Marak Begal, Pemprov DKI Gandeng Polda Metro Optimalkan 24 Ribu CCTV

- Pemprov DKI dan Polda Metro Jaya mengintegrasikan sekitar 24 ribu CCTV dari berbagai instansi untuk menekan angka kejahatan di Jakarta.
- Integrasi ini memperluas pemantauan kota dan memperkuat gerakan 'Jaga Jakarta' lewat data visual yang lebih lengkap untuk respons cepat di lapangan.
- Polda Metro memetakan titik rawan, meningkatkan patroli, serta membangun pos pantau guna mengantisipasi maraknya kejahatan jalanan seperti begal dan curas.
Jakarta, IDN Times — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan Pemprov DKI bersama Polda Metro Jaya melakukan integrasi 24 ribu CCTV untuk menekan angka kejahatan termasuk begal di ibu kota.
“CCTV yang akan dikelola bersama kurang lebih di tahap awal ini, sebelum pengembangan, sekitar 24.000. Sebagian dari BUMD, OPD, sarana lalu lintas milik Polda Metro Jaya, serta gedung-gedung bertingkat lebih dari empat lantai,” kata Pramono di Balai Kota, Senin (18/5/2025).
1. Perkuat Jaga Jakarta

Ia menegaskan, integrasi ini memperluas cakupan pemantauan kota karena menggabungkan CCTV milik Pemprov, BUMD transportasi, kepolisian, serta kewajiban pemasangan CCTV pada gedung bertingkat sesuai regulasi daerah.
Menurutnya, langkah ini akan memperkuat gerakan “Jaga Jakarta” melalui ketersediaan data visual yang lebih lengkap untuk respons cepat di lapangan.
"Kalau itu bisa dilakukan, maka Jakarta akan semakin lengkap data yang dimiliki dan mudah-mudahan ini akan memperkuat Jaga Jakarta yang selama ini dilakukan bersama-sama," katanya.
2. Manfaatkan CCTV dukung penanganan kejahatan

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri pihaknya akan mengoptimalkan pemanfaatan jaringan CCTV untuk mendukung penanganan kejahatan jalanan yang belakangan marak terjadi, termasuk kasus pencurian dengan kekerasan (curas) dan begal.
"Saat ini mungkin ada maraknya kejadian kejahatan jalanan ya, baik itu curas ataupun begal. Dalam hal ini kami terus memetakan titik-titik rawan ya," ucapnya.
3. Petakan titik rawan di Jakarta

Hasil pemetaan tersebut akan digunakan untuk menentukan strategi pengamanan, mulai dari patroli rutin, penempatan strong point, hingga pembangunan pos pantau di lokasi-lokasi tertentu.
“Kami terus memetakan titik-titik rawan, mengoptimalkan patroli, strong point, dan pos pantau untuk mengantisipasi hal tersebut,” ujar Asep.
“Dengan adanya kerja sama dengan Bapak Gubernur dan Pemprov DKI Jakarta, kita akan memaksimalkan pemanfaatan CCTV ini yang tentunya bisa digunakan untuk mengungkap aksi kejahatan yang terjadi,” katanya.



















