“(Hizbullah) adalah kelompok yang tidak takut mati dan kami selalu menang dalam menghadapi mereka yang mengancam kami dengan kematian. Kerugian besar itu tidak seberapa dibandingkan dengan menyerah dan kekalahan. Jika kita mampu meraih kemenangan, mengapa kita harus menyerah (terhadap Israel)?” kata Qassem dalam pidatonya pada Jumat (19/6/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.
Hizbullah Ogah Nyerah ke Israel: Kami Tak Takut Mati!

- Hizbullah menegaskan tidak akan menyerah kepada Israel meski terus diserang, dan seluruh anggotanya siap mati demi mempertahankan perlawanan.
- Naim Qassem menuduh Israel menutup jalur darat, laut, dan udara Lebanon untuk menghambat pasokan senjata serta berjanji membalas setiap serangan.
- Setelah desakan Donald Trump, Israel dan Hizbullah menyetujui gencatan senjata, meski Lebanon melaporkan masih ada serangan dengan intensitas yang menurun.
Jakarta, IDN Times - Hizbullah menegaskan enggan menyerah terhadap Israel meski mereka terus diserang. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan, seluruh anggota Hizbullah juga siap mati demi berperang melawan negara Yahudi tersebut. Oleh karena itu, ia tidak akan meminta Hizbullah untuk menyerah terhadap Israel sampai kapan pun.
1. Qassem menyoroti serangan Israel dalam beberapa hari terakhir

Dalam pidatonya, Qassem menyoroti tindakan Israel yang sengaja menghambat pasokan senjata ke Hizbullah dengan cara menutup jalur darat, laut, dan udara di Lebanon. Ia menyebut itu merupakan tindakan pengecut Israel karena takut diserang Hizbullah.
Selain itu, Qassem juga menyoroti serangan bertubi-tubi Israel ke Lebanon dalam beberapa hari terakhir. Qassem menyebut serangan itu menjadi cara Israel untuk membasmi keberadaan Hizbullah di Lebanon. Oleh karena itu, ia berjanji akan membalas seluruh serangan Israel sampai mereka menyerah.
“(Israel dan Amerika Serikat) berupaya menutup jalur udara, laut, dan darat untuk mencegah masuknya senjata, teknologi, dan apa pun yang dapat memperkuat Perlawanan,” jelas Qassem.
2. Donald Trump sudah minta Israel berhenti menyerang Lebanon

Serangan terbaru Israel di Lebanon terjadi pada Kamis (18/6/2026) lalu. Dilansir Al Jazeera, pasukan pertahanan Israel (IDF) kala itu menyerang Lebanon selatan hingga menewaskan 16 orang. IDF mengatakan, serangan itu merupakan balasan untuk Hizbullah yang lebih dulu meluncurkan serangan ke Israel.
Presiden AS, Donald Trump, sebetulnya sudah berulang kali meminta Israel berhenti menyerang Lebanon. Sebab, ia ingin Israel mematuhi kesepakatan damai antara AS dan Iran. Kesepakatan damai AS dan Iran sendiri melibatkan Israel dan Lebanon. Oleh karena itu, kewajiban penghentian perang tidak hanya melibatkan AS dan Iran saja, tetapi juga Israel dan Lebanon.
"Kalian hanya perlu tenang dan menggunakan akal sehat," kata Trump dalam sebuah wawancara bersama NBC News yang dikutip The Guardian.
3. Israel dan Hizbullah sudah sepakat gencatan senjata

Merespons permintaan Trump tadi, Israel akhirnya bersedia menyetujui gencatan senjata dengan Hizbullah pada Jumat sore. Dilansir BBC, kesepakatan ini mewajibkan kedua pihak untuk menghentikan aksi saling serang di Lebanon.
Kendati sudah gencatan senjata, Pemerintah Lebanon melaporkan IDF masih melakukan sejumlah serangan ke wilayah mereka. Namun, intensitas serangan sudah menurun.



















