Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Teknologi Bikin Orang Kurang atau Lebih Religius?

Apakah Teknologi Bikin Orang Kurang atau Lebih Religius?
ilustrasi ayat Al-Qur'an (unsplash.com/Bagas Rais R)
Intinya Sih
  • Teknologi mengubah cara orang beribadah dan belajar agama, membuat aktivitas religius jadi lebih praktis lewat aplikasi pengingat ibadah, konten digital, serta komunitas daring.
  • Akses ke konten keagamaan online memberi fleksibilitas belajar, tapi juga menuntut ketelitian memilih sumber agar pemahaman tetap akurat dan bermakna.
  • Media sosial dan platform digital membuka ruang baru untuk berbagi pengalaman religius, meski memunculkan perdebatan soal niat dan makna di balik tampilnya aktivitas spiritual di publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perkembangan teknologi pelan-pelan mengubah cara orang menjalani kehidupan religius, mulai dari cara belajar, beribadah, sampai membangun kebiasaan spiritual. Istilah religius kini tidak lagi selalu identik dengan hadir langsung di tempat ibadah atau mengikuti kegiatan komunitas secara tatap muka.

Banyak orang justru menemukan cara baru yang terasa lebih praktis, fleksibel, dan dekat dengan keseharian melalui perangkat digital yang selalu ada di tangan. Perubahan ini memunculkan perdebatan menarik: apakah teknologi bikin orang kurang atau lebih religius? Berikut beberapa penjelasannya.

1. Aplikasi digital membantu orang tetap ingat waktu ibadah

ilustrasi pengingat waktu ibadah
ilustrasi pengingat waktu ibadah (unsplash.com/Amanz)

Banyak orang sekarang tidak lagi mengandalkan jadwal tempel di dinding atau pengingat manual, karena ponsel sudah otomatis memberi notifikasi waktu ibadah setiap hari. Fitur seperti alarm azan, pengingat doa, sampai target membaca kitab suci membuat aktivitas religius terasa lebih mudah dilakukan di tengah rutinitas kerja, perjalanan, atau saat sedang berada di tempat umum. Bahkan, orang yang sebelumnya sering lupa waktu ibadah mengaku lebih terbantu karena pengingat muncul secara konsisten tanpa perlu diatur ulang.

Kemudahan ini juga mengubah kebiasaan lama yang dulu membutuhkan persiapan lebih banyak, seperti membawa buku doa atau mencatat jadwal sendiri. Sekarang cukup membuka aplikasi dalam hitungan detik. Semua kebutuhan sudah tersedia dalam satu layar. Perubahan kecil ini membuat praktik religius terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan lagi sesuatu yang hanya dilakukan pada waktu tertentu saja.

2. Konten keagamaan online membuat belajar agama lebih fleksibel

ilustrasi ayat Al-Qur'an
ilustrasi ayat Al-Qur'an (unsplash.com/MATAQ Darul Ulum)

Dulu seseorang perlu datang ke tempat kajian atau mencari buku secara langsung untuk memperdalam pengetahuan agama. Sekarang ceramah, diskusi, bahkan kelas agama bisa diakses lewat video, podcast, atau platform streaming kapan saja. Hal ini membuat proses belajar terasa lebih santai karena bisa disesuaikan dengan waktu luang, misalnya saat perjalanan atau sebelum tidur.

Namun, kemudahan ini juga menuntut kemampuan memilih sumber yang tepat. Tidak semua konten memiliki latar belakang yang jelas atau penjelasan yang utuh, sehingga orang perlu lebih teliti sebelum mempercayainya. Ketika dipilih dengan bijak, akses digital justru membuat pemahaman religius berkembang lebih luas dibandingkan dengan cara belajar yang terbatas pada tempat dan waktu.

3. Media sosial menjadi ruang baru menunjukkan aktivitas religius

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)

Sekarang cukup sering terlihat orang membagikan kutipan ayat, cerita pengalaman ibadah, atau momen mengikuti kegiatan keagamaan melalui media sosial. Bagi sebagian orang, unggahan seperti ini menjadi cara sederhana untuk saling mengingatkan sekaligus menjaga semangat menjalankan kebiasaan baik. Bahkan ada yang merasa lebih termotivasi ketika melihat orang lain melakukan hal serupa.

Di sisi lain, kebiasaan berbagi ini juga memunculkan perdebatan tentang niat dan makna. Ada yang menilai aktivitas religius seharusnya bersifat pribadi, bukan ditampilkan di ruang publik. Meski begitu, media sosial pada dasarnya hanya menjadi sarana, sedangkan tujuan dan cara memakainya tetap bergantung pada masing-masing orang.

4. Kesibukan membuat cara beribadah ikut berubah

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)

Teknologi membuat banyak aktivitas berjalan lebih cepat, sehingga orang cenderung menyesuaikan cara menjalankan ibadah agar tetap bisa dilakukan di tengah jadwal padat. Misalnya, mendengarkan ceramah saat perjalanan, membaca doa dari layar ponsel sebelum tidur, atau mengikuti kajian secara daring dari rumah. Cara seperti ini membuat ibadah tetap berjalan tanpa harus mengubah agenda utama.

Namun, ada juga kekhawatiran bahwa kemudahan tersebut membuat ibadah terasa seperti kegiatan sambil lalu. Ketika semuanya bisa dilakukan dengan cepat, sebagian orang merasa momen khusyuk menjadi berkurang. Karena itu, banyak yang mulai mencari cara menyeimbangkan penggunaan teknologi agar tetap membantu tanpa mengurangi makna.

5. Komunitas membuka cara baru berkumpul secara religius

ilustrasi teknologi
ilustrasi teknologi (unsplash.com/Fotos)

Grup pesan instan, forum online, atau komunitas digital kini sering menjadi tempat orang saling berbagi pengalaman ibadah. Mereka bisa bertanya, berdiskusi, hingga mengadakan kegiatan sosial bersama tanpa harus bertemu langsung. Cara ini terasa praktis, terutama bagi yang tinggal jauh dari komunitas keagamaan di lingkungan sekitar.

Menariknya, banyak orang justru memulai keterlibatan dari ruang digital sebelum akhirnya bergabung ke kegiatan langsung. Rasa nyaman berinteraksi secara online sering menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan diri. Hal ini menunjukkan teknologi tidak selalu membuat orang menjauh, tetapi juga bisa membuka jalan menuju keterlibatan yang lebih nyata.

Kalau dilihat dari berbagai sisi, pertanyaan mengenai apakah teknologi bikin orang kurang atau lebih religius, sebenarnya tidak otomatis membuat seseorang menjadi kurang maupun lebih religius. Semua kembali pada cara memanfaatkan dan tujuan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, di tengah kemudahan yang serba digital ini, sudah sejauh mana teknologi membantu menjaga kedekatan dengan nilai religius?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Tech

See More