Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Survei LSI: 83 Persen Publik Indonesia Tolak Perang AS-Israel vs Iran

Survei LSI: 83 Persen Publik Indonesia Tolak Perang AS-Israel vs Iran
potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)
Intinya Sih
  • Survei LSI, Indikator Politik, dan SMRC menunjukkan 83 persen publik Indonesia menolak serangan AS-Israel ke Iran, dengan hanya 4,9 persen responden yang menyatakan dukungan.
  • Mayoritas responden juga enggan membela atau mendukung posisi AS-Israel dalam konflik tersebut, bahkan menolak terlibat sebagai relawan kesehatan untuk membantu pasukan mereka.
  • Konflik memanas sejak serangan gabungan AS-Israel pada Februari 2026 yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, memicu balasan Iran serta lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Mayoritas masyarakat Indonesia menunjukkan penolakan kuat terhadap serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Hal ini terungkap dalam hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik Indonesia, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Survei yang dilakukan pada 12–31 Maret 2026 itu melibatkan 1.066 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Hasilnya memperlihatkan sikap publik cenderung konsisten dalam menolak tindakan militer tersebut, bahkan dengan selisih yang sangat jauh dibandingkan dengan yang mendukung. Peneliti utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengungkapkan tingkat penolakan mencapai angka dominan.

"Angka 83 persen itu menyatakan tidak setuju Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran apa pun alasannya," kata Burhanuddin dalam paparannya, dikutip dari Youtube SMRC TV, Kamis (2/4/2026).

Angka tersebut terdiri dari 60,1 persen responden yang menyatakan tidak setuju dan 23 persen yang menyatakan sangat tidak setuju. Sebaliknya, dukungan terhadap serangan tersebut sangat kecil.

"Hanya 4,9 persen, jadi sangat sedikit" ujarnya.

Temuan ini menjadi gambaran bagaimana opini publik Indonesia memandang konflik yang berkembang di Timur Tengah, khususnya sejak serangan pertama dilancarkan pada akhir Februari 2026 lalu.

1. Yang beri dukungan hanya 4,9 persen

ilustrasi geopolitik Iran dengan global (pixabay.com/Just-a-blonde)
ilustrasi geopolitik Iran dengan global (pixabay.com/Just-a-blonde)

Hasil survei menunjukkan jurang yang sangat lebar antara kelompok yang menolak dan mendukung serangan AS-Israel ke Iran. Dari seluruh responden, hanya 0,2 persen yang menyatakan sangat setuju dan 4,7 persen yang menyatakan setuju.

Sementara itu, terdapat 7,4 persen responden yang memilih berada di posisi netral, yaitu antara setuju dan tidak. Ada pula sekitar 4,5 persen yang tidak memberikan jawaban. Burhanuddin menyebut dukungan terhadap serangan ini berada pada level yang sangat kecil.

"Nah, dukungan pada level sikap terhadap serangan Israel dan AS itu hanya 4,9 persen, jadi sangat sedikit; ini kelompok superminority," kata dia.

Dia juga menjelaskan, pertanyaan dalam survei dirancang untuk mengukur sikap publik secara langsung terhadap tindakan militer tersebut. Responden diminta menilai apakah mereka setuju atau tidak dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Dengan komposisi hasil tersebut, terlihat bahwa mayoritas publik Indonesia memiliki posisi yang tegas dalam menolak aksi militer tersebut, terlepas dari alasan yang mendasarinya.

2. Publik juga menolak membela AS-Israel

upload_fb9ac705f014c62e6e47ac9fdc30d519_dd38a192-c053-4402-884f-804b19789eb0.jpg
Kepulan asap membubung setelah serangan rudal di Teheran, Iran pada 1 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

Selain menolak serangan, mayoritas responden juga tidak ingin terlibat dalam upaya membela atau mendukung posisi AS dan Israel dalam konflik tersebut. Sebanyak 68,8 persen responden menyatakan tidak ingin atau sangat tidak ingin meyakinkan orang lain, AS dan Israel berada di pihak yang benar dalam perang melawan Iran.

Sebaliknya, hanya 13,7 persen yang menyatakan ingin melakukan hal tersebut. Burhanuddin menilai temuan ini memperkuat indikasi lemahnya legitimasi publik terhadap tindakan militer tersebut.

"Jadi, secara sederhana, kami memiliki indikasi yang kuat, dukungan terhadap serangan tersebut tidak legitimate bagi warga nasional karena terlalu sedikit," ujar Burhanuddin.

Hal serupa juga terlihat dalam pertanyaan terkait kesediaan untuk menjadi relawan kesehatan untuk membantu tentara AS-Israel. Mayoritas responden kembali menunjukkan penolakan. Temuan ini juga menunjukkan penolakan publik tidak hanya bersifat opini, tetapi juga tercermin dalam keengganan untuk terlibat secara langsung.

"Yang ingin melakukan itu, itu hanya kurang lebih sekitar 12-13 persen, jadi sangat kecil. Mayoritas menyatakan tidak ingin atau sangat tidak ingin," kata Burhanuddin.

3. Latar belakang konflik dan dampaknya ke dunia

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025
serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Konflik antara AS-Israel dan Iran meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika kedua negara melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran. Serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Situasi ini kemudian memicu eskalasi lebih lanjut setelah Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Dampak konflik tidak hanya dirasakan secara militer, tetapi juga secara ekonomi global. Iran menutup Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia, yang menyebabkan lonjakan harga energi.

Di sisi lain, serangan balasan Iran juga menimbulkan korban di pihak AS. Sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka.

Dalam konteks inilah hasil survei tersebut menjadi relevan, karena mencerminkan bagaimana publik Indonesia merespons dinamika geopolitik global yang berdampak luas, baik secara politik maupun ekonomi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in News

See More