Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Uni Eropa Berencana Buka Negosiasi dengan Rusia, Soal Apa?

Uni Eropa Berencana Buka Negosiasi dengan Rusia, Soal Apa?
Perdana Menteri Estonia, Kaja Kallas. (twitter.com/kajakallas)
Intinya Sih
  • Uni Eropa mempertimbangkan negosiasi langsung dengan Rusia, namun masih perlu pembahasan internal dan dukungan dari Ukraina sebelum langkah tersebut dilakukan.
  • Kaja Kallas menolak usulan Vladimir Putin untuk menunjuk Gerhard Schroeder sebagai wakil UE karena dianggap tidak pantas dan memiliki konflik kepentingan dengan Rusia.
  • UE berencana menjatuhkan sanksi kepada 20 individu dan organisasi Rusia yang terlibat dalam deportasi massal anak-anak Ukraina, termasuk pembekuan aset dan larangan masuk ke wilayah UE.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Luar Negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas mengatakan kemungkinan negosiasi langsung dengan Rusia pada bulan ini. Namun, banyak hal yang harus dibahas dalam internal UE. 

“Sebelum kami berdiskusi dengan Rusia, kami harus mendiskusikan ini di antara anggota UE. Terdapat banyak pertanyaan mengenai permintaan kami kepada Rusia untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian Eropa,” ungkapnya, dikutip dari The Moscow Times, Selasa (12/5/2026). 

Sebelumnya, Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa mengungkapkan kemungkinan negosiasi langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun, semua dilakukan jika ide ini didukung oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. 

1. Kallas tolak pemilihan Schroeder sebagai perwakilan UE

Bendera Uni Eropa. (unsplash.com/alexart251)
Bendera Uni Eropa. (unsplash.com/alexart251)

Kallas menolak permintaan dari Putin untuk menunjuk mantan Kanselir Jerman, Gerhard Schroeder sebagai wakil dari UE dalam negosiasi. Menurutnya, Schroeder tidak pantas dalam mewakili UE. 

“Pertama, jika kami memberikan hak kepada Rusia untuk menunjuk negosiator sebagai wakil kami, maka ini sangat tidak bijak. Kedua, saya pikir Schroeder sudah menjadi orang yang melobi perusahaan milik negara Rusia, sehingga Putin menginginkannya menjadi negosiator,” tuturnya, dilansir dari Politico.

Sejauh ini, Amerika Serikat (AS) masih menjadi mediator utama antara Rusia dan Ukraina. Sementara, UE hanya sebagai sebagai pendamping dan belum mengambil peran aktif dalam negosiasi damai. 

2. Ukraina tolak penunjukkan Schroeder sebagai negosiator

ilustrasi bendera Ukraina
ilustrasi bendera Ukraina (unsplash.com/photofixation)

Dilansir Ukrinform, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha mengatakan bahwa Kiev tidak mendukung Schroeder sebagai wakil negosiator UE. Menurutnya, masih banyak orang yang lebih baik dalam mengambil peran ini. 

Dorongan negara-negara Eropa untuk ikut dalam negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina terus meningkat. Menlu Jerman, Johann Wadephul sudah berbicara soal kemungkinan partisipasi negara E3, Jerman, Prancis, dan Inggris untuk bernegosiasi dengan Rusia. 

3. UE akan beri sanksi Rusia atas deportasi massal anak-anak Ukraina

anak-anak Ukraina (pixabay.com/yevhen1971)
anak-anak Ukraina (pixabay.com/yevhen1971)

Pada hari yang sama, UE mengumumkan rencana untuk menjatuhkan kembali sanksi kepada individu dan entitas di Rusia yang terlibat dalam deportasi massal anak-anak Ukraina. Tak hanya diculik, anak-anak tersebut juga diadopsi secara paksa di Rusia. 

Dilansir DPA International, Brussels sudah menargetkan 20 orang dan organisasi di Rusia yang terlibat dalam kasus ini. Sanksi ini meliputi pembekuan aset di UE dan larangan masuk bagi individu ke dalam negara-negara UE. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More