Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Yaman Memanas: Koalisi Saudi Lancarkan Serangan, 4 Orang Tewas

Hadramaut, Yaman
Hadramaut, Yaman (Moataz Kaity, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Serangan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman Selatan menewaskan 4 warga sipil dan melukai 6 orang lainnya.
  • Aidarous al-Zubaidi, pemimpin STC, gagal memenuhi perintah untuk terbang ke Arab Saudi dalam waktu 48 jam.
  • STC yang didukung Uni Emirat Arab terus memperluas pengaruhnya di wilayah selatan Yaman, meningkatkan ketegangan politik dan militer di negara tersebut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya empat warga sipil tewas dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di selatan Yaman, di tengah memanasnya ketegangan politik dan militer antara pemerintah dan kelompok separatis Southern Transitional Council (STC). Serangan tersebut terjadi setelah pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, dituding gagal memenuhi perintah untuk terbang ke Arab Saudi guna menghadiri pertemuan penting dengan pimpinan pemerintahan Yaman dan koalisi.

Dua sumber medis menyebutkan bahwa serangan yang menghantam Provinsi Al-Dhale itu juga menyebabkan sedikitnya enam orang luka-luka. Koalisi Saudi menyatakan serangan tersebut merupakan langkah pencegahan untuk menggagalkan eskalasi konflik di wilayah selatan Yaman.

Situasi ini menambah kompleksitas konflik Yaman, yang selama ini tidak hanya melibatkan perang melawan kelompok Houthi di utara, tetapi juga rivalitas politik dan militer di wilayah selatan negara itu.

1. Serangan koalisi dan korban sipil

Ilustrasi bendera Yaman (twitter.com/@incontextmedia)
Ilustrasi bendera Yaman (twitter.com/@incontextmedia)

Sumber medis dari Rumah Sakit Al-Nasr dan Al-Tadamon di Al-Dhale mengatakan korban tewas akibat serangan tersebut mencapai empat orang.

“Jumlah korban sementara dari serangan di Provinsi Al-Dhale adalah empat warga sipil tewas dan enam orang terluka,” ujar pihak rumah sakit, dilansir dari TRT World, Rabu (7/1/2026).

Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi serangan udara itu dilakukan pada Rabu dini hari sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengatakan, serangan bersifat terbatas dan preemptive untuk mencegah meluasnya konflik.

“Setelah berkoordinasi dengan pemerintah sah dan Pasukan National Shield, Pasukan Koalisi melakukan serangan pencegahan terbatas untuk melumpuhkan kekuatan tersebut dan menggagalkan apa yang ingin dicapai Aidarous al-Zubaidi, yaitu eskalasi konflik dan penyebarannya ke Provinsi Al-Dhale,” kata al-Malki dalam pernyataan resmi.

2. Gagalnya Al-Zubaidi terbang ke Arab Saudi

Ilustrasi bendera Arab Saudi (unsplash.com/aboodi vesakaran)
Ilustrasi bendera Arab Saudi (unsplash.com/aboodi vesakaran)

Menurut koalisi, pada Minggu lalu, Aidarous al-Zubaidi diperintahkan melakukan perjalanan ke Arab Saudi dalam waktu 48 jam. Ia dijadwalkan bertemu Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, serta pejabat koalisi untuk membahas serangan pasukan afiliasi STC di Hadhramaut dan Al-Mahrah.

Al-Zubaidi sempat menyatakan kesediaannya menghadiri pembicaraan pada Selasa, namun dilaporkan gagal menaiki pesawat Yemenia Airways dari Aden setelah penerbangan itu mengalami penundaan selama beberapa jam.

“Dalam periode tersebut, pemerintah sah dan koalisi memperoleh informasi bahwa Aidarous al-Zubaidi telah memobilisasi kekuatan militer besar, termasuk kendaraan lapis baja dan tempur, senjata berat dan ringan, serta amunisi,” ujar al-Malki.

3. STC perluas kendali di Yaman Selatan

ilustrasi Yaman (unsplash.com/asamw)
ilustrasi Yaman (unsplash.com/asamw)

STC yang didukung Uni Emirat Arab dalam beberapa pekan terakhir terus memperluas pengaruhnya di wilayah selatan Yaman. Kelompok ini berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang pernah berdiri sebelum penyatuan Yaman pada 1990.

Ketegangan meningkat setelah STC mengambil alih kendali atas Provinsi Hadhramaut dan Al-Mahrah pada Desember lalu, menyusul bentrokan dengan pasukan pemerintah. Pemerintahan Yaman saat ini dijalankan oleh Dewan Kepemimpinan Presiden yang terdiri dari berbagai faksi, termasuk unsur STC, dan terutama dipersatukan oleh penentangan terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran.

Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak 2014, ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah keluar dari wilayah tersebut. Selain perang melawan Houthi, rivalitas antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait masa depan wilayah selatan Yaman juga kerap memicu ketegangan dan kekerasan sporadis di lapangan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Golkar Ungkap Wacana Pilkada Lewat DPRD Berbeda dengan Zaman Orde Baru

08 Jan 2026, 21:48 WIBNews