“Itu adalah sesuatu yang terjadi di mana semuanya tiba-tiba meledak. Mereka (Iran) mengatakan, hanya punya waktu sekitar tiga hari lagi sebelum semua itu terjadi. Ketika meledak, Anda tidak akan pernah bisa, apa pun yang terjadi, membangunnya kembali seperti semula,” ujar Trump dalam wawancara di acara The Sunday Briefing bersama Fox News pada Minggu (26/4/2026), seperti dikutip The New York Post.
Trump Sebut Semua Pipa Minyak Iran Bakal Meledak, Kenapa?

- Donald Trump menyatakan seluruh pipa minyak Iran bisa meledak dalam tiga hari akibat kerusakan dan gangguan teknis di fasilitas minyak negara tersebut.
- Trump menjelaskan gangguan itu diperparah oleh blokade Selat Hormuz oleh AS yang membuat minyak Iran mengendap dan berpotensi memicu ledakan.
- Para ahli energi meminta Iran menonaktifkan fasilitas minyaknya sementara waktu, sementara AS menggunakan blokade untuk menekan Iran agar menyetujui kesepakatan perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut semua pipa yang ada di fasilitas minyak milik Iran bakal meledak dalam waktu tiga hari ke depan. Menurut Trump, hal ini terjadi karena fasilitas minyak milik Iran kini banyak yang sudah rusak dan mengalami gangguan teknis.
1. Gangguan teknis disebabkan oleh blokade Selat Hormuz oleh AS

Dalam pernyataannya, Trump menjelaskan bahwa gangguan teknis yang terjadi di fasilitas minyak milik Iran tadi diperparah karena blokade Selat Hormuz yang hingga kini masih dilakukan oleh AS. Menurut Trump, blokade ini membuat Iran tidak bisa mengekspor minyak keluar negeri. Oleh karena itu, banyak minyak mereka yang kini mengendap di dalam pipa. Jika terus mengendap, minyak-minyak tersebut akan memicu percikan api yang akan menimbulkan ledakan.
“Anda tahu, saluran-saluran yang mengalirkan sejumlah besar minyak melalui sistem, jika karena alasan apa pun saluran itu ditutup karena Anda tidak dapat terus memasukkannya ke dalam kontainer atau kapal, yang telah terjadi pada mereka, mereka tidak memiliki kapal karena blokade, yang terjadi adalah saluran itu meledak dari dalam, baik secara mekanis maupun di dalam tanah,” jelas Trump.
2. Para ahli sudah meminta Iran untuk menonaktifkan fasilitas minyaknya

Untuk mengantisipasi ledakan, para ahli energi sebetulnya sudah meminta Iran untuk menutup semua fasilitas minyak yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga sudah meminta Iran untuk berhenti memproduksi minyak selama beberapa waktu sampai Selat Hormuz dibuka lagi. Hal ini bertujuan agar minyak tidak semakin mengendap dan bisa meledak di kemudian hari.
“Begitu tangki-tangki terisi penuh, Iran harus menutup ladang minyaknya yang berisiko menyebabkan kerusakan jangka panjang pada ladang-ladang tersebut,” kata seorang ahli energi bernama Annika Ganzeveld.
3. AS memblokade Selat Hormuz untuk menekan Iran

Sebagai informasi, AS mulai memblokade Selat Hormuz pada 13 April 2026. Langkah ini dilakukan Negeri Paman Sam untuk menekan Iran agar mau menyetujui kesepakatan perdamaian dengan mereka.
Selain memblokade Selat Hormuz, AS juga memblokade semua pelabuhan milik Iran, termasuk yang ada di Teluk Arab dan Teluk Oman. Upaya ini praktis membuat kapal-kapal dari seluruh dunia kini tidak bisa masuk dan keluar dari pelabuhan milik negara mayoritas Islam Syiah tersebut.
"Kami memberlakukan blokade secara menyeluruh terhadap kapal apa pun dari negara mana pun yang melintas ke atau dari pelabuhan milik Iran. Kami memantau dengan cermat kapal-kapal yang menjadi target menuju Iran dan kapal-kapal yang menjauh dari Iran yang berada di luar area blokade ketika blokade ini diperintahkan. (Jika ada yang melanggar), kami siap dan siaga untuk mencegat mereka," kata Kepala Pusat Komando AS (CENTCOM), Dan Caine, dilansir Anadolu Agency.















