap, pertemuan rahasia, dan sosok-sosok bertudung," ujar Ruth Luque, anggota parlemen Peru, dilansir CNA.
2. Kongres Peru akan kembali memilih presiden interim

Kongres Peru harus segera memilih ketua parlemen baru untuk mengisi kekosongan kursi kepresidenan. Pemungutan suara dijadwalkan berlangsung pada Rabu waktu setempat setelah partai-partai politik mendaftarkan kandidat. Fernando Rospigliosi, pejabat ketua Kongres saat ini, menolak mengambil alih jabatan presiden secara otomatis.
Pemimpin baru nantinya hanya akan menjabat hingga 28 Juli 2026, tanggal serah terima jabatan kepada pemenang pemilu. Jeri sendiri harus kembali ke posisinya semula sebagai legislator biasa hingga masa jabatan parlemen berakhir.
Dinamika politik ini terjadi kurang dari dua bulan sebelum pemilihan umum presiden dan kongres pada 12 April 2026. Rafael Lopez Aliaga, seorang pengusaha konservatif, memimpin jajak pendapat di tengah ramainya bursa calon presiden. Keiko Fujimori juga kembali mencalonkan diri dan bersaing ketat untuk memperebutkan suara pemilih yang masih bimbang.
Pengamat menilai pemakzulan Jeri lebih didasari oleh perhitungan elektoral partai politik daripada penegakan moral.
"Cukup banyak anggota parlemen menyimpulkan bahwa dukungan mereka terhadap Jeri akan merugikan mereka dalam pemilu, jadi mereka harus bertindak," kata Michael Shifter, presiden Inter-American Dialogue, dilansir CNA.
3. Kutukan kursi kepresidenan Peru berlanjut

Pemecatan Jeri menambah panjang daftar pemimpin Peru yang gagal menyelesaikan masa jabatan resminya. Negara Amerika Selatan tersebut telah menyaksikan delapan presiden berbeda menduduki istana kepresidenan dalam satu dekade terakhir. Tiga presiden berturut-turut, termasuk Pedro Castillo dan Dina Boluarte, dilengserkan paksa atau dipenjara akibat skandal.
Konstitusi Peru memiliki klausul unik yang memungkinkan parlemen memecat presiden jika dianggap tidak mampu secara moral. Aturan ini sering digunakan oleh legislatif untuk menjatuhkan eksekutif yang tidak memiliki dukungan mayoritas di parlemen. Dina Boluarte sebelumnya juga dicopot dengan alasan serupa di tengah gelombang protes berdarah dan tingginya angka kriminalitas.
Walaupun panggung politik terus berguncang, ekonomi Peru justru menunjukkan ketahanan yang tidak biasa. Rasio utang publik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat di angka 32 persen pada 2024 dan menjadi salah satu yang terendah di Amerika Latin. Sektor pertambangan yang menjadi tulang punggung negara tetap beroperasi normal tanpa gangguan berarti dari krisis di Lima.
Pertumbuhan ekonomi Peru tercatat mencapai 3,4 persen sepanjang tahun 2025. Tingkat inflasi juga berhasil ditekan di angka rendah, yakni 1,7 persen. Pemerintah terus membuka pintu investasi asing, terutama di sektor infrastruktur dan pertambangan, meskipun kepemimpinan nasional terus berganti.


















