Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Venezuela Cabut Izin Enam Maskapai Asing, Ada Apa?

ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)
Intinya sih...
  • Pemerintah Venezuela mencabut izin operasi enam maskapai asing
  • Ultimatum 48 jam dikeluarkan, sanksi dianggap tidak proporsional oleh Portugal
  • Ketegangan antara Venezuela dan AS meningkat setelah pengerahan militer AS ke Laut Karibia
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Venezuela menghentikan izin operasi enam maskapai asing, yakni Iberia dari Spanyol, TAP dari Portugal, Avianca dari Kolombia, GOL dari Brasil, Turkish Airlines, serta LATAM yang berbasis di Chile dan Brasil.

Otoritas Penerbangan Sipil Venezuela mengumumkan keputusan tersebut pada akhir Rabu (26/11/2025) dan langsung memberlakukannya, setelah menuding para operator itu ikut terlibat dalam aksi terorisme negara yang dianggap dipromosikan Amerika Serikat (AS) serta menangguhkan penerbangan secara sepihak. Langkah itu menciptakan perubahan besar dalam aktivitas transportasi udara menuju Caracas.

Gelombang ketegangan ini bermula dari peringatan keras Badan Penerbangan Federal AS (FAA) pada pekan sebelumnya. FAA menyatakan wilayah udara Venezuela berpotensi menghadirkan bahaya akibat situasi keamanan yang memburuk dan peningkatan aktivitas militer di sekitar negara itu, sehingga enam maskapai langsung menghentikan rute menuju Caracas. Pemerintah Venezuela menyampaikan bahwa FAA tak memiliki legitimasi apa pun untuk mengatur langit mereka.

1. Pemerintah Venezuela memberlakukan ultimatum 48 jam

ilustrasi bandara (pexels.com/Matthew Turner)
ilustrasi bandara (pexels.com/Matthew Turner)

Pemerintah bergerak cepat setelah penerbangan menuju Caracas dihentikan, dengan mengeluarkan ultimatum 48 jam agar seluruh maskapai kembali beroperasi atau kehilangan hak mendarat. Tak ada respons hingga tenggat berakhir, sehingga izin keenam maskapai dicabut dan ribuan penumpang pun terlantar, sementara operator lain seperti Copa, Wingo, Air Europa, dan Plus Ultra tetap bisa terbang. Situasi itu membuat dinamika penerbangan internasional di Venezuela berubah drastis dalam waktu singkat.

Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello memberi reaksi keras atas penghentian operasional tersebut.

“Simpanlah pesawat kalian, dan kami akan mempertahankan martabat kami,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.

Pemerintahan Presiden Nicolás Maduro tetap berada dalam kondisi siaga karena memandang langkah itu terjadi di tengah nuansa ancaman terhadap kedaulatan nasional. Mereka menilai tindakan para maskapai berhubungan erat dengan tekanan eksternal yang lebih luas.

2. Pemerintah Portugal mengkritik sanksi Venezuela

ilustrasi bendera Portugal
ilustrasi bendera Portugal (pexels.com/Elsa silva)

Dilansir dari The Guardian, sehari setelah pencabutan izin diumumkan, Menteri Luar Negeri Portugal Paulo Rangel mengatakan sanksi yang dijatuhkan Venezuela sangat tidak proporsional. Kedutaan Portugal di Caracas segera menjalin komunikasi dengan otoritas setempat untuk menegaskan bahwa mereka tak pernah bermaksud menutup rute menuju Venezuela dan keputusan penghentian penerbangan murni dilakukan karena alasan keamanan. Upaya diplomatik itu dilakukan agar situasi bisa dipahami secara lebih menyeluruh oleh pihak Venezuela.

Pada sisi lain, sumber anonim dari Iberia mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka ingin kembali terbang secepat mungkin, begitu kondisi keamanan penuh terpenuhi. Maskapai itu menegaskan tak akan menempatkan penumpang dan awak dalam risiko di wilayah yang tergolong rawan. Sikap serupa muncul dari Avianca, yang memutuskan menjadwal ulang seluruh penerbangan menuju Caracas mulai bulan depan.

3. Langkah militer AS memicu ketegangan baru

Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022.
Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022. (S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commona)

Ketegangan Venezuela dan AS meningkat sejak Donald Trump kembali menempati Gedung Putih untuk masa jabatan keduanya. AS mengerahkan 15 ribu tentara bersama kapal induk USS Gerald Ford ke Laut Karibia, dan pergerakan itu menjadi yang terbesar sejak invasi Panama 1989 dengan dalih memutus rantai perdagangan narkoba yang dikaitkan dengan pemerintahan Maduro. Nicolás Maduro mengecam keras pengerahan tersebut dan memandangnya sebagai tanda persiapan invasi.

Dalam periode yang sama, militer AS telah melancarkan sedikitnya 21 serangan fatal terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba. Lebih dari 80 orang tewas dalam operasi tersebut, sementara Washington belum menunjukkan bukti bahwa kapal-kapal itu benar-benar memuat narkoba atau memiliki hubungan dengan kelompok kriminal Venezuela. Pakar hukum internasional menilai tindakan tersebut sebagai pembunuhan di luar proses hukum.

Di tengah ketegangan itu, Trump menyampaikan sinyal bahwa kontak politik masih terbuka dan mengatakan ia mungkin akan berbicara dengan Maduro.

“Kita bisa melakukannya dengan cara mudah, itu baik-baik saja, dan jika harus dengan cara sulit, itu juga baik-baik saja,” kata Trump, dikutip dari BBC.

Di sisi lain, Maduro mengunggah video berkeliling Caracas sambil menunjukkan hiasan Natal untuk memperlihatkan bahwa aktivitas warga tetap berlangsung seperti biasa meski suasana politik memanas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

MUI Sampaikan Dukacita atas Bencana Aceh-Sumatra, Ajak Umat Islam Kuatkan Doa

29 Nov 2025, 10:12 WIBNews