Tekan Angka Kriminalitas, Thailand Pangkas Masa Bebas Visa Turis

- Pemerintah Thailand memangkas masa bebas visa bagi turis dari lebih 90 negara untuk menekan meningkatnya kasus kriminal yang melibatkan warga asing.
- Kebijakan baru ini menggantikan aturan sebelumnya yang memperpanjang masa tinggal hingga 60 hari, kini sebagian besar turis hanya diizinkan tinggal 30 atau 15 hari.
- Langkah tersebut mencerminkan upaya Thailand menyeimbangkan pemulihan sektor pariwisata dengan peningkatan keamanan nasional akibat maraknya kejahatan lintas negara.
Jakarta, IDN Times - Thailand akan memangkas masa tinggal bebas visa bagi wisatawan asing dari lebih dari 90 negara. Langkah ini sebagai bagian dari upaya pemerintah menekan meningkatnya kasus kriminal yang melibatkan warga negara asing.
Keputusan tersebut diumumkan setelah pemerintah Thailand menyoroti sejumlah kasus besar yang melibatkan turis asing, mulai dari perdagangan narkoba, perdagangan seks, hingga operasional bisnis ilegal seperti hotel dan sekolah tanpa izin resmi.
Selama ini, wisatawan dari lebih dari 90 negara, termasuk kawasan Schengen Eropa, Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Amerika Selatan, dapat tinggal di Thailand hingga 60 hari tanpa visa. Namun pemerintah Thailand kini memutuskan untuk mengurangi durasi bebas visa tersebut.
Menteri Pariwisata Thailand Surasak Phancharoenworakul mengatakan, kebijakan baru itu telah disetujui kabinet Thailand.
“Durasi bebas visa yang baru akan ditentukan berdasarkan masing-masing negara, dengan sebagian besar warga asing diberikan izin tinggal hingga 30 hari, sementara sebagian lainnya hanya 15 hari,” kata Surasak kepada wartawan di Bangkok, dilansir dari Bernama, Rabu (20/5/2026).
Langkah ini diambil ketika sektor pariwisata Thailand masih berupaya pulih sepenuhnya setelah pandemik COVID-19, sementara pemerintah juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya kejahatan lintas negara.
1. Pemerintah soroti penyalahgunaan skema bebas visa

Pemerintah Thailand menegaskan, kebijakan baru ini bukan ditujukan kepada negara tertentu, melainkan kepada individu yang memanfaatkan fasilitas bebas visa untuk melakukan tindak kriminal.
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan, pengurangan masa bebas visa merupakan bagian dari langkah penindakan terhadap kejahatan transnasional.
“Thailand tidak menargetkan negara tertentu, tetapi individu yang menyalahgunakan sistem visa dengan melakukan kejahatan di negara ini,” kata Sihasak pekan lalu.
Dalam beberapa waktu terakhir, aparat Thailand menangani sejumlah kasus yang melibatkan warga asing, termasuk kejahatan narkoba, perdagangan manusia, hingga bisnis ilegal yang dijalankan tanpa izin resmi.
Juru bicara pemerintah Thailand Rachada Dhanadirek mengatakan, pemerintah tetap mengakui kontribusi wisatawan asing terhadap ekonomi negara.
“Wisatawan memberikan manfaat, seperti mendorong ekonomi, tetapi skema saat ini memungkinkan sebagian orang untuk menyalahgunakannya,” ujar Rachada.
2. Masa bebas visa pernah diperpanjang untuk dongkrak wisata

Sebelumnya, Thailand memperpanjang masa tinggal bebas visa dari 30 hari menjadi 60 hari pada Juli 2024. Kebijakan itu diambil untuk meningkatkan jumlah wisatawan dan mempercepat pemulihan ekonomi pascapandemi.
Pariwisata merupakan salah satu sektor utama ekonomi Thailand dengan kontribusi lebih dari 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Namun meski sektor wisata mulai pulih, jumlah kunjungan turis asing masih belum kembali ke tingkat sebelum pandemik COVID-19.
Data Kementerian Pariwisata Thailand menunjukkan jumlah wisatawan asing turun sekitar 3,4 persen pada kuartal I tahun ini dibanding periode yang sama 2025. Penurunan juga terlihat dari wisatawan asal Timur Tengah yang turun hampir sepertiga dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian, pemerintah Thailand tetap menargetkan sekitar 33,5 juta wisatawan asing berkunjung sepanjang tahun ini, naik tipis dibanding hampir 33 juta wisatawan pada tahun lalu.
3. Thailand cari keseimbangan antara wisata dan keamanan

Kebijakan pemangkasan bebas visa menunjukkan upaya Thailand mencari keseimbangan antara menjaga sektor pariwisata dan memperketat keamanan dalam negeri. Pemerintah menghadapi tantangan karena di satu sisi wisatawan asing menjadi sumber pemasukan besar bagi ekonomi, namun di sisi lain muncul kekhawatiran terhadap penyalahgunaan fasilitas visa.
Kasus kriminal yang melibatkan warga asing dalam beberapa bulan terakhir juga mendapat sorotan luas di media lokal Thailand. Pemerintah berharap perubahan aturan bebas visa dapat mengurangi penyalahgunaan izin tinggal tanpa menghambat arus wisatawan yang datang secara legal.
Hingga kini, pemerintah Thailand belum mengumumkan secara rinci daftar negara yang akan mendapatkan masa tinggal 30 hari maupun 15 hari dalam skema baru tersebut.














