5 Spesies Leitotrichidae yang Dilindungi di Indonesia, Sangat Terancam

Leiothrichidae merupakan famili burung berukuran kecil yang umumnya bisa ditemukan di wilayah tropis seperti Indonesia. Dahulu, famili ini dapat ditemukan dengan mudah di berbagai daerah, mulai dari Pulau Sumatra sampai Jawa. Sayangnya, kerusakan habitat dan aktivitas manusia terus mengancam Leiothrichidae. Oleh karena itu beberapa spesies dinyatakan sebagai hewan terancam punah dan dilindungi.
Lebih lanjut, di Indonesia sendiri terdapat lima spesies Leiothrichidae yang dilindungi. Mereka adalah poksai sumatra, poksai kuda, poksai jambul, mesia telinga perak, dan cica matahari. Peraturan tentang hewan dilindungi sendiri tertuang dalam Permen LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.
Nah, supaya populasi kelima burung tersebut terus terjaga maka kita akan membahas tentang mereka secara mendalam di artikel ini.
1. Poksai sumatra

Dilansir GBIF, burung dengan nama ilmiah Garrulax bicolor ini masuk ke kategori endangered atau terancam. Artinya, ia punya risiko kepunahan yang tinggi dan jika tidak dilakukan upaya konservasi serius maka burung ini bisa punah dalam waktu dekat. Penyebarannya juga sempit karena hanya bisa ditemukan di hutan dataran tinggi Pulau Sumatra. Sayangnya, kerusakan habitat dan perburuan liar sangat mengancam populasinya.
Padahal burung ini punya perpaduan warna hitam dan putih yang sangat cantik dan serasi, lho. Jadi, jika ia punah, generasi mendatang tak akan tahu tentang kecantikan spesies ini, Oleh karena itu, kamu tak boleh membunuh, memburu, memperdagangkan, atau merusak habitatnya. Saat ini juga tak banyak yang diketahui tentangnya, alhasil penelitian mendalam harus segera dilakukan.
2. Poksai jambul

Garrulax leucolophus atau poksai jambul memang berkerabat dan sangat mirip dengan poksai sumatra. Namun kamu bisa membedakan keduanya dari ciri fisik. Pertama, poksai jambul punya perpaduan cokelat dan putih sementara poksai sumatra punya perpaduan hitam dan putih. Seperti namanya, poksai jambul juga punya jambul di bagian kepalanya.
Secara umum hewan ini tidak terancam punah, namun populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan perburuan liar. Alhasil, ia masuk ke daftar hewan dilindungi supaya populasinya terus stabil. Lebih lanjut, poksai jambul umumnya ditemukan di dataran tinggi dengan ketinggian 1600 mdpl, jelas Thai National Parks. Burung ini juga termasuk omnivor dan bisa memakan serangga, biji-bijian, nektar, reptil, amfibi, sampai buah-buahan. Selain itu ia adalah spesies sosial dan mampu menggunakan kicauan untuk berkomunikasi.
3. Poksai kuda

Dilansir AviBase, Leiothrix argentauris atau poksai kuda adalah hewan endemik Pulau Jawa. Ia termasuk burung dataran tinggi dan biasanya ditemukan di ketinggian 900 sampai 2400 meter di atas permukaan laut. Hewan ini adalah burung berukuran sedang dengan panjang maksimal sekirar 27 centimeter. Tubuhnya ramping, memanjang, dan berwarna cokelat. Dengan tubuh kecilnya poksai kuda bisa terbang dengan lebih fleksibel dan cepat. Warna cokelat juga membantunya berkamuflase di bebatuan dan pepohonan.
Sebenarnya pada tahun 2012 burung ini masuk ke kategori near threatened atau hampir terancam. Namun pada tahun 2016 statusnya naik menjadi critically endangered atau sangat terancam. Tentunya hal ini bukan pertanda baik dan menunjukan kalau penurunan populasinya sangat signifikan. Tercatat, ada beberapa hal yang membuat populasi poksai kuda menurun, yaitu kerusakan habitat, aktivitas manusia, dan perburuan liar.
4. Cica matahari

Sama seperti poksai kuda, cica matahari atau Laniellus albonotatus adalah satwa endemik Pulau Jawa dan umumnya ditemukan di wilayah Jawa Barat, terang Animalia. Saat ini ia dimasukan ke kategori near threatened atau hampir terancam yang mana hal ini sangat mengkhawatirkan. Habitatnya sendiri mencakup hutan hujan tropis dan hutan pegunungan. Sayangnya, saat ini poksai kuda sangat sulit ditemukan dan ia terancam oleh kerusakan habitat yang semakin hari semakin menjadi.
5. Mesia telinga perak

Saat ini, Leiothrix laurinae atau mesia telinga perak masuk ke kategori endangered atau terancam, jelas IUCN Red List. Populasinya juga menurun secara drastis dan hal tersebut diakibatkan oleh perburuan liar yang membabi buta. Tak cuma itu, penyebaran yang sempit juga turut andil dalam menyumbang penurunan populasi hewan ini. Lebih lanjut, ia hanya bisa ditemukan di Pulau Sumatra bagian utara, khususnya di Sumatra Utara dan Aceh.
Dengan perpaduan warna putih, hitam, jingga, kuning, dan merah burung ini terlihat sangat cantik. Umumnya ia bisa ditemukan di hutan dan pepohonan. Di sana, mesia telinga perak sering terlihat mencari makanan yang berupa buah-buahan dan serangga kecil. Saat mencari serangga burung ini lebih suka berjalan di atas tanah. Namun terkadang ia juga terlihat bertengger di batang kayu, ranting, atau dahan pohon.
Mungkin pamor Leitotrichidae memang tidak setenar burung lain. Tapi walau begitu bukan berarti kita harus memandang sebelah mata burung ini. Sebaliknya, kita harus terus menjaga, melestarikan, dan melindungi eksistensinya. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka burung-burung dari famili Leitotrichidae yang ada di Indonesia bisa punah dalam waktu dekat. Nah, kamu tak boleh memburu, membunuh, menangkap, atau memperdagangkan mereka.













![[QUIZ] Dari Jenis Aurora Favoritmu, Ini Cara Kamu Menunjukkan Emosi](https://image.idntimes.com/post/20250226/screenshot-2025-02-26-225905-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-ce5bd73426c2211a00e3d6df9e27afe1.png)





