Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Zohran Mamdani Cetak Sejarah di New York, Dilantik dengan Alquran

Wali Kota New York Terpilih, Zohran Mamdani
Wali Kota New York Terpilih, Zohran Mamdani (Karamccurdy, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Prosesi pelantikan dilakukan di stasiun bawah tanah dengan menggunakan Al Quran dari keluarga Mamdani.
  • Al Quran yang digunakan berasal dari koleksi Schomburg Center for Research in Black Culture dan memiliki nilai sejarah khusus.
  • Mamdani dikenal terbuka mengenai identitas keagamaannya, meski keputusan penggunaan Al Quran dalam sumpah jabatan menuai kritik dari kalangan konservatif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Zohran Mamdani akan mencatat sejarah baru di New York City, ketika resmi dilantik sebagai wali kota dengan menggunakan Alquran dalam pengambilan sumpah jabatan. Prosesi pelantikan dijadwalkan berlangsung sesaat setelah tengah malam pada Kamis (1/1/2026) di sebuah stasiun kereta bawah tanah dekat Balai Kota New York.

Pelantikan ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya seorang wali kota New York menggunakan kitab suci Islam dalam sumpah jabatan. Meski konstitusi Amerika Serikat tidak mewajibkan penggunaan kitab agama apa pun, tradisi selama ini lebih sering menampilkan Alkitab dalam pelantikan pejabat publik.

Mamdani, politikus Partai Demokrat 34 tahun, juga akan menorehkan sejumlah rekor personal. Dia akan menjadi wali kota muslim pertama, keturunan Asia Selatan pertama, serta individu kelahiran Afrika pertama yang memimpin kota terbesar di Amerika Serikat tersebut.

Momen ini dinilai mencerminkan realitas sosial New York yang multikultural, termasuk keberadaan komunitas muslim sebagai bagian penting dari kehidupan kota. Pelantikan Mamdani tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membawa makna simbolik kuat bagi sebagian warga New York.

1. Prosesi pelantikan menggunakan Alquran

abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg
ilustrasi Al Quran (unsplash.com/abdullah faraz)

Dalam prosesi pelantikan yang digelar di stasiun bawah tanah, Mamdani akan meletakkan tangannya di atas dua Alquran yang berasal dari keluarga dekatnya. Kedua kitab tersebut masing-masing dimiliki oleh kakek dan nenek Mamdani.

Selain upacara tersebut, Mamdani juga dijadwalkan mengikuti prosesi pelantikan lanjutan di Balai Kota New York pada hari pertama tahun baru. Dalam kesempatan itu, dia akan menggunakan Alquran ketiga yang memiliki nilai sejarah khusus.

Alquran ketiga tersebut merupakan manuskrip saku yang berasal dari akhir abad 18 atau awal abad 19. Manuskrip ini menjadi bagian dari koleksi Schomburg Center for Research in Black Culture yang berada di bawah naungan New York Public Library.

Kitab tersebut sebelumnya dimiliki oleh Arturo Schomburg, seorang sejarawan keturunan Puerto Rico dan Afrika yang dikenal luas karena kontribusinya dalam mendokumentasikan sejarah dan budaya masyarakat kulit hitam di berbagai belahan dunia.

2. Alquran bersejarah koleksi Schomburg

Ilustrasi Al Quran (unsplash.com/s/photos/alquran)
Ilustrasi Al Quran (unsplash.com/s/photos/alquran)

Alquran yang digunakan Mamdani dari koleksi Schomburg memiliki tampilan yang sederhana. Tidak seperti manuskrip keagamaan yang dibuat untuk kalangan elite, kitab ini dirancang untuk penggunaan sehari-hari.

Manuskrip tersebut memiliki sampul berwarna merah tua dengan hiasan floral sederhana. Teksnya ditulis menggunakan tinta hitam dan merah, dengan gaya tulisan jelas dan mudah dibaca.

Karena manuskrip ini tidak memiliki tanggal pembuatan maupun tanda tangan penyalin, para ahli memperkirakan usianya berdasarkan bentuk jilidan dan gaya penulisan. Dari analisis tersebut, manuskrip ini diperkirakan berasal dari era Ottoman, seperti dikutip dari TRT World.

Wilayah asal manuskrip diperkirakan mencakup kawasan yang kini meliputi Suriah, Lebanon, Palestina, dan Yordania. Para akademisi meyakini kitab ini mencerminkan hubungan historis antara Islam, Afrika, dan komunitas kulit hitam di Amerika Serikat.

3. Identitas politik New York

ilustrasi New York, Amerika Serikat (pexels.com/Nout Gons)
ilustrasi New York, Amerika Serikat (pexels.com/Nout Gons)

Selama masa kampanye, Mamdani dikenal terbuka mengenai identitas keagamaannya. Dia kerap mengunjungi masjid-masjid New York dan membangun dukungan di kalangan pemilih muslim serta komunitas Asia Selatan.

Meski fokus utama kampanyenya adalah isu keterjangkauan biaya hidup, Mamdani tidak menghindari pembahasan soal keyakinannya. Dalam pidato emosional beberapa hari sebelum pemilihan, dia menegaskan tidak akan menyembunyikan identitasnya. Mamdani menegaskan ingin berada dalam kemasan apa adanya, ketimbang memaksakan berada di balik bayang-bayang.

"Saya tidak akan mengubah siapa diri ini, apa yang saya makan, atau keyakinan yang dengan bangga saya anut," ujar Mamdani dalam pidato tersebut.

Namun, keputusan menggunakan Alquran dalam sumpah jabatan juga memicu kritik dari sejumlah kalangan konservatif. Senator AS dari Alabama, Tommy Tuberville, menanggapi kabar tersebut dengan pernyataan kontroversial di media sosial.

Council on American-Islamic Relations menilai pernyataan tersebut sejalan dengan rekam jejak Tuberville yang kerap melontarkan komentar anti-Muslim. Meski demikian, secara hukum, tidak ada aturan yang mewajibkan pejabat publik menggunakan kitab suci tertentu dalam pengambilan sumpah jabatan.

Usai pelantikan, Alquran bersejarah yang digunakan Mamdani akan dipamerkan untuk publik di New York Public Library, memungkinkan masyarakat luas melihat langsung salah satu simbol penting dalam momen bersejarah tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in News

See More

Prabowo Ungkap Alasan Banjir Sumatra Tak Perlu Status Bencana Nasional

01 Jan 2026, 15:11 WIBNews