Trump-Petro Bertemu Bahas Narkoba, AS-Kolombia Kembali Rujuk

- Trump dan Petro sepakat kerja sama hadapi perdagangan narkoba ilegal.
- Petro dan keluarganya dijatuhkan sanksi oleh Trump.
- Sempat saling ancam, Trump dan Petro kembali rujuk setelah penangkapan Maduro.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro sepakat untuk meningkatkan kerja sama dalam upaya menanggulangi perdagangan narkotika ilegal. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan bilateral yang berlangsung pada Selasa (3/2/2026) pagi waktu setempat.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin juga membahas sanksi Amerika Serikat yang dijatuhkan terhadap Presiden Petro dan keluarganya pada Oktober lalu. Trump menyebut pembicaraan berjalan baik meskipun hubungan keduanya sebelumnya sempat diwarnai ketegangan.
Pertemuan ini berlangsung setelah serangkaian pernyataan keras dan ancaman saling balas antara Washington dan Bogota, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya oleh militer Amerika Serikat pada awal Januari.
Namun, setelah komunikasi melalui sambungan telepon dan penjadwalan pertemuan di Gedung Putih, nada hubungan kedua negara mulai melunak dan berujung pada dialog langsung antara Trump dan Petro.
1. Kesepakatan kerja sama hadapi perdagangan narkoba ilegal

Usai pertemuan, Presiden Trump mengatakan dirinya dan Presiden Petro mencapai kesepakatan untuk bekerja sama dalam menghadapi perdagangan narkotika ilegal.
“Kami sepakat untuk bekerja sama dalam menangkal perdagangan narkoba ilegal,” kata Trump dilansir dari The Hill, Rabu (4/2/2026).
Ia juga mengakui hubungan pribadinya dengan Petro sebelumnya tidak terlalu dekat. “Dia dan saya memang bukan sahabat terbaik, tetapi saya tidak merasa tersinggung karena saya belum pernah bertemu dengannya. Saya sama sekali tidak mengenalnya,” ujar Trump.
Meski demikian, Trump menilai pertemuan tersebut berlangsung positif. “Kami berdua sangat cocok,” katanya.
Presiden Petro juga menyampaikan penilaian serupa. Menurut laporan BBC, Petro menyebut suasana pertemuan dengan Trump penuh optimis dan sangat konstruktif.
2. Petro dan keluarganya dijatuhkan sanksi oleh Trump

Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin turut membahas sanksi Amerika Serikat yang dijatuhkan terhadap Presiden Petro dan keluarganya pada Oktober lalu. Trump menyebut isu tersebut menjadi bagian dari pembicaraan bilateral. Namun, tidak dijelaskan secara rinci apakah ada perubahan atau peninjauan kembali terhadap kebijakan sanksi tersebut.
Setelah pertemuan dengan Trump berakhir, Presiden Petro menuju Kedutaan Besar Kolombia. Ia mengungkapkan Presiden Amerika Serikat memberinya topi bertuliskan “Make America Great Again”. Gestur tersebut menandai suasana yang lebih cair dibandingkan hubungan kedua pemimpin sebelumnya yang sempat diwarnai pernyataan keras di ruang publik.
3. Sempat saling ancam

Trump dan Petro sebelumnya terlibat saling ancam menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh militer Amerika Serikat pada 3 Januari. Keduanya dibawa ke Amerika Serikat untuk diadili atas tuduhan perdagangan narkoba dan kejahatan terkait.
Sebelumnya, Trump menuduh Petro memperoleh keuntungan dari produksi kokain dan peredarannya ke Amerika Serikat. Ia juga sempat menyebut akan menjadi ide yang bagus untuk menargetkan kepemimpinan Kolombia, seperti halnya tindakan terhadap Maduro.
Pernyataan tersebut dibalas oleh Petro dengan menegaskan militer Kolombia akan melindungi kedaulatan negaranya. Petro juga mengkritik kebijakan pemerintahan Trump terkait penegakan hukum imigrasi serta penangkapan Presiden Venezuela.
Ketegangan itu mulai mereda setelah kedua pemimpin melakukan percakapan via telepon dan menyepakati pertemuan bilateral di Gedung Putih, yang akhirnya membuka ruang dialog langsung dan kesepakatan kerja sama.


















