Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pria Belanda Divonis 3 Tahun Penjara, Diduga Danai Sekutu Hamas

Pria Belanda Divonis 3 Tahun Penjara, Diduga Danai Sekutu Hamas
ilustrasi hukuman penjara (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Seorang pria Belanda berusia 58 tahun dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena diduga mentransfer dana sebesar 8 juta euro ke organisasi sekutu Hamas, Israa Charitable Foundation Netherlands.
  • Israa Charitable Foundation Netherlands telah disanksi oleh Amerika Serikat pada 2025 karena berperan sebagai perantara pengumpulan dana untuk Hamas dengan kedok kegiatan amal.
  • Pihak kejaksaan juga mengungkap pelaku menyalurkan dana ke Al-Aqsa Foundation melalui Israa Charitable Foundation Netherlands, sementara negara-negara Eropa terus menindak tegas jaringan pendukung Hamas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pria asal Belanda divonis tiga tahun penjara karena diduga memasok dana ke organisasi yang menjadi sekutu Hamas. Kabar tersebut disampaikan oleh Kejaksaan Umum Belanda (PPS) pada Selasa (14/4/2026).

Menurut PPS, pelaku merupakan seorang pria berusia 58 tahun dan tinggal di Kota Leidschendam. Pria yang tidak disebut namanya itu diduga pernah mentransfer dana ke organisasi sekutu Hamas, yakni Israa Charitable Foundation Netherlands sebesar 8 juta euro (Rp162 miliar) pada 2010 dan 2023. 

1. Israa Charitable Foundation Netherlands sudah disanksi oleh Amerika Serikat pada 2025

Bendera Amerika Serikat sedang berkibar.
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Brett Sayles)

Israa Charitable Foundation Netherlands sendiri merupakan organisasi sekutu Hamas yang dipimpin oleh seorang aktivis bernama Mahmoud Amr. Organisasi ini sudah disanksi dan dilarang keberadaannya oleh Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan Amerika Serikat (OFAC) pada Juni 2025 lalu.

Menurut PPS, Israa Charitable Foundation Netherlands menjadi perantara untuk menyalurkan dana ke Hamas. Mereka kerap mengumpulkan dana dari masyarakat atau donatur dengan kedok kegiatan amal agar aksinya tidak terendus oleh pihak berwenang. 

“Organisasi tersebut memainkan peran utama dan menentukan dalam pengumpulan dan tujuan akhir dana tersebut. Mereka dengan sengaja menghindari sanksi dengan menggunakan struktur perantara untuk menyalurkan uang ke Hamas,” bunyi pernyataan resmi PPS, seperti dilansir Jerusalem Post pada Rabu (15/4/2026).

2. Pelaku juga memasok dana ke organisasi sekutu Hamas lainnya

Uang dalam jumlah banyak.
ilustrasi uang (pexels.com/John Guccione)

Selain kepada Israa Charitable Foundation Netherlands, PPS menambahkan bahwa pelaku juga kerap memasok dana kepada organisasi sekutu Hamas lainnya. Salah satunya adalah Al-Aqsa Foundation. 

Untuk memasok dana ke Al-Aqsa Foundation, pelaku juga meminta bantuan Israa Charitable Foundation Netherlands untuk menjadi perantara. Ini bertujuan agar aksinya tidak ketahuan pihak berwenang.

Jadi, pelaku mengumpulkan dana dari masyarakat dengan kedok kegiatan keagamaan. Setelah itu, dana yang terkumpul langsung ditransfer ke Israa Charitable Foundation Netherlands untuk dikirim ke Al-Aqsa Foundation. 

3. Negara-negara Eropa mengecam keberadaan Hamas

Bendera negara-negara Eropa sedang berkibar.
potret bendera negara-negara Eropa (unsplash.com/Antoine Schibler)

Sebagai informasi, negara-negara di Eropa memang sangat menentang keberadaan Hamas. Sebab, mereka menganggap Hamas sebagai organisasi teroris yang kerap menebar ancaman.

Untuk meredam segala kegiatan Hamas, negara-negara Eropa kerap kali membasmi semua organisasi sekutu mereka. Selain itu, mereka juga kerap menangkap dan menghukum semua anggota dari organisasi sekutu Hamas.

Beberapa waktu lalu, misalnya, Denmark, Jerman, dan Norwegia menangkap sejumlah anggota Al-Aqsa Foundation. Penangkapan ini dilakukan karena mereka ketahuan mengumpulkan dana untuk dikirim ke Hamas. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More