Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Ultimatum Iran, Desak Setujui Proposal Perdamaian AS

Trump Ultimatum Iran, Desak Setujui Proposal Perdamaian AS
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump mengultimatum Iran agar segera menyetujui proposal perdamaian AS, dengan ancaman serangan besar jika Iran menolak.
  • Dalam proposalnya, AS menuntut Iran menghentikan program senjata nuklir selama 20 tahun dan menyerahkan seluruh cadangan uranium kepada AS.
  • Iran menolak tuntutan tersebut dan justru mengajukan proposal balasan berisi 14 syarat, namun ditolak mentah-mentah oleh Trump sehingga negosiasi damai masih buntu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi ultimatum terbaru ke Iran agar mereka segera menyetujui proposal perdamaian dari AS. Ultimatum tersebut disampaikan dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Minggu (17/5/2026). 

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan Iran harus segera menyetujui proposal perdamaian dari AS. Jika tidak, Trump mengatakan AS akan menyerang Iran sampai tidak ada yang tersisa lagi untuk mereka. 

“Bagi Iran, waktu terus berjalan. (Oleh karena itu), mereka sebaiknya segera bertindak atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu sangat penting!” tulis Trump, seperti dilansir The Strait Times

1. Trump ingin Iran hentikan program senjata nuklir

Ilustrasi kendaraan peluncur rudal militer berwarna hijau dengan tabung peluncur besar yang dipasang di atas truk beroda enam.
ilustrasi senjata nuklir (unsplash.com/Sergey Koznov)

Dalam proposal perdamaian terbaru, Trump memberi Iran sejumlah syarat jika ingin berdamai dengan AS. Salah satunya adalah penghentian program senjata nuklir. Trump mengatakan, jika ingin berdamai dengan AS, Iran harus sepakat menghentikan program senjata nuklirnya minimal sampai 20 tahun. 

Selain itu, Trump juga meminta Iran untuk menyerahkan seluruh cadangan uraniumnya ke AS. Ini dilakukan agar Iran tidak bisa mengembangkan program senjata nuklirnya. Sebab, uranium merupakan salah satu bahan utama yang dibutuhkan untuk membuat senjata tersebut. 

Namun, semua tuntutan dari AS tadi mendapat penolakan dari Iran. Sebab, negara mayoritas Islam Syiah tersebut tidak mau menghentikan program senjata nuklir dan memberikan uraniumnya ke AS.

2. Iran juga sudah memberi proposal perdamaian terbaru ke AS

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Pada 3 Mei lalu, Iran juga sudah mengirim proposal perdamaian terbaru ke AS. Proposal tersebut dikirim ke AS lewat perantara Pakistan yang berperan sebagai mediator.

Dalam proposal itu, Iran mengajukan 14 tuntutan yang harus dipatuhi oleh AS. Salah satunya adalah penghentian perang dalam waktu 30 hari. Selain itu, Iran juga meminta AS mencabut sanksi ekonomi yang diberikan terhadapnya.  

Menurut salah satu negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, semua tuntutan tadi diajukan karena menyangkut nasib seluruh warga Iran. Oleh karena itu, Iran mendesak AS untuk segera menyetujui semua tuntutan tersebut agar perang bisa berakhir. 

3. AS menolak proposal perdamaian dari Iran

Ilustrasi penolakan.
ilustrasi penolakan (pexels.com/Monstera Production)

Sayangnya, proposal perdamaian dari Iran tadi ditolak mentah-mentah oleh Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut proposal tersebut sama sekali tidak dapat diterima. 

"Proposal itu sama sekali tidak dapat diterima. Saya baru saja membaca tanggapan dari Perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya," ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada 10 Mei lalu dilansir NBC

Aksi saling tolak menolak ini membuat upaya perdamaian AS dan Iran berjalan sangat alot. Padahal, jika keduanya sama-sama menurunkan ego, kesepakatan damai dapat segera diraih agar perang bisa berakhir. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Related Articles

See More