AS Peringatkan Hizbullah Tak Ikut Campur Perang Iran-Israel

- Utusan AS Thomas Barrack memperingatkan Hizbullah agar tidak ikut campur dalam perang Iran-Israel, menegaskan bahwa keterlibatan mereka hanya akan memperburuk situasi regional.
- Pemerintah Lebanon menegaskan komitmen untuk tidak terseret konflik, meminta AS menekan Israel menarik pasukan dari wilayah yang diduduki dan mendukung stabilitas melalui Angkatan Bersenjata Lebanon.
- Proksi Iran di kawasan menunjukkan respons beragam; Houthi menyerang Israel secara terbuka, sementara milisi di Irak memilih sikap hati-hati sambil tetap siap jika Iran diserang besar-besaran.
Jakarta, IDN Times - Utusan khusus Amerika Serikat (AS), Thomas Barrack, telah memperingatkan kelompok militan Hizbullah di Lebanon untuk tidak terlibat dalam perang antara Iran dan Israel. Peringatan tersebut disampaikan saat kunjungannya ke Beirut pada Kamis (19/6/2025).
Kunjungan Barrack berlangsung di tengah konflik antara Israel dan Iran yang telah memasuki hari ketujuh. Hizbullah, sebagai sekutu utama Iran di Lebanon, sampai saat ini belum terlibat secara langsung dalam konfrontasi tersebut.
1. Hizbullah merasa bertanggungjawab untuk mendukung Iran
Peringatan disampaikan setelah Barrack bertemu dengan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri. Menurut Barrack, keterlibatan Hizbullah akan hanya memperparah situasi di kawasan, dilansir The New Arab.
"Saya dapat katakan atas nama Presiden Donald Trump, keterlibatan Hizbullah akan menjadi keputusan yang sangat, sangat, sangat buruk," kata Barrack.
Sementara itu, salah satu pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan kelompoknya memiliki tanggung jawab untuk mendukung Iran.
"Amerika yang tiran dan Israel yang kriminal tidak akan bisa menundukkan rakyat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam. Hizbullah masih memiliki tanggung jawab untuk mendampingi Iran dan memberikannya segala bentuk dukungan yang berkontribusi untuk mengakhiri tirani dan penindasan ini," kata Qassem, dikutip dari France24.
Namun, sumber internal Hizbullah kepada The National menyatakan, kelompoknya tidak akan ikut campur, bahkan jika AS terlibat. Sikap hati-hati ini dinilai sebagai akibat kerugian besar yang dialami Hizbullah dalam perang melawan Israel tahun lalu, serta adanya tekanan domestik di Lebanon.
2. Lebanon tidak ingin terseret lagi dalam perang
Para pejabat Lebanon dilaporkan telah mendorong Hizbullah agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu eskalasi. Perdana Menteri Nawaf Salam juga menyatakan komitmen Lebanon untuk tidak terseret ke dalam perang di kawasan.
Dalam pertemuan dengan Barrack, Presiden Joseph Aoun meminta AS mendesak Israel agar menarik pasukannya dari wilayah Lebanon yang masih diduduki. Ia juga berbicara mengenai upaya pemerintah untuk menjadi satu-satunya pemegang otoritas senjata di dalam negeri.
"Komunikasi sedang berlangsung untuk mencapai tujuan monopoli senjata di tingkat Lebanon dan Palestina. Upaya ini akan diintensifkan setelah kawasan kembali stabil," ujar Aoun.
Menanggapi permintaan tersebut, Barrack menyampaikan kembali dukungan Washington untuk stabilitas Lebanon. Dukungan itu ditujukan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) dan agenda reformasi yang dijalankan pemerintah. Meski demikian, Israel masih terus melancarkan serangan di Lebanon, dengan satu orang tewas pada hari yang sama saat kunjungan Barrack.
3. Respons proksi Iran terkait konflik dengan Israel
Sekutu-sekutu Iran di kawasan, yang tergabung dalam "Poros Perlawanan", menunjukkan respons yang beragam terhadap krisis ini. Kapasitas operasional jaringan ini dinilai telah terkikis akibat pertempuran beberapa bulan terakhir.
Kelompok Houthi di Yaman menjadi satu-satunya proksi yang secara terbuka mengumumkan serangan rudal ke Israel sebagai bentuk dukungan. Sumber dari kelompok ini menyebut bahwa mereka bertindak secara independen meskipun terdapat koordinasi dengan Teheran.
Sementara itu, milisi yang didukung Iran di Irak mengambil sikap yang lebih hati-hati.
"Situasi saat ini menuntut kehati-hatian dan kebijaksanaan, tetapi juga kesiapan untuk merespons jika Iran diserang secara besar-besaran. Kami menyarankan Amerika Serikat untuk tidak terlibat dalam perang, mereka telah mencobanya sebelumnya dan berakhir dengan kegagalan," kata seorang pemimpin senior militan di Irak kepada The National.



















