Trump Desak Sekutu Tetapkan IRGC Iran-Hizbullah sebagai Teroris

- Donald Trump mendesak sekutu AS untuk menetapkan IRGC Iran dan Hizbullah sebagai organisasi teroris melalui surat resmi yang dikirim ke kedutaan besar dan konsulat di seluruh dunia.
- Langkah ini menjadi strategi Trump dalam menghadapi Iran, dengan mengandalkan dukungan sekutu seperti Israel, Inggris, Rumania, serta meminta bantuan negara lain menjaga keamanan di Selat Hormuz.
- Konflik antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut, meski Iran menawarkan perdamaian dengan syarat tertentu yang ditolak Trump karena dianggap tidak menguntungkan semua pihak.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendesak para sekutunya untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Hizbullah di Lebanon sebagai organisasi teroris. Trump juga sudah meminta diplomat di negara-negara sahabat untuk melakukan hal tersebut.
Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri AS, surat perintah sudah disebarkan ke kedutaan dan konsulat AS yang berada di seluruh dunia pada Senin (16/3/2026). Dalam surat tersebut, Trump meminta agar diplomat AS memberikan pesan kepada negara di tempat mereka bertugas untuk memasukkan IRGC dan Hizbullah ke daftar hitam dan menetapkan mereka sebagai organisasi teroris.
1. Trump menganggap IRGC dan Hizbullah memperburuk konflik di Timur Tengah

Desakan ini diberikan karena Trump menganggap IRGC dan Hizbullah telah memperburuk konflik di Timur Tengah. Terlebih, Hizbullah juga membantu Iran untuk berperang melawan AS dan Israel.
Oleh karena itu, masih menurut Kementerian Luar Negeri AS, Trump ingin semua negara di dunia bersatu untuk melawan IRGC dan Hizbullah. Salah satu caranya adalah dengan menetapkan mereka sebagai organisasi teroris.
“Dengan meningkatnya risiko serangan dari Iran dan para mitranya serta proksinya, semua negara harus bertindak cepat untuk mengurangi kemampuan Iran dan kelompok teroris yang bersekutu dengan Iran dalam menyerang negara dan warga negara kita masing-masing,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri AS, seperti dilansir The Strait Times.
2. AS mengandalkan sekutunya untuk berperang melawan Iran

Desakan ini merupakan salah satu cara Trump untuk berperang melawan Iran. Sebab, Trump memang kerap mengandalkan sekutu setianya, terutama Israel, untuk berperang melawan negara mayoritas Islam Syiah tersebut.
Sebelumnya, Trump juga sudah meminta bantuan negara sekutu, seperti Inggris dan Rumania, agar pangkalan militernya bisa dipakai AS untuk menyerang Iran. Selain itu, baru-baru ini, ia juga meminta negara sekutu AS, seperti China, Prancis, dan Jepang, untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengawal kapal-kapal minyak di Selat Hormuz. Sebab, kapal-kapal minyak dari dan ke Timur Tengah tidak bisa berlayar di Selat Hormuz karena Iran menutup selat tersebut.
3. Perang antara Iran dengan AS-Israel masih berlangsung

Sebagai informasi, perang antara Iran dengan AS dan Israel kini masih berlanjut. Sebab, baik Iran, AS, maupun Israel masih saling serang hingga saat ini.
Sebetulnya, Iran sudah bersedia berdamai dengan AS dan Israel. Namun, untuk mencapai hal tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan AS dan Israel harus mematuhi syarat-syarat yang diberikan olehnya.
“Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini, yang dipicu oleh rezim Zionis dan AS, adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi (atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang), dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan,” tulis Pezeshkian dilansir Al Jazeera.
Namun, Trump enggan mematuhi semua syarat yang diberikan oleh Iran. Sebab, menurutnya, syarat-syarat tersebut tidak menguntungkan semua pihak. “Saat ini, syarat-syarat (yang diberikan oleh Iran) belum bagus,” ujar Trump.

















