Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Anak Muammar Khadafi

- Lautan manusia dan bendera hijau di pemakaman Saif al-Islam
- Kronologi serangan dan reaksi keluarga Saif al-Islam
- Sempat digadang-gadang sebagai penerus Muammar Khadafi
Jakarta, IDN Times - Ribuan pelayat memadati kota Bani Walid di Libya bagian barat pada Jumat (6/2/2026). Mereka berkumpul untuk menghadiri pemakaman putra mendiang Muammar Khadafi, Saif al-Islam Khadafi, yang tewas dibunuh awal pekan ini.
Kota tersebut merupakan basis kuat pendukung rezim lama yang masih setia pada keluarga Khadafi. Kehadiran massa dalam jumlah besar dengan membawa simbol-simbol era Khadafi menunjukkan perpecahan mendalam yang masih melanda Libya pasca-Arab Spring 2011.
1. Lautan manusia dan kibaran bendera hijau di pemakaman Saif al-Islam

Massa membanjiri jalanan Bani Walid, kota yang berjarak sekitar 175 kilometer di selatan Tripoli. Para pelayat menggotong peti jenazah sembari mengangkat foto-foto besar Saif al-Islam dan ayahnya, Muammar Khadafi.
Bendera hijau polos, simbol resmi Libya periode 1977 hingga 2011, tampak berkibar di tengah lautan manusia. Teriakan slogan pro-Khadafi menggema di lokasi, menjanjikan bahwa kematian Saif al-Islam tidak akan sia-sia.
"Kami di sini untuk menemani orang yang kami cintai, putra pemimpin kami, yang padanya kami menaruh harapan dan masa depan kami," ujar Waad Ibrahim, seorang pelayat asal Sirte, dilansir Africanews.
Prosesi berlangsung emosional ketika sekelompok pendukung mengambil alih peti mati dari kerumunan utama. Mereka kemudian melaksanakan salat jenazah sebelum mengebumikan jasad tokoh berusia 53 tahun itu.
2. Kronologi serangan dan reaksi keluarga

Saif al-Islam tewas dibunuh di rumahnya di kota Zintan pada Selasa sebelumnya. Tim politiknya melaporkan bahwa empat pria bertopeng menyerbu kediaman Saif setelah melumpuhkan kamera keamanan.
Dokter forensik telah memeriksa jenazah dan memastikan penyebab kematian akibat luka tembak. Pihak berwenang kini tengah memburu para pelaku yang masih buron untuk mengungkap motif di balik serangan mematikan itu.
Saudara kandung Saif, Mohamed Khadafi, menyampaikan duka cita mendalam melalui media sosial dari pengasingannya. Ia menyayangkan dirinya tidak dapat menghadiri pemakaman secara langsung.
"Rasa sakit karena kehilangan sangat membebani hati saya. Namun, penghiburan saya terletak pada kenyataan bahwa putra-putra bangsa yang setia sedang menunaikan tugas mereka," tulis Mohamed Khadafi, dikutip The New Arab.
3. Sempat digadang-gadang sebagai penerus Muammar Khadafi
Sempat digadang-gadang sebagai pewaris takhta dan wajah reformis, reputasi Saif berubah drastis saat pemberontakan 2011. Ia menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan kemanusiaan setelah menyerukan perlawanan keras terhadap pemberontak.
Ambisi politik terakhirnya terlihat saat ia mencoba mencalonkan diri sebagai presiden pada 2021, tetapi gagal karena penundaan pemilu. Kematiannya terjadi di tengah kebuntuan politik antara pemerintahan Abdul Hamid Dbeibah di Tripoli dan kubu Khalifa Haftar di timur.
Perdana Menteri Libya Dbeibah mengecam pembunuhan tersebut sebagai tindakan yang memperdalam perpecahan bangsa. Namun, spekulasi berkembang di kalangan warga bahwa insiden ini bermotif politik untuk menyingkirkan pesaing potensial dalam pemilu mendatang.
"Mereka berhasil menyingkirkannya dari panggung politik dengan membunuhnya. Dia punya peluang bagus dan merupakan pemimpin bagi kami," kata Sabri Gachout, warga Tripoli.
















