Tentara Israel Alami Lonjakan Kasus Bunuh Diri dan PTSD akibat Perang

- Data resmi dari Kementerian Pertahanan Israel memperlihatkan dampak psikologis yang mendalam pada pasukan mereka.
- Sebanyak 60 persen di antaranya menderita trauma psikologis atau gangguan mental.
- Antara Januari 2024 hingga Juli 2025, terdapat 279 tentara yang mencoba bunuh diri.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel tengah menghadapi krisis kesehatan mental setelah dua tahun melancarkan operasi militer di Jalur Gaza. Laporan terbaru pada Jumat (16/1/2026) mengungkap adanya lonjakan kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan upaya bunuh diri di antara para tentara yang bertugas di berbagai front pertempuran.
Kementerian Pertahanan Israel mencatat kenaikan kasus PTSD hampir 40 persen di kalangan tentaranya sejak September 2023. Angka ini diprediksi akan terus memburuk hingga mencapai 180 persen pada tahun 2028 seiring dengan berlanjutnya konflik.
Krisis mencuat di tengah operasi militer berkepanjangan yang telah menewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina di Gaza dan menyebabkan kerusakan masif di wilayah tersebut. Sementara itu, lebih dari 1.100 anggota militer Israel dilaporkan tewas sejak konflik bermula pada 7 Oktober 2023.
1. Lonjakan kasus trauma dan percobaan bunuh diri

Data resmi dari Kementerian Pertahanan Israel memperlihatkan dampak psikologis yang mendalam pada pasukan mereka. Dari sekitar 22.300 tentara dan personel yang dirawat karena luka perang, sebanyak 60 persen di antaranya menderita trauma psikologis atau gangguan mental.
Penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di Israel, Maccabi, turut melaporkan tren serupa dalam laporan tahunan 2025 mereka. Sebanyak 39 persen personel militer di bawah perawatan Maccabi mencari dukungan kesehatan mental, sementara 26 persen lainnya menyuarakan kekhawatiran terkait gejala depresi.
Situasi ini diperparah dengan tingginya angka percobaan bunuh diri di kalangan militer. Sebuah komite parlemen Israel menemukan bahwa antara Januari 2024 hingga Juli 2025, terdapat 279 tentara yang mencoba bunuh diri, di mana 78 persen kasus pada tahun 2024 berasal dari tentara tempur.
2. Cedera moral akibat membunuh warga sipil

Para ahli psikologi menyoroti bahwa trauma yang dialami tentara Israel tidak hanya berasal dari rasa takut mati, tetapi juga dari apa yang disebut sebagai "cedera moral" (moral injury). Ronen Sidi, seorang psikolog klinis yang memimpin penelitian veteran tempur di Emek Medical Center, menjelaskan bahwa banyak tentara bergulat dengan rasa bersalah akibat tindakan mereka di lapangan.
Cedera moral ini muncul ketika tindakan tentara bertentangan dengan hati nurani atau kompas moral mereka sendiri. Banyak tentara yang merasa tertekan karena keputusan sepersekian detik yang mereka ambil dalam pertempuran justru berujung pada kematian perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah.
"Hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan Anda tidak dapat memperbaiki apa yang telah Anda lakukan," ujar Ronen Sidi, Psikolog Klinis di Emek Medical Center, dilansir Japan Times.
3. Fasilitas kesehatan mental Israel kewalahan

Dampak perang ini terlihat dalam kehidupan para tentara cadangan seperti Paul (28), seorang ayah tiga anak yang harus meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer proyek. Suara desingan peluru yang terus terngiang di kepalanya membuatnya hidup dalam kondisi waspada terus-menerus meski sudah kembali ke rumah dan jauh dari medan tempur.
Namun, upaya untuk mendapatkan bantuan tidaklah mudah karena birokrasi yang berbelit. Tentara yang mencari bantuan negara harus melalui komite penilaian Kementerian Pertahanan untuk menentukan tingkat keparahan kasus mereka. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan dan sering kali membuat mereka enggan melanjutkannya.
Institusi kesehatan mental di Israel dilaporkan sudah kewalahan menangani lonjakan pasien ini. Para ahli memperingatkan, risiko bunuh diri atau menyakiti diri sendiri akan meningkat drastis jika trauma ini tidak segera ditangani dengan tepat di tengah perang yang tak kunjung usai.
"Institusi kesehatan mental di Israel kewalahan, dan banyak orang tidak bisa mendapatkan terapi atau bahkan tidak mengerti bahwa tekanan yang mereka rasakan berkaitan dengan apa yang mereka alami," tutur Sidi, dikutip The Economic Times.

















