Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sri Lanka Dihantam Siklon Ditwah, 153 Orang Tewas

Bendera Sri Lanka (Unsplash.com/Mariana Proença)
Bendera Sri Lanka (Unsplash.com/Mariana Proença)
Intinya sih...
  • 153 orang tewas akibat banjir dan longsor yang dipicu Siklon Ditwah di Sri Lanka.
  • Lebih dari 78 ribu orang dievakuasi ke hampir 800 pusat pengungsian, sebagian besar berlokasi di sekolah-sekolah.
  • Banjir membuat sebagian besar rumah terendam dan mengalami pemadaman listrik, memunculkan kekhawatiran banjir susulan di area yang sudah jenuh air.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 153 orang dilaporkan tewas akibat banjir dan longsor yang dipicu Siklon Ditwah di Sri Lanka. Tak hanya itu, 191 orang lainnya masih hilang dan lebih dari setengah juta warga terdampak di seluruh negeri.

Otoritas Penanggulangan Bencana Sri Lanka menyebutkan lebih dari 78 ribu orang telah dievakuasi ke hampir 800 pusat pengungsian, sebagian besar berlokasi di sekolah-sekolah yang kini disulap menjadi tempat perlindungan darurat. Ribuan personel polisi, angkatan laut, dan tentara telah dikerahkan untuk mengevakuasi warga, mendistribusikan bantuan makanan, serta membuka akses jalan yang tertutup longsoran.

Wilayah di sepanjang Sungai Kelani, termasuk Malwana yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kolombo, mengalami banjir terburuk dalam satu dekade.

Salah satu penyintas, Mallika Kumari, menceritakan bagaimana rumahnya terendam hingga ke atap hanya dalam hitungan jam. Ia bersama suami dan tiga anaknya terpaksa melarikan diri menggunakan truk sewaan—tanpa membawa apa pun.

Setelah menghabiskan malam di pinggir jalan, Kumari berharap dapat kembali ke rumah untuk mengambil pakaian dan buku sekolah anak-anaknya, sementara dua putranya kini terserang flu akibat cuaca ekstrem. Seekor kucing peliharaan yang sempat tertinggal pun berhasil diselamatkan oleh tim angkatan laut.

Dikutip dari Al Jazeera, Minggu (30/11/2025), banjir yang melanda Malwana dan sejumlah wilayah rendah di sekitar Kolombo membuat sebagian besar rumah terendam dan mengalami pemadaman listrik. Otoritas cuaca memperkirakan hujan masih akan terus turun sepanjang akhir pekan, memunculkan kekhawatiran banjir susulan di area yang sudah jenuh air.

Sebagian warga memilih bertahan di lantai atas rumah mereka demi menjaga harta benda yang tersisa. Sementara itu, bisnis lokal seperti apotek, supermarket, hingga toko kain ikut kebanjiran, menimbulkan kekhawatiran soal kerugian finansial dan masa pemulihan yang panjang.

Di tengah situasi sulit itu, solidaritas warga juga terlihat. Relawan di Masjid Dalugala Thakiya memasak paket nasi dengan kari ayam dan dhal untuk para penyintas banjir.

Mereka berupaya meningkatkan kapasitas bantuan pangan mulai Minggu, seiring meningkatnya permintaan dari warga yang kehilangan pekerjaan harian dan semakin kehabisan tabungan. “Banyak yang bingung bagaimana memulai kembali hidup mereka,” ujar Risham Ahmed, salah satu penyelenggara dapur umum.

Sri Lanka kini berada dalam upaya besar-besaran menghadapi salah satu bencana terburuk dalam beberapa tahun terakhir, sementara potensi hujan lanjutan masih menjadi ancaman bagi wilayah yang belum pulih sepenuhnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More

Kapan dan Apa Kriteria Suatu Tragedi Bisa Ditetapkan Jadi Bencana Nasional?

30 Nov 2025, 06:00 WIBNews