Trump Sebut Sikap Paus Leo terhadap Iran Bahayakan Umat Katolik

- Donald Trump menuduh Paus Leo XIV membahayakan umat Katolik karena dianggap membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, meski paus sebenarnya menentang perang dan eskalasi konflik di Timur Tengah.
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut komentar Trump disalahartikan, menegaskan kekhawatiran presiden soal ancaman Iran, serta tetap melanjutkan rencana pertemuan dengan Paus Leo di Vatikan.
- Perselisihan Trump dan Paus Leo berawal dari penolakan paus terhadap perang di Iran; Trump menuduhnya berpihak pada kelompok kiri, sementara paus menegaskan komitmennya pada perdamaian dan dialog.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan serangan verbal terhadap Paus Leo XIV. Kali ini, ia menuduh pemimpin gereja Katolik tersebut membahayakan banyak umat Katolik karena menganggap tidak masalah jika Iran memiliki senjata nuklir.
"Paus lebih memilih berbicara bahwa tidak masalah Iran memiliki senjata nuklir, dan saya rasa itu tidak baik. Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik dan banyak orang. Tetapi saya kira jika itu tergantung pada paus, menurutnya tidak masalah bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir," kata Trump kepada pembawa acara radio konservatif, Hugh Hewitt, pada Selasa (5/5/2026).
Paus sendiri tidak pernah menyatakan dirinya mendukung Iran memiliki senjata nuklir. Namun, ia berulang kali menentang perang AS-Israel terhadap negara tersebut serta eskalasi konflik di Lebanon dan Timur Tengah, yang memicu kemarahan Trump.
1. Rubio sebut komentar Trump disalahartikan

Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, berusaha membela Trump dengan mengatakan bahwa komentarnya telah disalahartikan.
“Ya, saya tidak berpikir itu deskripsi yang akurat tentang apa yang dia katakan,” katanya kepada wartawan saat ditanyai mengenai komentar terbaru Trump terhadap Paus Leo.
Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran presiden berakar pada ancaman yang dapat ditimbulkan Iran terhadap wilayah-wilayah yang memiliki banyak umat Katolik, Kristen dan agama lainnya. Ia juga menyoroti meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, dengan menuduh Teheran menyandera seluruh dunia dan membahayakan pelayaran komersial.
Sementara itu, Paus Leo mengatakan bahwa siapa pun bebas untuk mengkritiknya.
“Misi Gereja adalah memberitakan Injil, memberitakan perdamaian. Jika ada yang ingin mengkritik saya karena memberitakan Injil, saya berharap hanya didengarkan saja karena nilai dari dari firman Tuhan," ujarnya.
2. Rubio akan bertemu Paus Leo di Vatikan pada Kamis

Komentar kontroversial Trump tersebut disampaikan menjelang pertemuan antara Rubio dan Paus Leo di Vatikan pada Kamis (7/5/2026). Rubio membantah bahwa kunjungannya tersebut bertujuan meredakan ketegangan antara Trump dan Vatikan.
“Ini adalah perjalanan yang sudah kami rencanakan sebelumnya, dan jelas ada beberapa hal yang terjadi. Dan tidak, lihat, ada banyak hal yang perlu dibicarakan dengan Vatikan,” ujarnya.
Sementara itu, duta besar AS untuk Tahta Suci, Brian Burch, mengatakan bahwa meskipun ada ketegangan baru-baru ini, tidak ada keretakan hubungan yang mendalam antara AS dan Vatikan.
“Setiap negara mempunyai perbedaan pendapat, dan saya pikir salah satu cara Anda mengatasinya adalah melalui persaudaraan dan dialog yang otentik,” kata Burch, seraya menambahkan bahwa kunjungan Rubio dapat memungkinkan kedua belah pihak untuk mendiskusikan perbedaan yang ada, dikutip dari BBC.
3. Trump tuduh Paus Leo bersekutu dengan kelompok kiri radikal

Perselisihan antara Trump dan Paus Leo dimulai pada Maret 2026, setelah paus menyuarakan penolakan terhadap perang di Iran dan mengkritik penggunaan retorika Kristen untuk membenarkan tindakan militer. Sebulan kemudian, Trump menyerangnya di media sosial, dengan menyebut paus pertama kelahiran AS itu lemah terhadap kejahatan dan menuduhnya bersekutu dengan kelompok kiri radikal.
Sebagai tanggapan, Paus Leo mengatakan bahwa ia tidak takut dan akan terus berbicara menentang perang.
“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, dengan mendorong perdamaian, dialog, dan hubungan multilateral antarnegara untuk mencari solusi yang adil atas berbagai masalah," kata paus dalam kunjungannya di Aljazair.
Hubungan antara Trump dan salah satu sekutu terdekatnya, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, pun ikut merenggang setelah Meloni mengkritik perang di Timur Tengah dan membela paus. Dilansir dari The Guardian, Rubio juga dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Italia tersebut dan Menteri Luar Negeri Antonio Tajani pada Jumat (8/5/2026).



















