Pakar: AI Bukan Ancaman Lapangan Kerja tapi Pengubah Cara Kerja

- Muhammad Firmandana menegaskan AI bukan ancaman pekerjaan, melainkan pengubah cara kerja yang menuntut generasi muda lebih adaptif dan siap menghadapi transformasi menuju Indonesia Emas 2045.
- Ia menjelaskan pentingnya memahami logika AI berbasis probabilitas agar tidak salah kaprah, serta memanfaatkannya sebagai alat pendukung efisiensi tanpa menggantikan peran manusia sepenuhnya.
- Firmandana mengingatkan bahaya jejak digital dalam dunia kerja modern, sementara Ketua DPRD Adityawarman menekankan perlunya karakter kuat dan pendidikan nilai untuk menghadapi era teknologi.
Bogor, IDN Times – Ketakutan akan hilangnya lapangan pekerjaan akibat intervensi Artificial Intelligence (AI) ditepis dalam sebuah paparan kepada 100 peserta Sanlat Ramadan di ruang DPRD Kota Bogor, Rabu (11/3/2026).
Praktisi Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Muhammad Firmandana, menegaskan kuncinya bukan pada pengurangan tenaga kerja, melainkan perubahan pola kerja.
Di hadapan para peserta, Firmandana menyoroti pentingnya mengubah mindset negatif terhadap teknologi menjadi sikap adaptif, agar generasi muda mampu bersaing menuju Indonesia Emas 2045.
Firmandana meminta generasi muda tidak pesimistis melihat kehadiran AI. Menurutnya, teknologi ini justru menciptakan standar baru dalam dunia profesional. Ia mencontohkan profesi desainer web dan programmer yang kini mengalami pergeseran nilai dan metode kerja.
"Mindset-nya jangan lapangan pekerjaan yang turun, tapi lapangan pekerjaan yang berubah. Kenapa saya share ini? Karena supaya teman-teman bisa resilient, bisa tahan dengan perubahan itu, bisa menyesuaikan, bisa adaptif," ujar Firmandana dalam kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan 1447 H bertajuk "Menyongsong Generasi Muda Indonesia 2045" di Gedung DPRD Kota Bogor, Rabu.
1. Programmer yang relevan adalah yang menguasai AI

Firmandana memberikan ilustrasi konkret mengenai industri kreatif dan teknologi. Jika 10 tahun lalu pembuatan situs web bisa dihargai hingga Rp10 juta, kini teknologi mempermudah proses tersebut dengan biaya yang jauh lebih murah. Namun, hal itu bukan berarti profesi tersebut mati.
"Ibaratkan ini, kalau dulu programmer laku, sekarang programmer bukan gak laku. Yang laku adalah programmer pakai AI," katanya.
Menurut Firmandana, efisiensi yang ditawarkan AI harus dimanfaatkan sebagai alat pendukung, bukan dianggap sebagai pengganti manusia sepenuhnya.
2. Memahami logika AI yang berbasis probabilitas

Lebih lanjut, Firmandana mengedukasi peserta tentang cara kerja AI, agar tidak salah kaprah dalam menggunakan di dunia kerja. Ia menyebutkan AI memberikan jawaban berdasarkan data yang paling umum dan sering diterima oleh publik (plausible answer), bukan selalu kebenaran mutlak.
Ia mencontohkan pertanyaan tentang warna air yang sering dijawab AI sebagai "putih" atau "bening" karena mayoritas data internet menyebutkan demikian, padahal secara sains air murni tidak berwarna. "AI akan memberikan jawaban sesuai dengan jawaban yang paling umum dan paling banyak dan paling sering diterima. Bukan paling benar sekali," jelasnya.
3. Waspada jejak digital dalam dunia kerja

Selain soal pekerjaan, Firmandana juga mengingatkan bahaya digital ghost atau jejak digital yang tidak bisa dihapus. Dalam dunia kerja masa depan yang serba digital, privasi menjadi isu krusial yang sering diabaikan dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Eropa.
"Ketika kita mengetikkan sesuatu di handphone kita, dan go digital, itu kayak kita lepaskan ke mana pun teman-teman. Jangan berharap bisa diambil lagi. Mindset-nya sudah (harus waspada)," kata Firmandana mengingatkan.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua DPRD Adityawarman Adil yang hadir dalam acara yang sama mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan kekuatan karakter. Ia mengimbau pemuda agar tidak terlena dengan hiburan media sosial dan gim daring, melainkan fokus membekali diri dengan pendidikan dan nilai-nilai Al-Qur'an.
"Pemuda adalah pilar kebangkitan. Masa depan di tangan kalian semua, jadi ke depan akan seperti apa tergantung bagaimana adik-adik berpikir dan berimajinasi terhadap Indonesia 2045," pungkas Adityawarman.

















