5 Teknologi yang Kurang Populer di Indonesia, Ada Alternatifnya

- Beberapa teknologi seperti jaringan 5G, NFC, eSIM, kabel listrik tanam, dan kereta cepat masih kurang populer serta belum merata penggunaannya di Indonesia.
- Keterbatasan infrastruktur, biaya tinggi, dan rendahnya pemahaman masyarakat menjadi faktor utama lambatnya adopsi berbagai teknologi tersebut.
- Pemerataan dan percepatan penerapan teknologi dinilai penting agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain dalam era digital yang terus berkembang.
Setiap tahunnya, perkembangan teknologi makin pesat. Perkembangan teknologi juga mengubah cara manusia hidup dan melakukan berbagai hal. Sayangnya, perkembangan teknologi tidak selalu merata. Salah satunya di Indonesia, di mana ada beberapa teknologi yang kurang populer dan tidak digunakan secara luas.
Hal tersebut membuat Indonesia sedikit tertinggal dari negara lain. Misal pun ada teknologi canggih, penggunakannya hanya terbatas di kota besar atau daerah yang maju. Hal tersebut tak bisa dibiarkan karena bisa memicu ketimpangan sosial. Di bawah ini adalah pembahasan mengenai beberapa teknologi yang kurang populer di Indonesia. Yuk, kita ulik bersama!
1. Jaringan 5G di Indonesia masih belum luas

Jaringan masa depan ini pertama kali dikenalkan pada 2013. Di Indonesia sendiri jaringan 5G baru masuk pada 2021. Namun, sudah bertahun-tahun berlalu, jaringan 5G masih belum merata dan kurang populer di Tanah Air. Merujuk pada data nPerf, jaringan 5G di Indonesia hanya tersedia di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Makassar, atau Denpasar.
Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand sudah memiliki cakupan 5G yang luas. Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga. Kecepatan 5G di Indonesia juga kurang maksimal. Aksebilitas yang sulit, keterbatasan infrastruktur, dan biaya pengembangan yang tinggi menjadi tantangan pemerintah untuk memperluas jaringan 5G.
2. NFC atau contactless payment kalah dari QRIS

NFC atau contactless payment merupakan metode pembayaran digital dengan cara menempelkan kartu atau perangkat ke mesin yang tersedia. Metodenya sangat mudah, cepat, dan efisien sehingga digunakan di banyak negara. Namun, metode pembayaran tersebut kurang populer di Indonesia dan masih kalah dengan QRIS.
Data dari KOMDIGI pada 2024 mengungkap fakta bahwa pembayaran QRIS di Indonesia melonjak hingga 226,54 persen. Hal tersebut merevolusioner sistem pembayaran digital di Tanah Air. Pada 2024 QRIS dipakai oleh 50,50 juta pengguna dan 31,71 juta merchant di seluruh Indonesia. Sementara itu, minat masyarakat terhadap NFC, contactless, atau tap payment tidak mengalami peningkatan. Untuk pembayaran dengan kartu, masyarakat lebih memilih menggunakan debit.
3. eSIM baru tersedia di beberapa perangkat

Peralihan dari SIM fisik menuju eSIM mulai digencarkan. Teknologi yang pertama kali muncul pada tahun 2010 tersebut bekerja dengan cara menyimpan data SIM seluler dalam bentuk digital. Hal tersebut memungkinkan kamu untuk memiliki SIM tanpa perlu memasukkan kartu fisik ke dalam perangkat.
Dilansir GoodStats, masyarakat Indonesia masih enggan menggunakan eSIM karena beberapa faktor, yakni tidak paham cara menggunakannya, tak percaya dengan teknologi baru, perangkatnya belum mendukung, dan sudah nyaman dengan SIM fisik. Perangkat yang mendukung SIM fisik juga masih terbatas. Samsung Galaxy S dan A series, iPhone, vivo X dan V series, serta Xiaomi T series merupakan beberapa smartphone yang mendukung eSIM.
4. Kabel listrik tanam mulai diaplikasikan di Indonesia

Kabel listrik konvensional yang dipasang di tiang masih sangat umum di Indonesia. Berbagai kota besar seperti Semarang, Surabaya, hingga Jakarta masih menggunakannya. Jika tidak dirawat, kabel listrik konvensional juga terlihat semrawut dan bisa bermasalah. Namun, di balik semua kekurangannya, Indonesia masih belum berpindah ke kabel listrik yang ditanam di bawah tanah yang lebih efisien dan aman.
Dilansir berbagai sumber, beberapa alasan Indonesia belum mengadopsi kabel tanam adalah biayanya yang mahal (mencapai Rp60 miliar), biaya perawatan tinggi, maintenance sulit, dan rawan rusak akibat banjir. Menariknya, beberapa tempat mulai mengadopsi kabel tanam, lho. Beberapa di antaranya adalah UGM Yogyakarta, Kota Bogor, IKN, dan beberapa daerah di Jakarta.
5. Kereta cepat tak berjalan optimal di Tanah Air

Transportasi berbasis kereta sudah sangat umum di Indonesia. Namun, Indonesia hanya memiliki satu kereta cepat, yaitu Whoosh yang melayani perjalanan dari Jakarta ke Bandung dengan kecepatan 350 kilometer. Di daerah lain seperti Jepang dan Eropa, kereta cepat justru sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Kereta cepat di Jepang sangat terkenal dan bernama Shinkansen. Di Eropa sendiri ada beberapa jenis kereta cepat yang menghubungkan banyak negara dan memiliki jalur yang kompleks. Dilansir eurail, beberapa kereta cepat di Eropa adalah Alfa Pendular, Avant High, Alvia High, AVE High, dan Eurostar. Kereta cepat di Eropa juga mendapat dukungan dari Uni Eropa sehingga implementasinya makin optimal.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Indonesia harus segera mengejar ketertinggalannya. Jika terus stagnan, maka Indonesia tak akan bisa bersaing dan akhirnya dikucilkan oleh dunia internasional. Kehidupan masyarakat juga akan terganggu dan negara bisa merugi. Semoga di masa depan semua teknologi yang kurang populer di Indonesia bisa dibenahi dan jadi makin umum.

















