Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Diam-diam Angkut Minyak Lewat Selat Hormuz

AS Diam-diam Angkut Minyak Lewat Selat Hormuz
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency)
  • Axios melaporkan AS menjalankan rute rahasia melalui jalur selatan dekat Oman untuk mengangkut minyak dari Selat Hormuz tanpa terdeteksi Iran.
  • Selama beberapa pekan, 15–20 tanker AS disebut mengangkut sekitar 10 juta barel minyak per hari, meski Iran kembali menutup selat pada 11 Juli.
  • Donald Trump mengklaim AS telah membuka dan menguasai Selat Hormuz, sehingga harga minyak turun; namun pelayaran tetap fluktuatif di tengah perseteruan AS-Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah melakukan operasi rahasia untuk mengangkut minyak melalui Selat Hormuz. Kabar itu pertama kali disampaikan oleh media Israel, Axios, berdasarkan informasi dari sejumlah sumber rahasia pada Rabu (19/8/2026). 

Berdasarkan laporan Axios, AS telah membuat rute khusus rahasia untuk mengangkut minyak dari Selat Hormuz tanpa ketahuan oleh Iran. Lewat jalur tersebut, Negeri Paman Sam disebut berhasil mengangkut minyak dari Timur Tengah sebanyak jutaan barel per harinya. 

  1. 1. AS sudah diam-diam mengangkut minyak lewat Selat Hormuz selama beberapa pekan

    Kapal sedang berlayar di laut.
    potret kapal tanker minyak (unsplash.com/Haydn)

    AS sendiri dikabarkan sudah mengangkut minyak secara rahasia lewat Selat Hormuz selama beberapa pekan terakhir. Selama itu, ada sekitar 15 sampai 20 kapal tanker minyak Washington yang berhasil mengangkut minyak lewat selat tersebut dengan aman. Kapal-kapal itu berlayar di Selat Hormuz melalui jalur selatan yang terletak di dekat pesisir pantai Oman. 

    Lewat cara ini, AS berhasil mengangkut 10 juta barel minyak per hari secara diam-diam lewat Selat Hormuz. Itu merupakan setengah dari jumlah minyak yang biasa diangkut AS sebelum perang dengan Iran pada 28 Februari lalu. Ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Negeri Paman Sam karena bisa mendapatkan pasokan minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.  

  2. 2. Operasi rahasia AS dilakukan di tengah blokade Iran

    Bendera Iran sedang berkibar.
    potret bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

    Operasi ini dilakukan AS di saat Iran masih memblokade selat tersebut. Pada 27 Juni lalu, Iran sebetulnya sudah membuka Selat Hormuz usai menyepakati nota kesepahaman (MoU) perdamaian dengan AS. Namun, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memutuskan untuk kembali menutup selat tersebut pada 11 Juli karena ada kapal yang melanggar aturan di sana.

    Meski masih ditutup Iran, Presiden AS, Donald Trump, berulang kali mengklaim Selat Hormuz kini sudah dibuka penuh. Trump juga mengklaim bahwa Selat Hormuz kini sudah 100 persen dikuasai AS. Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu bahkan mengklaim selat tersebut sudah menjadi wilayahnya melalui sebuah unggahan di laman Truth Social

  3. 3. Trump mengklaim harga minyak global turun karena AS membuka Selat Hormuz

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpartisipasi dalam wawancara dengan Bev Turner dari GB News di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, pada 14 November 2025.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpartisipasi dalam wawancara dengan Bev Turner dari GB News di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, pada 14 November 2025. (flickr.com/The White House viacommons.wikimedia.org/The White House)

    Dalam pernyataan terbarunya kepada wartawan pada Rabu, Trump mengatakan harga minyak global kini sudah menurun drastis. Ia mengklaim penurunan tersebut terjadi usai Washington menguasai dan membuka Selat Hormuz secara penuh. Dengan cara ini, kata Trump, kapal-kapal tanker jadi bisa mengangkut minyak dari Timur Tengah ke pasar global dengan aman melalui Selat Hormuz.

    "Mereka tadinya membicarakan (harga minyak global adalah) 350 dolar AS per barel. Namun, hari ini, harganya hanya 84–85 dolar (per barel). Selat Hormuz tidak akan sepenting dulu. Orang-orang telah menemukan alternatif lain dan jumlah jalur pipa yang dibangun mencapai rekor tertinggi. Kami berhasil mengeluarkan banyak minyak," ujar Trump, seperti dilansir Jerusalem Post.

    Situasi pelayaran di Selat Hormuz sendiri saat ini masih belum kondusif. Hal ini karena AS dan Iran masih berseteru soal kekuasan di perairan tersebut. Oleh karena itu, jumlah pelayaran kapal di Selat Hormuz kini fluktuatif. Kendati demikian, jumlah pelayaran di selat tersebut dikabarkan sedikit meningkat pada akhir pekan lalu.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More