Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wamenlu Havas Ungkap Kekuatan Indonesia di Tengah Geopolitik Dunia

Wamenlu Havas Ungkap Kekuatan Indonesia di Tengah Geopolitik Dunia
Wamenlu Arif Havas Oegroseno dalam kuliah tamu ‘Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar’ di Universitas Indonesia. (Dok. FISIP UI)
Intinya Sih
  • Wamenlu Arif Havas menegaskan Indonesia bukan pemain baru dalam geopolitik global, dengan pengalaman sejak Konferensi Asia Afrika 1955 menjadi bekal menghadapi rivalitas kekuatan besar dunia.
  • Havas menyebut Indonesia kini lebih siap menghadapi tantangan global berkat kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, dukungan akademisi, serta ketahanan sosial yang terbukti dari berbagai krisis nasional.
  • Kuliah tamu di FISIP UI menyoroti pentingnya peran ASEAN dan posisi strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China yang kian memengaruhi Asia Timur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno mengungkapkan Indonesia bukan negara baru dalam menghadapi kompleksitas geopolitik internasional. Menurutnya, rivalitas geopolitik Asia Timur yang semakin dipengaruhi rivalitas kekuatan besar.

Dalam kuliah tamu yang digelar Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Senin (25/5/2026), bertajuk ‘Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar’ Wamenlu Havas memperluas pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan geopolitik Asia Timur dan dampaknya terhadap ASEAN serta posisi Indonesia di tengah persaingan global.

Menurutnya, pengalaman sejarah sejak era Perang Dingin menjadi bekal penting bagi Indonesia dalam menghadapi situasi global saat ini. Ia mengingatkan sejak Konferensi Asia Afrika 1955, Indonesia telah berada di tengah pertarungan kepentingan negara-negara besar.

Saat itu, dunia sedang terbelah oleh rivalitas ideologi Barat dan Timur yang memengaruhi hubungan internasional.

“Pada 1955, ketika dunia berada dalam situasi Perang Dingin, Indonesia sudah harus berhadapan dengan pertarungan kepentingan negara-negara besar, konflik ideologi Barat dan Timur, hingga dinamika geopolitik global yang rumit,” ujar Havas.

Menurutnya, tantangan geopolitik yang dihadapi saat ini memang berbeda, tetapi Indonesia dinilai memiliki kesiapan yang lebih baik dibanding masa lalu.

1. Rivalitas AS-China bisa pengaruhi ASEAN

IMG_7079.jpeg
Dosen mata kuliah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Edy Prasetyono, Ph.D membuka kuliah umum bersama Wamenlu Arif Havas Oegroseno bertajuk ‘Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar’ di Universitas Indonesia. (Dok. FISIP UI)

Dosen mata kuliah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Edy Prasetyono, Ph.D., menjelaskan kuliah tamu tersebut berkaitan erat dengan pembahasan posisi ASEAN dalam dinamika global.

Menurut Edy, mata kuliah ASEAN tidak hanya membahas organisasi kawasan Asia Tenggara sebagai institusi regional, tetapi juga mengkaji secara kritis posisi ASEAN dalam percaturan kekuatan dunia.

Ia menilai perkembangan geopolitik Asia Timur memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara. Dalam dua dekade terakhir, rivalitas Amerika Serikat dan China menjadi faktor dominan yang memengaruhi politik, keamanan, teknologi, hingga ekonomi kawasan.

“Dinamika geopolitik Asia Timur secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi stabilitas dan arsitektur kawasan Asia Tenggara,” kata Edy dalam sambutannya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga memengaruhi ASEAN yang selama ini mengedepankan prinsip sentralitas, dialog, dan netralitas dalam hubungan internasional.

Keterkaitan antara ASEAN dan Asia Timur, lanjut Edy, terlihat melalui berbagai mekanisme kerja sama regional seperti ASEAN Plus Three, East Asia Summit, dan ASEAN Regional Forum.

2. Indonesia punya modal hadapi tantangan global

IMG_7078.jpeg
Wamenlu Arif Havas Oegroseno dalam kuliah tamu ‘Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar’ di Universitas Indonesia. (Dok. FISIP UI)

Dalam kuliah tamu tersebut, Havas menilai Indonesia saat ini memiliki kapasitas yang jauh lebih kuat untuk menghadapi dinamika geopolitik dunia dibandingkan beberapa dekade lalu. Ia menyebut perkembangan ekonomi, teknologi, dan dukungan dari kalangan akademisi menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Hari ini, Indonesia justru jauh lebih siap. Kita memiliki sumber daya yang lebih kuat, kapasitas ekonomi yang lebih baik, teknologi yang berkembang, serta dukungan akademisi dan para ahli yang membantu pemerintah memikirkan berbagai persoalan global secara lebih matang,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi dan diplomasi, Havas menilai kekuatan terbesar Indonesia terletak pada daya tahan sosial masyarakatnya. Ia menyinggung pengalaman Indonesia menghadapi krisis ekonomi 1998 dan berbagai konflik sosial sebagai bukti ketahanan bangsa.

“Saya percaya kekuatan terbesar Indonesia terletak pada resiliensinya. Kita pernah menghadapi krisis ekonomi 1998, konflik sosial di berbagai daerah, dan beragam tantangan kebangsaan, tetapi Indonesia tetap berdiri,” tutur Havas.

Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai krisis membuat Indonesia memiliki kemampuan untuk bertahan sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan situasi global.

3. Posisi ASEAN di tengah rivalitas kekuatan besar dunia

IMG_7077.jpeg
Wamenlu Arif Havas Oegroseno dalam kuliah tamu ‘Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar’ di Universitas Indonesia. (Dok. FISIP UI)

Kuliah tamu tersebut juga menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami posisi ASEAN di tengah rivalitas kekuatan besar dunia. Persaingan geopolitik di Asia Timur dinilai akan terus memengaruhi arah kebijakan kawasan, termasuk bagi Indonesia.

Mahasiswa diajak melihat bagaimana ASEAN berupaya mempertahankan sentralitasnya di tengah meningkatnya kompetisi negara-negara besar. Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peran penting sebagai salah satu negara utama di Asia Tenggara.

Selain membahas tantangan geopolitik, kegiatan itu juga menyoroti pentingnya diplomasi dan kerja sama regional dalam menjaga stabilitas kawasan.

Melalui forum tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai strategi Indonesia dalam menghadapi rivalitas global sekaligus mempertahankan peran ASEAN dalam arsitektur geopolitik dunia.

Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More