Krisis Ojek Online Ramai Dikeluhkan Warganet, Ada Apa?

- Warganet ramai mengeluhkan sulitnya mendapatkan layanan ojek online untuk makanan, barang, dan penumpang, setelah unggahan viral tentang pesanan GoFood yang dibatalkan karena tak ada driver tersedia.
- Banyak mitra ojol disebut enggan mengambil order karena argo kecil dan potongan aplikasi tinggi, sementara tarif bagi pengguna justru melonjak tajam di beberapa waktu tertentu.
- Krisis ini turut dirasakan mahasiswa seperti Jahra yang kesulitan mendapat driver di jam sibuk, dengan tarif perjalanan meningkat hingga dua kali lipat di area tertentu.
Jakarta, IDN Times - Diskursus mengenai krisis ojek online (ojol) tengah ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di platform X dan Threads. Keluhan demi keluhan bermunculan dari warganet yang mengaku kesulitan mendapatkan layanan ojek online, baik untuk pengantaran makanan, barang, hingga transportasi orang.
Perbincangan ini memanas setelah akun @txtfrombr*** mengunggah tangkapan layar yang memperlihatkan pesanan GoFood-nya dibatalkan setelah menunggu lebih dari dua jam.
"Dua setengah jam dibatalin gitu aja karena gak ada driver yang mau ambil. Real krisis ojol ini," tulisnya dalam postingan yang diunggah pada Senin, 9 Maret 2026 dan telah dilihat lebih dari 2,9 juta kali.
Cuitan tersebut kemudian memicu diskursus baru, di mana sejumlah akun yang merasakan hal serupa ikut mengomentari, termasuk akun @keluhkes******* yang menyebutkan adanya aksi mogok mitra ojol karena protes potongan aplikasi yang dinilai tidak jelas, ditambah faktor mendekati Lebaran yang membuat banyak driver menghemat uang untuk belanja.
1. Layanan pengantaran barang juga terdampak, driver sebut argo kecil

Tidak hanya layanan antar makanan, warganet juga mengeluhkan hal serupa pada layanan pengantaran barang.
Akun X @skruw***** menuliskan kebingungannya karena layanan same day yang dipesannya dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore tidak kunjung ada mitra ojol yang mengambil.
“Sumpah, tadi pesen same day, dari jam 9 sampai jam 3 sore enggak ada yang pick up sama sekali kenapa sekarang sesusah itu ya?” tulisnya.
Cuitan tersebut kemudian dibalas oleh akun @hardest_***** yang memberikan sudut pandang dari sisi driver. Menurutnya, banyak mitra ojol menghindari layanan pengantaran barang, terutama opsi same day, karena argonya yang kecil.
“Karna argo nya kecil banget dengan jarak tempuh yang jauh dan juga pickup barang bisa maksimal 10,” jelasnya.
2. Layanan pengantaran orang juga mengalami hal yang serupa, potongan dinilai terlalu tinggi

Sementara, layanan pengantaran orang juga mengalami kendala serupa. Sejumlah warganet mengeluhkan sulitnya mencari driver ojek online untuk mengantar ke tempat tujuan. Tak hanya soal ketersediaan driver, lonjakan argo yang drastis juga menjadi pertanyaan di kalangan pengguna.
Akun X @lyra******** mengungkapkan keterkejutannya melihat tarif ojek online mencapai Rp50 ribu di pagi hari, padahal biasanya ia hanya membayar Rp25–26 ribu untuk rute yang sama.
“Tadi pagi banget, kaget argonya segini padahal cerah ceria langitnyaa dan enggak macet, biasanya 25-26rb (standar),” tulisnya sambil mengunggah bukti tangkapan layar tarif tersebut.
Lebih lanjut, seorang mitra ojol dengan akun @fitrah****** mengaku sudah tidak lagi mengambil order penumpang karena argo yang didapat dinilai terlalu murah. Ia menjelaskan tarif tersebut bahkan hanya cukup menutup biaya bensin, apalagi karena sudah tidak ada insentif.
“Terlalu murah, nutup buat bensin aja jadinya, enggak ada yang harus dikejar juga (karena udah enggak ada insentif). Jadi lebih baik bawa paket yang jauh sekalian ketauan harganya. Kalau capek abis orderan jauh nih, tinggal tambahin main food aja deket-deket nganternya. 1 jam bisa dapet 5 orderan juga udh ketahuan tuh bisa rata-rata dapat Rp50 ribu,” paparnya.
3. Cerita mahasiswi juga terdampak krisis ojol

Kondisi ini juga dirasakan oleh kalangan mahasiswa. Jahra (21), mahasiswi UIN Jakarta, mengaku kerap kesulitan mendapatkan ojek online saat berada di Stasiun MRT Lebak Bulus menuju kampusnya di Ciputat.
Meski ia mengaku memiliki semua aplikasi, Jahra lebih sering menggunakan Grab karena dirasa paling pas di kantong untuk kebutuhan sehari-hari seperti memesan Grabfood, mengisi e-money, atau membeli kuota data.
Ia menjelaskan pada rentang pukul 16.00 hingga 23.00 WIB, sangat jarang ditemukan driver yang siap di sekitar rute tersebut.
Menurutnya, hal itu mungkin disebabkan kemacetan panjang yang kerap terjadi di jalur yang ia lalui. Ia juga menyoroti lonjakan tarif yang bisa mencapai dua kali lipat di jam-jam tersebut.
“Oh iya sekarang kalau di jam tersebut naiknya dua kali lipat,” ungkapnya kepada IDN Times, Kamis (12/3/2026).
Saat ditanya mengenai penyebab pasti krisis ini, Jahra mengaku tidak mengetahui secara detail.


















