Putra Presiden Museveni Ancam Bunuh Pemimpin Oposisi Uganda
- Wine tuduh pasukan keamanan berusaha menangkapnya
- Militer Uganda membantah tuduhan tersebut.
- Wine mengecam ancaman pembunuhan terhadapnya dan menuntut militer segera mengosongkan kompleks rumahnya.
Jakarta, IDN Times - Putra Presiden Uganda yang baru terpilih kembali, Yoweri Museveni, mengancam akan membunuh Bobi Wine, musisi yang beralih menjadi pemimpin oposisi, pada Selasa (20/1/2026). Wine telah bersembunyi sejak pekan lalu usai mempermasalahkan hasil pemilu.
Museveni, 81 tahun, kembali mengamankan masa jabatan ketujuh sebagai presiden pada Sabtu (17/1/2026), setelah dinyatakan menang dalam pemungutan suara yang dianggap oposisi sebagai pemilu palsu. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Wine, yang menempati posisi kedua dalam pemungutan suara, mengklaim memiliki bukti kecurangan tersebut, termasuk video yang menunjukkan pejabat komisi pemilu mengisi surat suara untuk mendukung Museveni.
“Kami telah membunuh 22 teroris NUP sejak pekan lalu. Saya berdoa yang ke-23 adalah Kabobi,” tulis Jenderal Uganda Muhoozi Kainerugaba di platform media sosial X, merujuk pada Partai National Unity Platform (NUP) pimpinan Wine. Kabobi adalah nama panggilan untuk pemimpin oposisi tersebut.
Kainerugaba memberikan tenggat waktu 48 jam bagi Wine untuk menyerahkan diri kepada polisi. Jika hal tersebut tidak dituruti, ia mengancam akan mengambil tindakan keras dengan menganggap Wine sebagai buronan atau pemberontak. Tahun lalu, Kainerugaba juga mengancam akan memenggal kepala Wine.
1. Wine tuduh pasukan keamanan berusaha menangkapnya
Wine, yang telah bersembunyi sejak pekan lalu, menuduh pasukan keamanan menggerebek rumahnya dan berusaha menangkapnya. Namun, militer Uganda membantah tuduhan tersebut.
Dalam unggahannya di media sosial, Wine mengecam ancaman pembunuhan terhadapnya dan menuntut militer segera mengosongkan kompleks rumahnya. Ia mengatakan istri dan keluarganya sedang tidak aman.
Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Wine mengatakan bahwa alasannya dirinya bersembunyi adalah agar tetap dapat berbicara kepada dunia. Ia menyebut situasi saat ini sangat berbahaya baginya.
Mengenai tuduhan teroris terhadapnya, Wine menyatakan bahwa siapa pun yang menantang seorang diktator selalu dicap sebagai teroris, pengkhianat dan label buruk lainnya.
“Kaum muda dipenjara hanya karena keterkaitan mereka dengan saya dan partai yang saya pimpin. Namun saya, bersama sekretaris jenderal dan banyak lainnya, tidak ditahan. Ini adalah penindasan yang bertujuan untuk mengintimidasi, membungkam, dan sepenuhnya menundukkan kekuatan perubahan," tambahnya.
2. Museveni tuduh pihak oposisi berupaya mengacaukan stabilitas negara
Pihak oposisi dan pendukungnya mengatakan pemerintah telah melakukan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat, mematikan internet dan menangkap pengunjuk rasa. Sementara itu, Museveni menuduh partai Bobi Wine berupaya mengacaukan stabilitas negara.
Pihak berwenang Uganda mengatakan pemadaman internet selama 4 hari merupakan langkah pengamanan yang bertujuan mencegah penyebaran informasi salah yang dapat memicu ketakutan dan kekacauan.
Pemerintah juga menyebutkan tujuh orang tewas di Butambala, di mana pengunjuk rasa dilaporkan berupaya menyerang tempat pemungutan suara dan pos polisi. NUP membantah laporan tersebut, dengan mengatakan sedikitnya 10 orang tewas ketika polisi menembaki rumah seorang pejabat partai.
3. Museveni telah berkuasa sejak 1986
Dilansir dari BBC, pihak berwenang sejauh ini belum menanggapi tuduhan kecurangan pemilu. Namun, Komisi Hak Asasi Manusia Uganda (UHRC) menyatakan bahwa kendala teknis dan prosedural yang terjadi pada hari pemungutan suara tidak merusak keseluruhan keadilan pemilu. Sementara itu, laporan pemantau pemilu Uni Afrika (AU) menyebutkan bahwa mereka tidak menemukan bukti penggelembungan surat suara.
Museveni, mantan pejuang gerilya yang merebut kekuasaan pada 1986, merupakan salah satu kepala negara dengan masa jabatan terlama di Afrika. Ia memegang kendali penuh atas negara dan aparat keamanan, serta dikenal menumpas secara keras setiap penantang selama masa pemerintahannya.
Tokoh oposisi utama lainnya, Kizza Besigye, yang empat kali mencalonkan diri melawan Museveni, diculik di Kenya pada 2024. Ia kemudian dibawa kembali ke pengadilan militer di Uganda untuk menjalani persidangan atas tuduhan makar.


















