Slovenia Mau Keluar dari NATO, Kenapa?

- Pemerintah Slovenia berencana menggelar referendum untuk menentukan apakah negara akan keluar dari NATO, sesuai janji Ketua Parlemen Zoran Stevanovic kepada publik.
- Stevanovic menegaskan keputusan ini murni inisiatif Slovenia tanpa tekanan pihak luar dan bukan bentuk keberpihakan terhadap Rusia, melainkan demi kedaulatan kebijakan nasional.
- Slovenia yang bergabung dengan NATO sejak 2004 mempertimbangkan keluar karena beban anggaran pertahanan dan kekhawatiran terlibat konflik internasional seperti perang Rusia-Ukraina.
Jakarta, IDN Times - Keinginan Pemerintah Slovenia untuk keluar dari NATO dikabarkan makin kuat. Ketua Parlemen Slovenia yang baru dilantik, Zoran Stevanovic, mengatakan pihaknya akan segera menggelar referendum. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui dukungan publik soal rencana Slovenia mengundurkan diri dari NATO.
“Saya harus mengatakan bahwa kami telah berjanji kepada rakyat untuk mengadakan referendum mengenai masalah keluarnya dari NATO. Kami akan (segera) mengadakan referendum ini,” kata Stevanovic kepada lembaga penyiaran publik nasional, RTVSLO, pada Selasa (14/4/2026), seperti dikutip Anadolu Agency.
1. Publik Slovenia tidak mendukung rencana keluar dari NATO

Sebetulnya, Stevanovic sudah memprediksi bahwa rencana Slovenia untuk keluar dari NATO akan sulit. Sebab, menurutnya, sebagian besar warga Slovenia pasti tidak mendukung rencana tersebut.
Sebuah survei yang dirilis pada 2025 lalu menunjukkan sebagian besar warga Slovenia mendukung negaranya untuk tetap menjadi anggota NATO. Ini karena para warga menganggap keanggotaan di NATO telah memberi Slovenia banyak manfaat, terutama dalam aspek pertahanan dan keamanan.
Kendati demikian, Stevanovic mengatakan, pihaknya akan tetap menggelar referendum untuk mengetahui suara publik soal rencana pengunduran diri Slovenia dari NATO. Jika memang sebagian besar publik setuju, pemerintah baru akan mengajukan pengunduran diri dari aliansi tersebut.
2. Rencana keluar dari NATO tidak berdasarkan paksaan dari pihak mana pun

Dalam pernyataannya, Stevanovic menambahkan, rencana Slovenia untuk keluar dari NATO murni niat sendiri. Artinya, tidak ada paksaan dari pihak mana pun. Sebab, dalam menjalankan keputusan, Pemerintah Slovenia selalu berkomitmen untuk bersikap independen tanpa hasutan pihak luar.
Stevanovic juga mengatakan, niat Slovenia untuk keluar dari NATO juga bukan karena mereka berpihak pada Rusia. Sebab, Slovenia adalah negara berdaulat yang tidak memihak kepada negara mana pun. Meski begitu, Stevanovic menegaskan Slovenia mau menjalin hubungan dan kerja sama dengan negara pun, termasuk Rusia.
“Saya tidak memiliki pandangan pro-Rusia, hanya pandangan pro-Slovenia. Kami berpendapat bahwa Slovenia harus menjalankan kebijakannya secara independen dan berdaulat,” tambah Stevanovic.
3. Slovenia bergabung dengan NATO pada 2004

Slovenia sendiri bergabung dengan NATO pada 2004. Mereka bergabung dengan aliansi tersebut pada tahun yang sama ketika bergabung menjadi anggota Uni Eropa.
Rencana Slovenia untuk keluar dari NATO mulai menyeruak pada 2025. Ada sejumlah alasan yang mendasari keinginan Slovenia untuk keluar dari aliansi tersebut. Salah satunya adalah masalah anggaran.
Jadi, semua anggota NATO diwajibkan untuk mengalokasikan 20 persen anggaran untuk kebutuhan pertahanan nasional. Menurut Slovenia, angka tersebut terlalu besar. Sebab, anggaran bisa lebih difokuskan untuk mendanai program-program penting pemerintah yang lain, seperti program di bidang kesehatan dan pendidikan.
Selain masalah anggaran, keinginan Slovenia untuk keluar dari NATO juga dilandasi kekhawatiran akan terlibat dalam konflik internasional. Contohnya, seperti konflik Rusia dan Ukraina. Mereka enggan terlibat dalam konflik-konflik tersebut karena dianggap hanya akan merugikan negara.

















